Batik Riau, Hidup Segan Mati pun Enggan

20 Mai 2012 - 07.23 WIB > Dibaca 12141 kali | Komentar
 
Batik Riau, Hidup Segan Mati pun Enggan
Lastri sedang memberi warna pada sebuah kain katun untuk dijadikan batik di Galeri Semat Tembaga, Jalan Kuantan VII, Pekanbaru. (Foto: teguh prihatna/riau pos)
Batik merupakan salah satu tradisi dari produk kebudayaan Tanah Jawa yang hingga hari ini terus berkembang dengan pesat. Bahkan banyak pula daerah luar Jawa yang mengadopsinya, menciptakan batik dengan motif dan pola yang bervariasi, salah satunya Riau. Dikenallah batik ciptaan daerah ini dengan nama batik Riau yang dikembangkan secara baik oleh segelintir orang yang peduli pada batik.

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru

LASTRI dan Yuli tampak asyik dan tenggelam dalam aktivitas rutin yang mereka tekuni sejak dua tahun belakangan. Keduanya duduk di atas kursi plastik menghadap sehelai kain yang terbentang di depan mereka. Siang itu, Jumat (18/5) mereka larut bersama kuas dan pewarna untuk membuat batik khas Riau di galeri Semat Tembaga, tempat mereka mengais rezeki, sekadar menambah pendapatan keluarga.

Pemilik Semat Tembaga, Amrun Salmon yang juga salah seorang perupa senior Riau mengamati pekerjaan Lastri dan Yuli dengan seksama. Sesekali, ia memberi penjelasan tentang motif serta pola yang sedang dikerjakan kedua perempuan tersebut. Meski siang itu, cukup terik namun di dalam ruang tersebut terasa sejuk dan nyaman. Suasana terasa akrab saat Riau Pos berkunjung ke sana hingga sore harinya.

Setelah asyik mengamati aktivitas membatik, Riau Pos berbincang-bincang dengan Amrun Salmon, si pencipta Batik Riau yang telah mencipta empat motif seperti motif tabir, sosou, tabur dan gelombang. Perbincangan tidak sekadar soal penciptaan batik, tapi juga merembet pada tenun dan songket yang menjadi khas Melayu, sampai pula pada kendala yang dialami dalam upaya mengembangkan serta memasarkan batik.

Dituturkan Amrun, batik merupakan suatu pekerjaan memberi warna, motif dan ragi pada suatu bidang yang dibatasi dengan lilin. Karena batik merupakan sebuah teknik maka tidak menjadi soal jika dikembangkan dengan motif-motif, di luar motif yang biasa digunakan pengrajin batik di Jawa.

Batik Riau misalnya, memiliki warna, motif dan ragi yang merupakan salah satu upaya pengembangan batik di Nusantara dengan sentuhan Melayu. Penciptaan batik oleh Amrun dikembangkan dari tekat, bukan tenun yang sampai sekarang belum juga ada seorang pun mau modifikasinya.

Batik itu hanya sebuah teknik saja dan saya berusaha untuk memodifikasinya agar Riau juga punya batik sendiri. Selain motif, tekniknya juga saya bedakan dengan Jawa sebab sekarang ini, siapa cepat dia dapat. Artinya, apa-apa saja yang tidak dibuat dan dikerjakan orang Jawa, saya jadikan untuk batik Riau, ungkapnya.

Hanya saja, sejak memunculkan, melestarikan dan mengembangkan batik Riau, tujuh tahun belakangan ini, belum ada pihak pemerintah yang peduli. Pemerintah daerah sebagai penanggung jawab pelestarian dan pengembangan kreativitas masyarakatnya hanya sekadar menganjurkan tanpa turun langsung ke lapangan sehingga pencipta dan pengrajin batik berjuang seorang diri saja. Alhasil, kendala dan berbagai persoalan, terutama pemasaran tak tergarap secara maksimal. Bahkan batik Riau yang sudah tercipta tidak menjadi tuan di rumahnya sendiri.

Seharusnya, pihak pemerintah langsung turun dan menyaksikan ke lapangan sehingga mereka memahami apa yang diperlukan pencipta dan pengrajin batik tersebut. Kalau tidak, ya seperti sekarang. Apalagi pasaran Batik Riau anjlok sejak pihak-pihak pemilik modal bahkan pemilik kebijakan melempar motif ini di pasaran dan mencetaknya secara pabrikan, ulas Amrun Salmon.

Hargai Milik Sendiri
Ditanya soal apresiasi, baik pemerintah maupun masyarakat tempatan, Amrun mengatakan, baru setakat pada kata-kata kekaguman belaka. Padahal, tumbuhnya tradisi batik di Riau, seperti oase di padang pasir. Orang-orang luar justru tertarik pada batik Riau, bahkan pernah pula difilmkan, yakni film dokumenter berjudul Batik Tabir Merajut Nusantara dan meraih lima besar pada Festival Film Indonesia (FFI), saat Riau bertidak sebagai tuan rumah.

