Menahan Perih Cinta Ibu

17 Juni 2012 - 08.12 WIB > Dibaca 6532 kali | Komentar
 
Aku tak tahu harus mulai dari mana, aku ingin mengukir namamu dengan tinta cintaku. Namun ada lembaran kelam masih terbayang, mengundang kesal dan sesal.

Kok bisa ya, orang  tuamu nitipin kamu di sini? Pulang hanya setahun sekali, kok tidak kasihan anak sekecil kamu ditinggal jauh. Apa mereka mereka tidak kangen? Apa mereka tidak sayang padamu? Tanya seorang ibu setengah baya yang menghantam dinding-dinding hatiku. Aku hanya diam dan menghibur diri. Berusaha menanggapi dengan positif ucapan ibu tua itu. Namun apa dayaku, aku hanya anak kelas empat SD yang belum begitu pandai berpikir sekuat itu. Aku masih mudah terombang-ambing akan ucapan orang lain.

Sejak kelas dua SD aku tinggal jauh dari kedua orang tuaku, di sebuah desa di pinggiran kota Purwodadi tempat aku dilahirkan. Mulai saat itu, bagiku rasa rindu untuk ayah dan ibu tidak ada, bahkan mereka seperti tidak ada dalam hidupku. Batapa durhakanya aku jika kupikir itu sekarang. Saat itu aku hanya berpikir tentang diriku sendiri, perasaanku sendiri, dan bagiku egoku adalah segalanya. Betapa tidak, di usiaku yang seharusnya mendapat kasih sayang dari mereka malah harus menerima kenyataan yang begitu berat bagiku.

Aku selalu iri melihat anak-anak lain yang bisa bercanda, berbagi cerita dan pengalaman kepada orang tuanya, disisir rambutku dan diikatnya dengan pita. Aku ingin dikala aku belajar ada ibu yang mendampingiku, menemaniku menanti malam indah. Namun, aku hanya bisa bermimpi untuk semua itu. Kesal agakku mengingat semua itu. Pikirku, aku terabaikan, tersisihkan. Perang antara batin dan pikiran selalu meramaikan sunyiku. Aku merasa ayah dan ibu sengaja membuangku. Kehadiranku seperti menyusahkan mereka, sehingga mereka harus bersusah payah menitipkan aku di pulau seberang.
***

Ibu, Nafa tidak mau ditingggal di sini. Nafa mau ikut Ibu saja. Biarlah hidup di tempat sepi asal bersama Ayah dan Ibu. Nafa sayang Ibu. Rengekku malam itu. Malam yang akan menghantarkan aku tuk berpisah dengan ayah dan ibu.

Nafa sayang, Ibu dan ayah juga sayang dengan Nafa. Cuma sebentar Nak, tidak akan lama. Ibu janji, Lebaran nanti Ibu pulang menjengukmu. Di sini Nafa bisa dapatkan pendidikan yang bagus Nak, Ibu ingin Nafa dapatkan yang terbaik. Nafa pengen kan jadi anak yang pintar dan sukses hidupnya dunia akhirat?

Tangisku pecah beriring isak. Ibu tetap kokoh dengan keputusannya. Keputusan untuk meninggalkan aku di tempat yang asing. Malam ini menjadi malam perpisahanku bersama ibu. Aku pun tidur dalam pelukannya. Hangat yang kurasa, entah kapan lagi aku bisa memeluknya kembali.

Pagi pun tiba. Mentari bersama alam tersenyum ceria menghiburkan hatiku. Tapi aku tetap saja sedih. Kuhantarkan ayah dan ibu hingga terminal bus. Hingga akhirnya bus Handoyo membawa mereka meninggalkan pekarangan terminal. Tangisku kembali pecah. Kali ini tubuh Mbah Putri yang memelukku. Menenangkanku dengan senyum yang khas.

Sudah... pulang yuk! Doakan saja biar ayah dan ibu selamat sampai tujuan, dan lebaran nanti bisa pulang lagi. Sudah, jangan menangis ya, ujar Mbah Putri sembari membimbing tubuh mungilku yang sudah lemas tak berdaya. Aku benci hari ini. Benci.

Hari-hari yang sulit telah dimulai. Sulit beradaptasi. Sulit menahan emosi. Aku pun menjadi anak yang pemurung. Apabila malam datang aku seperti anak yang kesetanan. Meraung-raung bergeluntungan. Tak tahu apa rasa hatiku. Hanya sakit, benci, kesal dan tak tertahankan. Kubanting sepeda yang ayah belikan tiga hari sebelum kepulangan mereka. Sepeda yang kuanggap sebagai tipuan indah tuk meninggalkan aku.

Mbah Putri dan Mbah Kakung tampak sedih melihat keadaanku. Di tengah malam yang dingin mereka membawaku pergi ke desa tetangga. Dengan aku yang berada dalam gendongan sarung Mbah Kakung. Entah mengapa aku merasa damai dalam gendongan itu. Pasti sangat lelah menggendongku dengan bobot 25kg.

Lama kami berjalan akhirnya kami sampai juga di rumah yang kami tuju. Rumahnya sederhana, tapi sangat besar dibandingkan rumahku. Aku diturunkan di bangku panjang berkayu jati. Bangku yang khas, sama seperti bangku-bangku yang kujumpai di setiap rumah di desa mbahku.

Seorang kakek tua keluar dari sebuah kamar. Senyumnya menyambutku. Mendekatiku, kemudian mengelus rambutku dan mengecup keningku. Mbah Kakung pun mengenalkannya sebagai Mbah Ngirpan. Adik sepupu dari Mbah Kakung. Aku pun menyalaminya penuh takzim. Inilah ajaran ibu, ketika bertemu dengan orang yang lebih tua harus memberi salam dengan mencium tangannya. Siapapun ia.

Berada di dekat Mbah Ngirpan aku merasa tenang. Diberikannya aku tulisan entah apa bacaannya, yang aku tahu itu huruf Arab. Dimasukkannya dalam gelasku. Diberi air putih dan beliau pun mengomandoku untuk meminumnya. Sejak malam itu aku merasa lebih baik. Rasa rindu kepada orang tuaku mulai dapat kukontrol. Aku mulai belajar berbaur dengan lingkunganku. Meski rasa minderku masih tinggi. Setidaknya aku mulai memperbaiki diri.
***

Untuk kesekian kalinya kuterima surat dan beberapa lembar uang dari ayah dan ibu. Kali ini mengabarkan bahwa Lebaran tahun ini ibu dan ayah tidak dapat pulang menjengukku, pasalnya ibu sedang mengandung. Aku mulai cuwek dalam kepalsuan. Sedih yang tak terperihkan kini yang terasa. Kuhibur diri dengan bermain seharian bersama teman-temanku.

Bulan berikutnya datang kembali sepucuk surat dari bumi Lancang Kuning. Kali ini kabar tentang kelahiran adikku, seorang adik laki-laki. Sudah empat tahun aku tinggal di Jawa. Aku mulai terbiasa, biasa membagi cinta dengan Mbah Kakung dan Mbah Putri yang telah memberikan kasih sayangnya menggantikan posisi ayah dan ibu. Sejak itu, rasa sayangku pada mereka luntur. Dalam rindu penuh caci. Dalam harapan penuh kesal. Aku mengutuk diriku sendiri. Mencerca ayah dan ibu.

Aku buktikan prestasiku pada ayah dan ibu. Aku berhasil mendapat juara di setiap tahun pendidikan dasarku. Sampai pula pada jenjang sekolah menengah atas. Kini aku tengah duduk di bangku kelas XI. Lebaran kali ini, lagi-lagi ayah dan ibu tidak pulang. Namun, aku dan adikku beserta Mbah Kakung dan Mbah Putri yang diberi kesempatan untuk mengunjungi mereka, melihat tempat yang telah sepuluh tahun aku tinggalkan
***

Aku rasakan hal yang sangat berbeda di sini. Semua tampak asing. Sama seperti ketika aku datang pertama kali di kampung mbahku. Aku seperti tidak mengenal orang tuaku. Sulit rasanya. Entah bagaimana aku tidak dapat dekat dengan kedua orang tuaku. Padahal, sebelumnya aku sangat ingin banyak bercerita dengan ibu tentang hari-hari yang telah aku lalui tanpanya. Inginkan ia memelukku dalam dekapan canda tawa. Ah, tapi semua terasa kaku.

Nafa senang tidak di sini? Tidak seramai di Jawa kan? Ibu mengawali obrolan. Ini adalah obrolan pertama yang terjadi setelah tiga hari aku berada dekat dengannya.

Sepi. Lebih enak di Jawa, jawabku datar.

Nafa, sekarang kan Nafa sudah kelas XI, sebentar lagi Nafa akan lulus sekolah. Nafa mau kuliah di sini? Jika kuliah di sini, Nafa bisa pulang sebulan sekali bahkan seminggu sekali, ujarnya kemudian. Sepertinya ibu sedang merayuku untuk mau tinggal bersamanya. Tidak, aku tidak akan kuliah di sini, apa lagi tinggal untuk selama-lamanya. Tidak.

Kok diam, Nafa tidak rindu ya dengan Ibu?

Rinduku telah habis terkikis waktu yang membawa ibu pergi meninggalkanku. Untuk apa aku tinggal di sini? Bukankah ibu inginkan aku mendapat pendidikan yang terbaik? Aku akan kuliah di Jawa saja, toh universitas di Jawa lebih bagus pendidikannya, jawabku penuh acuh, ibu terdiam. Kurasakan tubuhnya bergetar. Aku pun begitu. Untuk beberapa waktu kami berada dalam diam.

Di Pekanbaru juga ada universitas yang bagus Nak, tidak penting kita belajar di mana yang penting bagaimana kita belajar, ujar ibu kemudian. Aku hanya tersenyum kecut. Seolah menerima buah masam yang ibu suguhkan.

Kenapa pemikiran ini tidak datang dari dulu, Bu? Nadaku mulai tinggi.

Bukankah Ibu yang inginkan aku jauh dari Ibu? Waktu aku sangat membutuhkan kasih sayang Ibu, Ibu tak pedulikan tangisku kala aku memohon agar Ibu membawaku ikut serta bersama Ibu. Bertahun-tahun aku memeram rindu, bertahun-tahun aku tinggal bersama si mbah. Mereka yang merawatku selama ibu tinggalkan. Kini saat mereka renta, Ibu memintaku untuk meninggalkan mereka? Tidak. Aku tidak mau. Bagaimanapun mereka telah menyayangiku dan merawatku penuh kasih. Memberikan apa yang tidak Ibu dan Ayah berikan. Kutinggalkan ibu dalam isaknya. Aku tak peduli lagi. Wajahku telah banjir oleh deras tangisku.

Aku berlari menyusuri jalanan sunyi. Hingga aku temukan sebuah rumah apik di ujung gang rumahku. Itu kediaman Bu Sri, guruku yang pertama kala aku menuntut ilmu di Bukit Gajah, desa tempat ayah dan ibu mengais rezeki. Entah mengapa aku jadi menumpahkan isi hatiku padanya. Kukatakan semua yang kurasa selama ini dan tak luput juga kejadian beberapa menit lalu bersama ibuku. Banyak sekali wejangan yang aku dapatkan darinya. Darinya pula aku mendapatkan jawaban dari kekesalan yang bertahun-tahun aku alami. Ternyata selama ini aku telah menutup mata hatiku. Menyugesti diri dengan emosiku sendiri.

Ibumu sangat menyayangimu, Nak. Jangan egois. Orang tua mana yang tidak inginkan anaknya tumbuh menjadi anak yang pintar, anak yang salehah, mereka inginkan yang terbaik untukmu. Lihatlah tubuhnya yang kurus kering. Berbagai penyakit datang silih berganti menggrogoti tubuhnya. Lihatlah Nak betapa ia tak bahagia jauh darimu. Paling tidak dekatkanlah dirimu kali ini. Buka hatimu. Turuti kata hatimu yang sebenarnya juga merindukannya. Mereka korbankan kebahagiaan mereka untuk melihatmu sukses. Melihatmu bahagia. Ingat Nak, bersusah susah dahulu, bersenanglah kemudian, ujar Bu De penuh sayang.

Baru aku tahu bagaimana sulitnya ibuku memeram rindu padaku. Ibu yang sering sakit-sakitan ketika begitu keras memikirkan aku. Tapi apa yang aku beri aku malah berpikiran yang tidak-tidak tentang dirinya. Tak pandai aku melihat cinta dari ayah dan ibu. Aku mulai sadar bahwa sebenarnya cinta mereka begitu besar kepadaku. Mereka sisihkan perasaan mereka tuk relakan aku pergi jauh dari hidup mereka yang semata-mata demi kebaikanku. Tak pedulikan gejolak batin mereka sendiri. Mereka ingin aku mengenyam pendidikan yang baik, terutama pendidikan agama.

Memang kulihat kali ini ibu tambah kurus, ternyata beliau sering sakit-sakitan karena menahan rindu. Rindu padaku yang terus mengutuk dalam kerinduanku padanya. Ibu, maafkan aku. Kau memang super hero, meski terluka kau tak pernah mau katakan itu. Kau berusaha tegar menyikapiku. Berikan kebahagiaan meski bukan secara langsung dari tanganmu. Karenamu kini aku dapatkan bekal hidupku. Karena cita-citamu kini aku dapatkan yang terbaik.

Aku segera pulang, berlari mendaki Bukit Gajah, sesampainya di rumah, kutubruk tubuh kurus ibu. Kuciumi, kudekap sekuatku. Kutumpahkan segalanya. Rasaku, rasa yang sekian tahun membelenggu. Ibu menyambut penuh haru. Kamipun larut dalam emosi.

Maafkan Ibu, Nak, Ibu telah tega menyakitimu. Tak mengapa jika kau tak mau tinggal bersama Ibu, asal kau bahagia. Asal kau bahagia, ujarnya lirih masih memelukku. Matanya sembab.

Tidak Bu, Nafa akan pulang, Nafa akan tinggal bersamamu. Nafa tak mau lagi jauh dari Ibu. Sudah cukup 11 tahun aku pergi. Aku tak mau kehilangan momen bahagia bersamamu. Nafa sayang Ibu. Maafkan Nafa yang tak mengerti akan perasaan Ibu selama ini. Maafkan aku Ibu. Kami tenggelam dalam tangis, haru, bahagia.

Terima kasih ya Allah, ini adalah momen yang indah bagiku. Terima kasih telah kau tunjukkan sisi lain dari kepahitan hidupku. Terima kasih telah membuka kembali mata hatiku. Kini aku dapat melihat bunga cinta ibuku yang tak pernah memerlukan air dan musim untuk dapat tumbuh menghiasi taman hidupku.

Ibu, kini aku dapat mengukir indah namamu sebagai super heroku. Yang tak hanya memperjuangkan hidupku dengan hidupmu saat melahirkanku, namun juga pemberi kasih sayang dan tak henti memberikan kebahagiaan dalam hidupku. Jasamu tak kan terbalas oleh apapun. Pun dengan nyawaku sendiri. Ibu, aku mencintaimu. Cinta yang takkan kubiarkan layu karena kebodohanku membaca cinta yang kau guratkan dalam hidupku.

Begitulah ibu, mencintai tanpa perlu kita tahu. Menyayangi dengan sekuat hati.***



Ulfatun Nimah,
Mahasiswi UIN Suska Riau.
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 wib

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Rabu, 19 September 2018 - 18:45 wib

Sembunyi di Lumpur, Perampok Berhasil Ditangkap

Rabu, 19 September 2018 - 18:30 wib

Pelabuhan Tikus Jalur Masuk Empuk Narkoba

Rabu, 19 September 2018 - 18:00 wib

TP PKK Ikut LMSI Tingkat Riau

Rabu, 19 September 2018 - 17:45 wib

Sekda Lantik Pengurus HNSI Tembilahan Hulu

Follow Us