Buluh Perindu

20 Mai 2012 - 07.28 WIB > Dibaca 7793 kali | Komentar
 
Tetabau bersaut-sautan. Hari makin kelam. Di antara sesemak dan ilalang. Dalam sebuah pompong yang sengaja didiamkan. Ada sepasang binatang jalang yang merangkai malam dengan kenikmatan setan. Bersenggama saling desah. Tak jauh, beberapa binatang lain menatap penuh laknat. Mereka tinggal menanti ancang-ancang untuk mengulum dua pasang jalang itu. Seseorang yang diyakini sebagai pemimpin menggangkat tangan. Mengisyaratkan untuk tak gegabah mengambil keputusan. Di belakangnya. Mengikut dengan tatapan penuh amarah. Barangkali, ia adalah Ratu dari gerombolan itu. Suara adzan menyeruak tajam. Namun, tak urung menyadarkan dua jalang. Lantas, setelah tiga rakaat, dzikir dan beberapa kalam. Nelayan saling dayung dalam remang. Hanya berteman pelito dalam kegelapan. Atau sepucuk rokok tembakau menyumpal di antara bibir kedinginan.

Gerombolan binatang menghilang dibawa kiambang. Sementara dua jalang terkesiap ketika ada cahaya. Meski terdengar sayup. Nelayan yang melaut di malam buta. Asyik bercengkrama. Satu dari tiga mereka memegang pelito dan menyinari ke sekeliling. Sedang dua yang lain memasang bubu dan lukah. Takut, aib mereka diketahui. Sepasang jalang saling bungkam dari erang. Menarik kain masing-masing yang telah bergumul di dekat mesin pompong.

Tiga nelayan tak sadarkan sepasang jalang. Mereka asyik saja dengan tugasnya. Memasang bubu, memberi tanda: memancangkan kayu ke dalam air dan mengikat jala. Sepasang jalang bernafas lega setelah nelayan kembali mengarung samudera. Si buta jalang yang tersungkur dalam kesesatan. Tak tahu jalan. Tak tahu iman. Tak tahu aib mereka akan membawa petaka. Di balik kiambang gerombolan binatang menatap tajam kepergian sepasang jalang yang berlayar pulang.
***

Aku selalu berharap suatu saat aku berwujud rupawan dan menawan pria yang kucintai. Bukan berarti aku menyesali apa yang telah aku dapati. Aku selalu bersyukur dengan keadaanku sekarang. Walau, acap kali aku menampakkan diri. Lelaki itu akan terbirit-birit dan lari ketakutan melihatku. Sebegitu mengerikannyakah aku? Bahkan bukan laki-laki itu saja. Namun, seisi kampung dan mungkin semua orang yang bertemu denganku juga akan menunjukkan kelakar yang sama. Takut!

Aku bercermin di air beriak. Tubuhku, kulitku, hanya mataku yang tak dipenuhi duri. Aku mengendap-endap di tengah kiambang. Terumbuhan hijau yang hanyut seiring arus air. Berkumpul merangkai lingkaran bersama akar dan dedaunan. Kulihat perahu-perahu hilir mudik. Anak-anak mandi berkuncah. Suara air berkecipak. Wanita-wanita seusiaku  sedang menceburkan beberapa helai pakaian mereka. Bulir-bulir sabun membentuk sinar memukau kala tertimpa matahari. Di sebelah hilir, aku melihat lelaki yang membuat hatiku tertawan. Ia asyik menerbangkan jala ke setiap arah yang ia tuju. Aku menghanyutkan diri bersama kiambang. Menatapnya dari kejauhan. Namun, kulihat sesekali ia melirik seorang wanita yang sedang menguncah baju. Perempuan mengenakan kain sebatas dada itu tersenyum malu. Entah mengapa, hatiku tercabik-cabik melihat mereka. Walau hanya sekadar saling melempar senyum, tapi aku bisa melihat dengan jelas mereka kian menyelami ke dalam palung cinta masing-masing. Aku tak sepantasnya menaruh hati pada pemuda itu. Mungkin, lebih baik aku berlabuh kembali ke peraduanku bersama kiambang. Daripada jiwaku kian meradang.