Kekaguman orang luar pada batik Riau dikarenakan negeri yang tidak memiliki tradisi batik seperti Jawa, batik bisa tumbuh dengan baik dan terbilang kreatif. Riau memang bukan negeri batik, meski tradisi itu pernah berkembang di Daik-Lingga semasa kemaharajaan Riau-Lingga yang diperkirakan berasal dari negeri jiran tetangga, Terengganu-Malaysia.

Walaupun belum ada penelitian tentang asal-muasal tradisi batik di Riau dan Terengganu tersebut namun pola dan motifnya hampir sama dengan batik Jawa yang merupakan moyangnya batik di Indonesia.

Orang kita kurang menghargai produk sendiri. Banyak yang bilang batik Riau terlalu mahal, warna yang digunakan terlalu terang sehingga terkesan udik dan hal itu hanya sekadar mencari kambing hitam karena mereka enggan membelinya. Namun batik dari luar dengan harga lebih tinggi, mereka beli hingga beberapa helai dalam satu tahun. Akibatnya, batik Riau tak berkembang sebagaimana adanya. Sebenarnya batik ini sudah mati tapi karena saya yang memulai maka saya tak menginginkannya mati begitu saja, tambahnya meyakinkan.

Tidak berkembangnya batik dengan baik dikarenakan minimnya ilmu tentang batik itu sendiri di Riau. Perlu dukungan dari pemerintah daerah, baik modal, penambahan dan pematangan pengetahuan bagi sumber daya manusia (SDM), pemasaran dan mengajak masyarakat mencintai produk sendiri. Bahkan pemerintah perlu bekerja keras untuk memberi ruang serta membuat program agar pencipta dan pengrajin batik bisa menggali khazanah dan kekayaan daerah untuk dikembangkan dengan motif Melayu yang terbilang kaya.
 
Semat Tembaga
Semat Tembaga, didirikan Amrun Salmon merupakan upaya positif sebagai pemersatu serta memotivasi orang Riau untuk membatik, sesuai dengan makna yang terkandung pada penamaannya. Semat adalah jarum yang berfungsi sebagai alat pemersatu sedang tembaga adalah logam yang tidak pernah berkarat. Artinya, Semat Tembaga adalah alat pemersatu yang langgeng. Awalnya, cukup banyak yang berminat dan suka membatik dengan desain yang lebih sederhana.

Membatik itu memang kerja yang bisa dikatakan rumit dan kita harus sabar. Makanya, tidak banyak yang bertahan karena cepat bosan. Kalau tidak dari hati, memang membatik itu sulit. Dulu, di sini sempat bekerja mencapai 15-20 orang tapi sekarang tinggal kami berdua saja, ungkap Yuli yang diamini Lastri sembari terus fokus pada aktivitas mewarnai kain yang telah dicanting.

Dulu, banyak orang yang tidak suka membatik karena mereka menganggapnya sebagai pekerjaan rumit dan membosankan. Amrun membaca itu dan mulai mendesain secara sederhana dengan cara colek, bukan celup seperti batik yang biasa dibuat di Jawa. Sistem itu sendiri diadopsinya dari Pekalongan dan hasilnya cukup meyakinkan dengan banyaknya yang mulai suka dan mau belajar membatik. Modifikasi ini membuat kerja membatik lebih mudah dan di situlah Amrun mulai memainkan prinsip ekonomi dalam upaya pemasarannya.

Awalnya memang pekerjaan ini diminati dan produk batik juga disenangi masyarakat. Mereka mulai dari motif yang mudah sampai motif rumit seperti sekarang ini. Saya bisa pula membayar mereka sesuai dengan kerjanya masing-masing. Pembatik di sini sempat mencapai 15-20 orang banyaknya dan saat itu, penjualan batik memang sedang bagus tapi kondisi itu tidak mampu bertahan lama, kata Amrun.

Sebenarnya, kata Amrun, pasar batik itu cukup bagus dan potensial. Ditambah lagi, pemerintah pusat sudah mencanangkan untuk memasyarakatkan batik ke seluruh kawasan di Indonesia. Namun bagi orang Riau, khususnya Melayu yang menyukai batik, sebaiknya menanggalkan dulu pandangan terhadap batik Jawa.

Siapa lagi yang akan menghargai Batik Riau kalau tidak orang Riau sendiri, tegasnya.

Amrun sendiri mengaku, tidak tahu seperti apa nasib Batik Riau ke depannya, karena orang-orang sekarang lebih suka memproyekkan daripada mengembangkan budayanya sendiri. Amrun mengerjakannya pada usia senja dan tidak mungkin lagi berlari kencang seperti orang-orang muda.

Saya sudah siapkan semuanya dan tinggal dikembangkan saja agar Batik Riau bisa bertahan dan disenangi, minimal bagi orang Riau sendiri, ujarnya mengakhiri.***

KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Jumat, 21 September 2018 - 18:00 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa

Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Jumat, 21 September 2018 - 16:01 wib

Hotel Prime Park Promo Wedding Expo

Jumat, 21 September 2018 - 16:00 wib

Kondisi Firman Makin Membaik

Follow Us