Penata Tari Muda di Riau

Proses Kreatif ke Ruang yang Semakin Luas

17 Juni 2012 - 08.29 WIB > Dibaca 1196 kali | Komentar
 
Pada masa perkembangan sekarang ini, para penata tari muda di Provinsi Riau mempunyai kesungguhan yang kuat untuk memodernisasikan karya-karyanya. Dengan berakar pada tari tradisi yang hidup dan masih berkembang, para penata tari muda mencoba mencari perpaduan antara dua elemen yang berbeda yaitu tradisional dan modern. Kreativitas dan proses penciptaan dari para penata tari muda tersebut juga didukung oleh latar belakang pendidikannya dan pengalaman perjalanan berkeseniannya.

Dalam memodernisasikan karya-karyanya, dapat dilihat pada ide serta gagasan karya tarinya yang ditampilkan pada Parade Tari Daerah Riau 2012 yang ditaja oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau.

Pada Parade Tari Daerah Riau Tahun 2012 ini yang diikuti oleh sebelah kabupaten/kota di Riau, beberapa penata tari muda pada karyanya yang masih memperhatikan interaksi unsur-unsur budaya lokal (daerah setempat) dan ada juga dari beberapa karya tari yang mengusung unsur-unsur budaya daerah lain atau bukan budaya tempatan untuk di paksakan menjadi tampilan budaya daerah lain, yang jelas sangat berbeda dari bentuk maupun nuansa kedaerahannya.

Kabupaten Siak dengan judul tari Kasih Tak Sampai mengangkat sebuah legenda Putri Puyu-puyu dan Ikan Terubuk dengan konsep garapan gerak tari yang bersumber dari motif zapin yang dipadukan dengan silat dan joget. Kabupaten Pelalawan dengan judul tari Riang Pekerja mengangkat sebuah realita kehidupan para pekerja yang garapan geraknya bersumber dari zapin dan lenggang. Kabupaten Inderagiri Hulu dengan judul tari Begawai ide dan gagasannya bersumber dari tradisi begawai yang terdapat pada masyarakat Talang Mamak, karya tari disajikan dengan apik karena ditunjang dengan kualitas penarinya yang sangat baik. Kemudian berturut-turut tampil Kabupaten Rokan Hulu dengan karya tari Monimang Anak, Kabupaten Bengkalis dengan karya tari Menapak Gendang, Kabupaten Inderagiri Hilir dengan karya tari Srikandi Ambung, Kota Pekanbaru dengan karya tari Lang Menari, Kabupaten Rokan Hilir dengan karya tari Sungkek, Kabupaten Kuantan Singingi dengan karya tari Toro, Kabupaten Meranti dengan karya tari Kipas Mengkuang, dan Kabupaten Kampar dengan karya tari Ambu Kajai yang ide dan gagasannya sangat sederhana tapi menarik dalam penyajiannya, hanya kurang dalam proses garapnya.

Saya sebagai salah seorang Tim Pengamat Parade Tari Daerah Riau Tahun 2012 sangat gembira melihat karya-karya yang ditampilkan oleh peserta. Terutama karena karya-karya tari tersebut memberikan alternatif yang bermacam ragam, walaupun usaha pencariannya belum cukup tuntas dan pada konsep gerak tari masih pengaruh-mempengaruhi dengan istilah saya ‘’kau yang ada disana, juga ada di sini’’. Proses penggarapan gerak tari para penata tari muda ini belum terlihat sebagai ‘kematangan’, tapi masih mengikuti ‘trend’. Mana gerak-gerak tari yang ‘populer’ di pusat sana atau melihat karya-karya tari pemenang pada Parade Tingkat Nasional kemudian ‘diambilnya’ tanpa diproses dan sesuaikan dengan kondisi budaya setempat terutama kondisi kemampuan penarinya, seperti banyaknya peserta menggunakan gerak hip hop, gerak-gerak akrobatik yang berlebihan dan sering kali berulang-ulang, kadang diambilnya bentuk setengah utuh dari karya tari yang telah ada. Kalau hal ini terus dilakukan oleh pekerja tari ini namanya ‘pengrajin gerak’ bukan penata tari atau koreografer. Karena seorang penata tari atau koreografer dia berbicara tentang ide dan gagasan untuk menghasilkan karya tari yang orisinal kemudian melakukan eksplorasi gerak. Jadi seorang penata tari atau koreografer tidak ‘memungut/mengambil’ gerak-gerak tari yang telah jadi.

Seorang penata tari atau koreografer sebelum membuat karya tari harus melakukan eksplorasi. Apa yang dimaksud dengan eksplorasi? Alm M Hawkins dalam bukunya Creating Through Dance (New Jersey : Princeton Book Company, 1988): bahwa pengertian eksplorasi adalah suatu proses penjajakan, sebagai pengalaman untuk menanggapi obyek dari luar. Eksplorasi meliputi berpikir, berimajinasi, merasakan, dan merespon.

Pada tingkat pengembangan kreativitas, eksplorasi sebagai pengalaman pertama bagi seorang penata tari/penari untuk menjajaki ide-ide, rangsangan dari luar. Eksplorasi-penjelajahan sebuah proses untuk menghasilkan karya yang baik.

Proses penciptaan sebuah karya tari merupakan suatu aktivitas ilham atau sekadar hanya merupakan suatu ‘tugas’. Yang terpenting seorang penata tari harus memahami sebanyak mungkin tentang bidangnya dan harus sering melakukan ziarah batin dan pemahaman budaya daerah setempat.

Untuk kesekian kalinya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau menyelenggarakan Parade Tari Daerah untuk menghadirkan kreator-kreator tari muda di Provinsi Riau, yang setiap tahunnya mereka ‘berlomba’ untuk mendapatkan tiket mewakili Provinsi Riau ke jenjang nasional - Parade Tari Nusantara - di Taman Mini Indonesia Indah. Bermacam persiapan para penata tari muda untuk mengikuti (seleksi) Parade Tari Daerah di Pekanbaru, ada yang melakukan proses garapannya sangat panjang bahkan ada yang melakukan persiapannya sangat pendek alias dadakan. Ini bisa terlihat dari karya tari yang mereka tampilkan pada malam itu.

Kesempatan menampilkan karya tari dari penata tari muda di Riau adalah satu pertanda, bahwa kreativitas tari generasi muda tidak berhenti. Bagi yang berhasil mendapat predikat terbaik jangan cepat-cepat membusungkan dada, karena forum kesenian seperti Parade Tari bukanlah sebuah ukuran untuk menjadi seorang penata tari atau koreografer handal. Proses berkesenian yang berkesinambungan dan membuat jaringan budaya itu adalah yang paling penting untuk berlanjut atau tidaknya kita berkesenian. Sangat banyak forum-forum tari di Indonesia yang perlu dijajaki oleh para penata tari muda di Riau, seperti Indonesia Dance Festival (IDF), Forum Koreografi Bandung, Pekan Penata Tari Muda Dewan Kesenian Jakarta, dan masih banyak lagi forum-forum tari yang sangat lebih bergengsi ketimbang Parade Tari.

Yang terpenting disadari, untuk melahirkan karya tari yang baik dan bermanfaat tidak hanya cukup dengan ilmu saja. Kejujuran berkarya yang bertanggung jawab untuk melahirkan pribadinya dalam garapan tari membutuhkan proses yang cukup panjang dan peka dengan lingkungan budayanya.

Candralekha, koreografer terkemuka India pernah mengatakan: Sebagai seniman saya tidak melihat tradisi dan modernisasi sebagai dua hal yang terpisah. Bagi saya tugas seorang seniman adalah memodernisasi tradisi melalui proses kreatif, bukan meniru, meminjam, mencangkok, atau menjadi bayang-bayang seni budaya bangsa lain. Seorang seniman harus rajin melakukan ziarah batin guna mencermati diri sendiri, agar memungkinkan tradisi mengalir bebas dalam kehidupan kita kini.

Selamat untuk terus berkarya dan berkarya.***


SPN Iwan Irawan Permadi
Adalah salah seorang tokoh tari, koreogrfaer dan penari Riau yang terbilang produktif. Bermastautin di Pekanbaru.
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Sabtu, 17 November 2018 - 19:06 wib

Pekan Depan, Nasib OSO Diputuskan

Sabtu, 17 November 2018 - 14:10 wib

Tempuh 1.574 Kilometer, Terios Akhiri Ekspedisi di Wonders ke Tujuh

Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 wib

BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang

Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 10:46 wib

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi

Sabtu, 17 November 2018 - 09:50 wib

Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:48 wib

Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:41 wib

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kajati Riau Eksekusi Penunggak Iuran

Follow Us