Sajak Taufik Ikram Jamil

3 Juni 2012 - 07.48 WIB > Dibaca 4013 kali | Komentar
 
selepas traktat london 1824

tangan kita yang terlepas genggam
kupikir masih menjulur
mencekau sampai jauh ke dalam hati
sehingga kupahami makna rindu
menyelusuri degup jantungmu
yang tak pernah berdenyut sunyi
jadi harapan dengan setengah getar
sehingga tak ada lagi yang harus disesali
selain terlambat mengucapkan cinta

selalu kubayangkan  malam ketika terjaga
mimpimu jadi bunga-bunga  bermekaran
hingga harumnya menembus fajar
menciptakan pagi menjadi begitu warna
membelai siang dan petang selingkup langit
padahal doa pertama belum sempat di lidah
di bibir yang terkatup oleh kecup
aku pun jadi  tahu
sembarang gelisah terkulai sudah
seketika kausebut namaku
dalam kenang panjang-memanjang

diri kita akan tersemat dalam hikayat
melekat riwayat tak tamat-tamat
sehingga setiap berhajat
anak-anak kita akan segera mendapat
tempat yang tak sempit tiada tumpat
mencatat setiap gelagat dengan sangat
dalam kitab semuanya tersurat

benar dinda adindaku berkata benar
traktat london 1824 telah membelah selat melaka
tapi adakah yang bisa menenggelamkan kasih
yang riaknya tak mati di angin
tak dingin di awan
terik-panas bahkan terdera oleh rasa berdua
dihanyutkan resa sampai ke hutan paya
kemudian menjelma jadi saujana
bahagia dengan jarak yang tertunggu
memahami setiap ukuran sebagai hiburan
segar  disebabkan bersusun-susun impian
menjadikan hari-hari tanpa jam
tanpa sangsi tuk mengikat janji
karena memang tak ada yang harus dipungkiri
seperti kepastian matahari
menabur terang ketika datang
menguak kelam jauh berkelam

terhadap sipadan dan ligitan
di antara camar bulan dan tanjung datu
pun dalam reog dan batik serta rendang
bukankah bukti bagaimana kita
tak selalu mampu menandai pisah
walau tak ada jalan lain
kecuali mengungkai lambai
semakin lemah oleh usia
diburu takdir di padang terbuka

terkadang timbul berupa-rupa khawatir
mengenangmu dengan penuh getir
tapi seperti kautahu
bukankah aku pencemburu paling segitu
terhadap masa depan yang selalu hampir
sementara masa lalu senantiasa meminggir
bersepahaman dengan ragu-ragu
dengan haru yang berwarna abu-abu
kelu diucap sebagai syair
ke dalam jiwa sekedar mampir

sudahlah dinda sudahlah
bukankah kita masih punya kesempatan
dalam semua keadaan sejatinya merekah
sebentuk senyum berkulum harapan

karena tak ada yang harus kutunggu

aku pulang karena memang tak ada yang harus kutunggu
penerbangan terakhir telah menjulurkan tangannya
melemparkan kenangan di atas apron
dengan sayap yang begitu tajam mencencang harapan
masih kulihat beragam alasan bergumpal dengan awan
sebelum angin menebarkannya sebagai debu
mengawang-awang di angkasa luas
tanpa singgah sekejap berlalu

di atas ketinggian limaribu kaki
dalam kabin yang penuh hampa
keinginan-keinginanku  masih saja meleleh
padahal sejuk telah merapat-eratkan diri
menawarkan kebekuan
mampu mengubah bentuk setiap rupa
gigil dari berbagai penjuru
dengan panas segera berseteru dalam jaket
hingga aku rebah tersandar
pada kursi yang berpura-pura ramah
tergantung di bibir pramugari seperti senyum
renyah yang tertahan
dikulum bimbang berandai-andai

aku bingkas ke dalam cockpit
berebut tuas dengan getir
rupanya rudder berpihak kepadaku
hingga bebas melayang ke kanan ke kiri
kuajak pula elevator berkongsi
sampai hidung pesawat naik turun
aileron berputar-putar
mempersembahkan gerakan menghindar
aku bagaikan armen firman di menara cardoba
meniru hezarfen ahmed celebi dekat istambul
bertemu wright bersaudara 200 tahun kemudian
terbekah-bekah menertawakan newton
lalu sekilas kudengar avtur menjerit
dalam mesin bersungut-sungut

cuaca sedang buruk kata awak kabin
gunakan sabuk pengaman sambungnya serak
tapi aku tiba-tiba ingin tidur
agar dapat kuyakini
peristiwa senja tadi hanya mimpi


bagian pekanbaru

selalu engkau bertanya adakah rindu di pekanbaru
padahal telah lama dia menunggu peluk
menyiangi belai yang dibasuh pilu
bukan karena waktu terus merunduk  
meregang  jarak di antara resah
basah oleh serba-serbi gundah
antara kulim antara panam antara marpoyan
melintasi jejak-jejak kata
yang tak sempat menjadi kalimat
kemudian dinamakannya tanpa sejarah
kecup dari kenangan semasa
menyamarkan masa depan
sebelum sungai siak mengalirkannya sebagai igau
bersama remah-remah minyak
akan menjelma jadi tanda  tanya

acapkali dia menjawab tak ada puisi di pekanbaru
meski para pendatang bolak-balik menawarkan haru
disuarakan kabar yang dilesut perih
disebabkan masa tak dapat dibela
menghela jangkau di antara gundah
kerontang oleh berupa-rupa hasrat
antara rumbai antara sukajadi antara labuhbaru    
menerawangi bekas-bekas kisah
yang tak sempat menjadi kitab
lalu disebutkannya tanpa asal muasal
cium dari ingatan semusim
mengaburkan masa datang
sebelum simpangtiga menerbangkannya sebagai jalu
bersama serpihan-serpihan jerebu
akan menjelma jadi tanda seru

sepatutnyalah engkau dan dia memahami
cuaca di sini belum begitu baik bagi cinta
karena setiap orang berusaha untuk meninggalkannya
kemesraan tertimbun oleh keinginan-keinginan  bayang
ketika isi dan bentuknya tergantung pada terang
panas yang melayangkan geram
dalam hujan yang memendam dendam
pada siang atau malam yang bergantian tanpa bekas
terlepas-luncas dari catatan-catatan waktu    



Taufik Ikram Jamil
Lahir di Telukbelitung, Riau, 19 September 1963. Buku puisinya Tersebab Haku Melayu (1985) dan Tersebab Aku Melayu (2010). 
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 20 November 2018 - 13:30 wib

Bupati Launching Aplikasi Sipedih

Selasa, 20 November 2018 - 13:00 wib

Tunggu Kepastian Pelantikan Plt Gubri

Selasa, 20 November 2018 - 12:30 wib

Rp772,5 Juta Beasiswa Belum Disalurkan

Selasa, 20 November 2018 - 12:00 wib

4 Kabupaten Masih Terendam Banjir

Selasa, 20 November 2018 - 11:48 wib

Pedagang Pasar Rumbai Minta Pembayaran Kios per Hari

Selasa, 20 November 2018 - 11:27 wib

Haul Marhum Pekan Ingatkan Sejarah Pekanbaru

Selasa, 20 November 2018 - 11:26 wib

AirAsia Pindahkan Penerbangan ke Terminal 2

Senin, 19 November 2018 - 19:09 wib

Duit Korupsi ’’Amankan” Kasus Istri

Follow Us