Aku tak tahu sejak kapan aku menyukainya. Laki-laki bermata elang itu kerap kali menohok dadaku dengan tatapannya. Padahal, dulu aku sangat membencinya. Lelaki pemalas yang saban hari hanya bermain kartu gaplek yang dilempar naas di atas meja licin. Sembari minum kopi lalu berkisah tentang kekayaan Pak Haji Bakar yang katanya rakus tanah. Berangkat haji dengan hasil uang sengketa. Atau menuba air sungai hingga jadi kelat rasa. Membuat ikan dan udang nelangsa. Alam nestapa. Karena ulahnya, penduduk kampung bahkan tak bisa memanfaatkan air sungai selama seminggu. Air keruh susu yang penuh racun akar tubo.
Tiba-tiba saja menawan hatiku. Kala matahari rembulan mulai melangsat seperempat langit. Dan malam membalut panik. Ia bertandang ke rumah. Terang saja aku membuang muka. Muak! Tapi, Emak menayambutnya dengan suka cita.

Ia anak Datuk Sati, Nak! Kita harus hormat padanya! pinta Emak sembari meracit sirih dan gambir. Aku melongos. Cuih! Batinku mencaci. Hanya karena dia anak pemimpin adat. Aku jadi harus  tunduk padanya. Ayahnya memang orang bijaksana. Teringat saat ia disidang di Balai Adat karena ulahnya menuba sungai. Dihukum menyembelih tiga ekor kambing dan mempermalukannya keliling kampung dengan dibotakkan. Jika, kata orang, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, maka lelaki itu adalah salah satu buah yang menggelinding jauh dari pohonnya. Turun dari bukit lantas masuk ke sebuah rawa yang busuk dan kotor. Bercampur kotoran, air seni, juga ludah. Jangan terlalu membenci sesuatu. Takutnya itu berbalik dari semula, tegur Emak. Ia masih membujukku agar menjamu lelaki busuk itu.

Temuilah ia, tutur Emak. Tangannya yang kasar untuk ukuran wanita, mengenggam bahuku. Aku masih terpaku menatap bayangan dua wanita beda generasi di dalam cermin sana. Wajah Emak kian menua. Guratan di wajahnya. Kerutan di dekat matanya. Kerja kerasnya membuatku iba. Tak ada salahnya aku menuruti permintaan Emak untuk kali ini saja.

Baiklah Mak, sahutku akhirnya. Emak tersenyum. Aku berdandan sekenanya. Emak berbalik. Yang tertinggal hanya bayang punggung wanita sepuh itu. Aku turut berlalu. Tak kusangka. Saat aku berpaling. Seisi dunia dan pikiranku berubah. Aku terkurung dalam cermin itu.
***

Lelaki bermata elang itu mengendap-endap seraya mengepakkan kedua tangan dan kakinya laksana katak. Gelembung-gelembung udara bermunculan dari mulutnya. Rambutnya melambai-lambai di sisir air. Apa yang ia lakukan di tempat ini. Ini bukanlah tempat yang layak untuknya. Jika kakakku tahu dan mencium kehadirannya. Ia mungkin sudah disantap serta-merta. Aku mengintai gerak geriknya. Jarang-jarang ada manusia yang datang kemari. Apalagi lelaki rupawan sepertinya. Kurasakan ada gejolak lain saat aku melihat matanya. Walau tak bersitatap. Tapi, batinku mampu menangkap geliat pesona darinya. Kharisma yang mampu menggetarkan hatiku. Ada kemilau benda di dekat perutnya. Sesuatu yang terikat dengan akar di pinggang. Apakah gerangan? Darimana ia datang? Atau kemanakah ia akan bertandang? Aku masih mengutit di sela-sela batu. Ikan-ikan selais bergerombol itu lantas lari melihatku. Masih dengan penyamaran batang buruk. Aku bergerak pelan terus mengikut.

Ia melesat naik ke permukaan. Aku melihat dari kejauhan. Bajunya yang basah melekat di badan. Terduduk di pinggir sungai dengan senyum kemenangan. Seraya menatap takjub benda yang tadi terikat di pinggangnya. Sebuah botol bening kecil. Yang diikat dengan tutup khusus warna hitam. Ada sebatang buluh yang terperangkap di dalamya. Berdiameter kurang dari 1 Mm. Dengan panjang hanya 5-7 Cm. Warnanya coklat kehitaman. Kuperhatikan bentuknya sama seperti alis lelaki itu. Ujungnya lebih kecil jika dibanding batangnya.

Buluh apakah itu? Aku menerka. Lelaki itu masih menatap seksama. Senyum menang mereka di wajahnya. Seperti guncangan besar yang akan terjadi. Yang bisa diperbuatnya dengan buluh itu. Aku kembali mencebur ke dalam air.
***

Sejak kejadian malam itu. Aku selalu dirundung rindu. Syahdu dayu-mendayu dari hatiku. Aku merasa ada yang beda dari lelaki bermata elang nan rupawan. Mungkinkah ini yang dinamakan menjilat ludah sendiri. Namun, aku tak peduli. Saat kami bersitatap, pesonanya mampu menggeliatkan batinku. Kharismanya dapat menggetarkan hatiku. Aku tertunduk malu. Tersenyum sipu. Tiba-tiba kurasakan gelora hangat yang memuncak hebat. Aku benar-benar ingin memilikinya. Lelaki yang kulihat busuk, kini bagai permata di tengah laut. Sungguh beruntung aku mendapatkannya. Aku ingin terus bersamanya. Agar rindu ini tak kian menjelma dan berujung gelisah.

Sore ini, ia mengajakku bertemu di hilir kampung. Di dekat teluk berdua mengarungi indahnya sungai tertimpa senja. Butir-butir air berpendar bak kilauan berlian. Tersapu matahari warna merah saga. Semerah bara cintaku untuknya. Ia pun begitu. Menatapku penuh seluruh. Tak sadar. Hatiku telah dibutakan oleh keelokannya. Oh! Lelaki bermata elang. Kau bahkan telah mencengkram duniaku. Aku patuh.

Di bawah kiambang sana. Ada satu wanita lagi yang terluka. Ia menatap penuh amarah. Hatinya tercabik-cabik luka. Ingin ia alih mencabik-cabik laki-laki itu. Menyobek perut. Memakan kaki. Dan melumatkan tulangnya. Namun, wanita itu tak berhak melakukannya. Jika kakaknya tahu. Akan celaka. Wanita itu mungkin akan di usir dari peraduannya.

Bukan sembarang menelan manusia! Begitu petuahnya. Lantas, akankah lelaki biadap itu dibiarkan hidup. Iblis bertopeng manusia. Sengaja mencuri Buluh Perindu dari bangsa tetangganya. Dan melekatkan kekuatan buluh itu pada wanita yang kini di dalam genggaman nafsunya. Wanita itu melabuhkan diri bersama petasan air sungai yang mendadak jadi hina. Menyampaikan perihal buruk pada kakaknya. Dan malam bertambah dingin.
***

Emak menangis beku di ujung tilam lusuh. Matanya sembab. Dan ujung kainnya basah karena menyapu air matanya sedari tadi. Ampunkan aku Mak! Sungguh. Aku tidak sadar melakukan itu. Lelaki biadap itu telah menghilang akal sehatku Mak, mohonku. Kucium kaki Emak setengah sujud aku jatuh ke pangkuannya.

Kau buat malu!, katanya kecewa. Kurasakan air hangat kian mengalir deras dari sudut mataku. Aku tak mampu berkata-kata lagi selain terseguk-seguk rapuh. Apa yang bisa kubuat. Aku bahkan setengah gila dibuatnya. Lelaki bermata elang. Yang telah mencengkram hati, batin dan harga diriku. Ia telah menorehkan tinta hitam dalam sejarah hidupku. Martabat dan marwah keluarga yang telah kubawa dan kujaga sejak lahir. Yang kujunjung penuh hormat harus kandas karena ulah laknat yang kuperbuat. Aku akan membunuhmu. Akan!!!

Bulan bersinar panas dari biasanya. Burung hantu berdendang lebih cepat dari waktunya. Suara siamang di hutan pulau seberang. Air mendadak pasang. Seperti parade. Binatang-binatang itu berjengulan ke permukaan sungai. Seekor buaya kuning yang paling besar. Berjalan mendahului barisan yang lain. Gegap gempita menyita penghuni kampung.

Buayo kuning!!! Buayo kuning!!!, teriak Pak Haji Bakar yang hendak melihat bubu dan lukahnya. Ia tergopoh-gopoh dan hampir terjerembab berlarian setengah pingsan. Datuk Sati keluar dari rumah diiringi warga. Mereka membawa obor setengah menyala di hantam angin setengah limbung. Semua surut. Serbuan buaya menatap kampung dan seolah ingin melahap seisinya. Datuk Sati terlihat tenang saja. Menguntit di belakang Ayahnya. Lelaki bermata elang itu. Tiba-tiba menciut. Tatapannya nanar dan mengkerut. Selaksa paham akan kedatangannya. Datuk Sati lantas maju ke muka. Berhadapan beberapa meter dari induk buaya. Buaya tadi diam saja. Tak menunjukkan gelagat ancang-ancang menerkam.

Sejak dahulu. Turun-temurun. Bangsa kalian takkan datang jika anak, cucu kami tak membuat ulah. Berkelaku tak baik. Dan membuat aib. Datuk Sati menghela nafas berat.

Jika kalian datang untuk menuntut itu. Maka, ambillah!, Buaya bergeming di  tengah hening yang mencekam. Entah dari mana asalnya. Seorang perempuan cantik datang dari balik dedaun pandan. Wajahnya kian merona tersapu sinar rembulan.

Pergilah kalian. Aku adalah pawang dari kampung seberang. Sejak tadi kurasakan kehadiran mereka hingga insanku singgah ke sini. Tapi, aku butuh seorang pemuda untuk tinggal dan membantuku menangkap buaya-buaya ini, pintanya. Semua saling lirik. Dan seolah terperintah, semua mata tertegun pada lelaki bermata elang. Serasa ditodong, ia salah tingkah. Datuk Sati merentangkan tangan kanan. Mempersilakan lajangnya turut perintah sang wanita. Dan semua penghuni kampung yang berbondong-bondong berbalik arah segera. Pun, buaya tanpa perintah. Lelaki bermata elang kagum pada wanita nan jelita yang berjalan anggun di depannya. Lalu ia mengeluarkan botol berisi buluh perindu perisainya dari balik kantong celana. Tiba-tiba wanita itu berbalik kejam. Menatap tajam. Dan angin kembali membalut dingin mencekam.
***

Wanita kumal itu termenung di atas bebatuan. Pakaiannya lusuh. Rambutnya berantakan. Ia tertawa-tawa sendiri. Menangis sendiri. Terkekeh sendiri. Anak-anak kecil yang mencebar-cebur dari dalam sungai mulai mengerjainya.

Orang gila, orang gila, ejek mereka. Wanita tadi cemberut dan marah. Lalu, ia mengais-ngais mencari batu kerikil. Anak-anak tertawa dan berlari meninggalkan wanita gila. Ia kembali tertawa. Menangis sendiri. Tersenyum sendiri. Kakinya dibiarkan menjulur ke dalam air. Merasakan sensasi tiap air mengalir di sela-sela jari-jari kakinya. Sebuah benda bergulung bersama akar menyangkut di kakinya. Lalu, mata itu membulat menangkap gemilau cahaya. Sebuah botol bening kecil. Yang diikat dengan tutup khusus berwarna hitam. Ada sebatang buluh yang terperangkap di dalamnya.

Buluh? Kening wanita itu berkedut.***


Catatan:
Tetabau: Burung
Pompong: Salah satu alat tranportasi air
Pelito: Lampu teplok
Kiambang: Sejenis tumbuhan air
Bubu  : Lukah (alat penangkap ikan terbuat dari rotan)
Tuba : Racun
Datuk Sati: Pimpinan adat
Buluh Perindu: Jimat
Buayo: Buaya



Jatni Azna AR,
Dara Melayu, mahasiswi Ilmu Komunikasi Broadcsating UIN Suska Riau. Aktif di FLP serta fotografi dan perfilman. Bermastautin di Kota Bertuah Pekanbaru.
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 20:40 wib

Cuti Bersama Idulfitri Tahun Depan Lebih Pendek

Rabu, 14 November 2018 - 19:30 wib

Reaksi Brexit dan Dampak Ekonomi Cina Picu Pelemahan Rupiah

Rabu, 14 November 2018 - 19:28 wib

Kebut Pertumbuhan, RI Perbaiki SDM

Rabu, 14 November 2018 - 16:15 wib

Bonus Demografi Diharapkan Sampai ke Masyarakat

Rabu, 14 November 2018 - 16:00 wib

APBD Kampar Diperkirakan Rp2,4 T

Rabu, 14 November 2018 - 15:45 wib

Pencakar Langit Riau Pertama di Luar Pekanbaru

Rabu, 14 November 2018 - 15:33 wib

Lelang Sepeda Motor Dinas Pemko 22 November

Rabu, 14 November 2018 - 14:43 wib

Pengungsi Rohingya Hindari Repatriasi

Follow Us