Latahnya Masyarakat Kita

22 Juli 2011 - 07.06 WIB > Dibaca 732 kali | Komentar
 

Sejatinya, jalan raya yang diaspal hotmix mulus, merupakan dambaan setiap warga. Adanya sebuah jalan, selain mempermudah transportasi, juga dapat membuat harga tanah dan bangunan sekitar jalan juga ikut naik.

Pada dasarnya, jalan adalah urat nadinya perekonomian. Dengan adanya sebuah jalan raya, daerah terpencil tidak akan terisolir lagi. Segala sesuatu di muka bumi ini, bergerak setiap harinya dia atas sebuah jalan.

Jalan raya telah membuat bumi ini bergerak tidak pada sumbunya.

Oleh karena itu, infrastruktur jalan adalah prioritas di negara kita. Terutama di Provinsi Riau, apatah lagi di ibu kota provinsi, Pekanbaru.

Pemerintah Kota Pekanbaru dibantu dengan dana dari provinsi dan pusat serta bantuan luar negeri, memfokuskan diri memperbaiki jalan yang telah ada agar mulus dan kendaraan bisa melaju secara nyaman.

Tahun ini saja, dua jembatan yang menyeberangi Sungai Siak sedang digesa pembangunannya. Ditambah lagi dua buah jalan layang yang akan selesai tahun dan akan menambah semaraknya suasana kota metropolitan.

Termasuk juga jalan lingkar yang mengelilingi Pekanbaru juga hampir selesai dikerjakan.

Namun di sisi lain, perbaikan jalan agar mulus dan nyaman dilalui, ternyata kurang disikapi secara cerdas oleh sebagian masyarakat, termasuk di Kota Pekanbaru sendiri.

Sebuah jalan yang diaspal hotmix, banyak telah dirusak warga sekitar jalan dengan menambah “ornamen” berupa pemasangan tali kapal sebesar paha kaki balita serta membuat gundukan coran semen yang melintang pukang.

Tak hanya satu, tapi bisa berpuluh-puluh di satu bidang jalan. Dan tak lagi di lingkungan perumahan, kini kelatahan warga merambah ke jalan umum yang notabene sepi keramaian penduduk. Seperti terlihat di Jalan Marsan, Kecamatan Tampan yang diributkan pengguna jalan beberapa waktu lalu.

Alasan pembuatan “perusak jalan” yang kerap dipanggil warga dengan “polisi tidur” ini adalah untuk meminimalisir kecelakaan dan kebut-kebutan. Sebuah alasan klasik yang diharap bisa menjadi pembenaran bagi aksi mereka.

Walaupun mudharatnya lebih banyak dan bahkan menjadi sumber kecelakaan itu sendiri. Dengan alasan, warga sekitar melarang, petugas takut membongkar.

Keadaan menyedihkan dan memilukan bagi ribuan pengendara yang setiap hari menderita melewati perusak jalan tersebut. Sebuah ironi dan harusnya segera dibenahi oleh aparat terkait.

Aparat sebenarnya bisa mempidanakan para “perusak jalan” yang telah berbuat zalim terhadap para pembayar pajak yang telah menggelontorkan uangnya setiap tahun bagi pajak kendaraan bermotor untuk sebuah jalan yang mulus dan bagus.***
KOMENTAR
Terbaru
Dilabrak Istri Pertama

Rabu, 26 September 2018 - 11:55 WIB

19 TKI Nonprosedural Dipulangkan Lewat Dumai

Rabu, 26 September 2018 - 11:26 WIB

2 Bulan, Beraksi di 8 TKP

Rabu, 26 September 2018 - 11:09 WIB

66 Orang Terjaring  Razia Malam

Rabu, 26 September 2018 - 10:30 WIB

Terpantau CCTv, Maling Dihajar Pegawai Pemprov

Rabu, 26 September 2018 - 10:28 WIB

Follow Us