Opini
Eko Suprihantod

10 Langkah Praktis Berkendara

21 Juli 2011 - 07.24 WIB

Seperti dijelaskan di tulisan Safety Riding (Solusi Berkendara yang Aman, Nyaman dan Selamat) sebelumnya, bahwa yang pertama perlu disiapkan saat kita akan mulai berkendara di jalan raya, adalah penyiapan kendaraan bermotor yang akan kita gunakan, meliputi pengecekan dan pemeriksaan kendaraan bermotor.

Selanjutnya penyiapan diri pengemudi, yaitu yang mengandung makna bahwa setiap pengendara kendaraan bermotor harus dalam kondisi fisik yang baik, sehat jasmani dan rohani serta mempunyai ketahanan yang cukup baik saat mengemudikan sepeda motor.

Selanjutnya saat mulai berkendara, taatilah peraturan lalu-lintas, bersikaplah sebagai pengemudi kendaraan bermotor yang defensif (defensive riding), yaitu sikap pengemudi yang selalu mengalah pada pemakai jalan lainnya.

Saat berkendara lengkapilah dan periksa semua fasilitas maupun kelengkapan yang ada pada kendaraan dan pastikan semuanya berfungsi dengan baik.

Kelengkapan kendaraan itu seperti lampu sign/sein, klakson, kaca spion berjumlah dua buah yang ada di kanan dan kiri kemudi dan juga lampu rem di belakang berfungsi atau tidak.

Usahakan untuk selalu menggunakan lajur sebelah kiri, hal ini sesuai dengan tata cara berlalu-lintas di Indonesia yang selalu menggunakan lajur jalan sebelah kiri, dan diatur dalam Pasal 108 ayat 1 Undang-Undang No 22/2009 tentang Lalu-lintas dan Angkutan Jalan.

Yang tidak kalah penting lagi saat kita berkendara adalah pentingnya menyalakan lampu kendaraan meskipun di waktu siang hari. Penyalaan lampu ini dimaksudkan untuk menunjukkan kepada pemakai jalan lain bahwa pengendara sepeda motor adalah pengguna jalan yang juga harus diperhatikan keselamatannya, harus mendapatkan hak dan fasilitas, sehingga tidak terjadi tindakan semena-semena dari pengguna jalan lain.

Dasar hukum menyalakan lampu di siang hari bagi sepeda motor diatur dalam Pasal 107 ayat 2 UU No 22/2009, dimana disebutkan pengemudi sepeda motor wajib menyalakan lampu utama pada siang hari. Pelanggaran terhadap pasal ini dapat ditindak dengan ancaman pidana kurungan paling lama 15 hari atau denda paling banyak Rp100 ribu (Pasal 293 ayat 2 UU No 22/2009).

10 Langkah Praktis
Selanjutnya akan dijelaskan teknik-teknik dalam mengendarai kendaran/sepeda motor secara aman sesuai dengan ketentuan safety riding, yang dirangkum dalam 10 langkah praktis mengendarai kendaraan bermotor, yang meliputi; Pertama, sempurnakan keterampilan mengendara, yaitu bahwa keterampilan mengemudi di jalan termasuk setiap aspek mengemudi hanya dapat diperoleh melalui langkah-langkah yang sistematis pada saat mendekati daerah bahaya dan penerapan ketentuan-ketentuan/teknik-teknik dasar secara konstan.

Keterampilan mengendara yang baik memungkinkan seorang pengendara terhindar dari situasi yang buruk sekali dan berbahaya. Hal tersebut bukan hanya dapat mencegah kecelakaan tetapi mengurangi kesulitan dalam mengemudi.

Kedua, mengendara dengan pertimbangan dan mendahului sesegera mungkin, yaitu bahwa mengendara dengan baik membutuhkan perencanaan yang berlanjut dan keputusan yang tepat yang harus diambil pada saat mengemudi dengan melakukan pertimbangan-pertimbangan.

Tidak ada tempat untuk mengendara dengan setengah hati yang akan lahir dan rasa ragu-ragu bila tidak benar-benar aman jangan berusaha mencoba-coba, situasi apapun juga.

Mendahului harus selalu diperhitungkan dengan waktu minimal untuk meninggalkan/keluar ke jalan yang sudah aman untuk mendahului atau mengikuti kendaraan lain.

Ketiga, kembangkan perasaan dan penguasaan terhadap sepeda motor anda dan ketahui kemampuan sepeda motor anda, yaitu bahwa perasaan terhadap sepeda motor adalah kemampuan untuk mendapatkan sesuatu yang terbaik dari kendaraan tersebut tanpa menyentak dan bergetar pada waktu mengendarainya, di mana pengemudi harus membiasakan dirinya terhadap alat-alat kendali, gas dan kemampuan rem dan perlakuan terhadap sifat-sifat kendaraan.

Keempat, beri tanda-tanda dengan tepat, gunakan klakson dan lampu besar sebijaksana mungkin. Kelima, konsentrasi pada seluruh waktu untuk menghindarkan kecelakaan di mana konsentrasi adalah kunci utama dalam mengendara dengan baik.

Ini adalah merupakan syarat utama tapi sering dilalaikan oleh seseorang pengendara. Konsentrasi penuh akan memastikan setiap yang diamati secara terperinci.

Arti dari konsentrasi ini adalah setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor dengan penuh perhatian dan tidak terganggu perhatiannya karena sakit, lelah, mengantuk, menggunakan telepon atau meminum-minuman yang mengandung alkohol atau obat-obatan sehingga memengaruhi kemampuan dalam mengemudikan kendaraan (Penjelasan Pasal 106 ayat 1 UU No 22/2009).

Keenam, pikir dulu sebelum bertindak, di mana pengendara yang baik akan membuat rencana dengan tenang dan dengan sedikit bicara atau usaha bahwa untuk hal-hal yang belum diketahui ia menunjukkan respon terhadap situasi secara otomatis.

Seorang pengendara yang bijaksana mengaplikasikan langkah-langkah sistem pengendalian kendaraan, melakukan setiap pengendalian dan pergerakan-pergerakan kendaraan dalam waktu cukup dan selalu konsekuen di sisi jalan yang tepat dan waktu yang tepat. Ketujuh, berlatih mengendalikan dan menahan diri dan kembali mundur bila perlu.

Pengendalian diri sangat diperlukan khususnya bila dalam keadaan tergesa-gesa. Mendahului adalah suatu pergerakan yang tidak harus dilakukan kecuali jika diyakini penuh bahwa situasi pada saat itu 100 persen aman.

Kedelapan, membelok dengan aman, yaitu bahwa mengendara sepanjang belokan membutuhkan pelaksanaan dan prinsip membelok dan suatu pengetahuan yang cermat tentang bekerjanya gaya pada kendaraan. Kesalahan yang paling umum adalah masuk terlalu cepat atau menambahkan kecepatan sebelum pemandangan yang jelas terlihat.

Kesembilan, pandai menggunakan kecepatan dan mengendara cepat hanya pada tempat yang tepat.

Kecepatan tinggi adalan aman hanya bila dapat dengan jelas untuk memperhatikan jarak dan dapat memperkirakan setiap bahaya yang akan timbul, tetapi kecepatan pada setiap waktu harus dihubungkan dengan sudut pandang.

Kecepatan yang aman tergantung pada kemampuan untuk mengenali bahaya dan untuk memperlambat pada waktu yang tepat.                              

Kesepuluh, mengetahui peraturan lalu-lintas jalan dan lakukanlah dalam praktik. Peraturan lalu-lintas memuat ketentuan-ketentuan untuk keselamatan di jalan.

Ketentuan-ketentuan tersebut harus diketahui dan dipatuhi, peraturan-peraturan lalu-lintas di jalan mendorong pengendara untuk menjadi sopan. Seorang pengendara yang baik akan selalu bersikap selalu memperhatikan sopan santun dalam berlalu lintas di jalan.

Semoga tulisan pengantar kegiatan Safety Riding Goes to School yang telah dilaksanakan oleh Satlantas Polresta Pekanbaru bekerja sama dengan Xpresi Riau Pos mulai 16 Juli 2011 lalu bisa bermanfaat. Semoga.***

Eko Suprihanto Kepala Satuan Lalu-lintas Polresta Pekanbaru.


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook