Depan >> Opini >> Opini >>

J Ardan Mardan Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Komsat STIE Riau

Ramadan dan Produktivitas Amal Saleh

24 Juni 2016 - 10.40 WIB > Dibaca 15264 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Allah Swt telah menetapkan Ramadan sebaik-baik bulan dalam hi tungan-Nya. Ramadan menjadi bulan yang mulia karena Allah telah memuliakannya. Di antaranya bahwa Ramadan adalah bulan produktivitas amal saleh. Umat Islam dengan mudah meningkatkan spirit keIslaman dan menghasilkan amal-amal baik (saleh) pada bulan penuh ampunan ini. Allah Swt juga telah menyediakan perangkat-perangkat kemudahan dalam mengoptimalkan produktivitas amal saleh. Tentunya anugerah tersebut tidak wujud pada bulan-bulan selain Ramadan.

Perangkat-perangkat kemudahan tersebut adalah: Pertama, Allah telah membuka pintu surga selebar-lebarnya dan menutup pintu neraka serapat-rapatnya. Kedua, Allah telah membelenggu para syetan. Ketiga, Allah menyediakan pintu khusus di surga bagi orang-orang berpuasa, yaitu pintu al-Rayyan. Keempat, amal ibadah seorang hamba pada bulan Ramadan akan dilipatgandakan. Kelima, puasa akan memberikan syafa’at kelak pada hari Kiamat. Keenam, terdapat malam Lailatul Qadar (malam kemuliaan) lebih baik dari 1.000 bulan. Ketujuh, Alquran diturunkan pada bulan Ramadan.

Perangkat-perangkat di atas menunjukkan keagungan Ramadan. Mereka yang menyadari akan hal ini, pernah berangan-angan agar seluruh bulan dalam hitungan Allah sebaiknya Ramadan, namun Zat Yang Maha Mengetahui telah menetapkan bahwa Ramadan hanya salah satu bulan dari dua belas bulan dalam ketetapan-Nya. Sehingga mereka senantiasa bersungguh-sungguh, fokus, berkompetisi menggapai kebaikan-kebaikan Ramadan yang hadir hanya satu kali dalam setahun.   

Allah Swt menjadikan Ramadan tidak menjemukan, karena Ramadan dihiasi dengan variasi amal shaleh. Seperti puasa, sahur, shalat wajib, tilawah Alquran, salat-salat sunnah dan rawatib, zikir, belajar, saling nasehat-menasehati, zakat infak sedekah dan wakaf (ZISWAF), tarawih, tadarusan, tahajud, iktikaf dan ibadah-ibadah lainnya.

Keberagaman jenis ibadah pada Ramadan menjadikannya unik dan istimewa berbanding bulan-bulan selain Ramadan. Namun, ibadah-ibadah di atas hendaklah dilaksanakan dengan niat yang ikhlas karena Allah Swt dan dapat dipastikan pengamalannya sesuai syariat Islam. Dengan dua alat tersebut diharapkan ibadah Ramadan diterima di sisi-Nya, lalu seorang mukmin mengakhiri Ramadannya dengan husnul khatimah (akhir yang terbaik).

Sudah saatnya, umat Islam menyikapi masalah perbedaan furu’iyyat (cabang) dalam ibadah-ibadah Ramadan dengan penyikapan yang bijak. Misalnya perbedaan dalam bilangan rakaat tarawih, perbedaan tata cara witir, perbedaan qunut dalam shalat subuh. Pada umumnya perselisihan perkara tersebut bukan perselisihan pada perkara prinsip dan pokok, namun perbedaan dalam masalah tata cara pelaksanaannya yang memang ditemukan riwayatnya melalui sunnah dari berbagai jalur dan lafazh yang berbeda. Hal ini termasuk dalam kategori ikhtilaf tanawwu’ yang dibolehkan. Perbedaan untuk keberagaman dan bersifat saling melengkapi tersebut menjadi terlarang apabila disikapi dengan permusuhan, kesewenang-wenangan, fanatisme, dan perpecahan.

Perbedaan-perbedaan (ikhtilaf) tata cara pelaksanaan ibadah pada prinsipnya pasti terjadi.
Namun, dalam prinsip perbedaan juga bahwa perbedaan dalam masalah furu’ (cabang) tidak boleh memecah belah persaudaraan Islam (ukhuwwah Islamiyyah) dan perbedaan dalam pelaksanaan furu’iyyat adalah rahmat di mana para mukallaf mendapat keleluasaan dalam cara pelaksanaan ibadah. Sehingga perbedaan penyikapan masalah furu’iyyat tidak menjadi penghalang dalam memaksimalkan produktivitas amal saleh di bulan Ramadan.

Menuju peningkatan produktivitas amal saleh pada bulan Ramadan, ditopang juga dengan manajemen spiritual yang terbaik, manajemen mental yang terbaik, manajemen intelektual yang mencukupi, manajemen kesehatan fisik dan manajemen keuangan yang rapi.  

Allah Swt menyeruh kaum muslimin agar berkreasi dan berinovasi pada bulan Ramadan. Ramadan membuka seluas-luasnya pintu-pintu kebaikan. Umat Islam dipersilahkan untuk memasuki pintu-pintu kebaikan itu secara optimal. Jika demikian, Ramadan hadir bersama etos kerja seorang muslim.  Ramadan hadir untuk memberikan mashlahat besar kepada seorang muslim. Tidak tepat jika Ramadan berlabel penghambat kemajuan dan kesuksesan profesi. 

Rekaman sejarah Islam masa lalu menunjukkan kondisi riil yang menguatkan pernyataan tersebut. Sejarah telah membuktikan bahwa Ramadan bulan penuh pergerakan dan kejayaan.

Seperti kemenangan tentara muslim pada perang Badar al-Kubra (2 H), Fathu Makkah (8 H), pembebasan bumi Paletina oleh Shalahuddin Al-Ayyubi, perang Ain Jalut (1260 M) yang mampu menaklukkan tentara Mongol, penaklukan Andalusia oleh pahlawan Tariq bin Ziyaad, kemerdekaan bangsa Indonesia, semuanya itu terjadi pada bulan Ramadan. Maka sangat ironis jika Ramadan kali ini disikapi secara pesimis dan bermalas-malasan.

Target peningkatan amal shaleh adalah kesinambungan ibadah, baik ibadah di bulan Ramadan maupun di luar bulan Ramadan. Hal ini menekankan bahwa ibadah itu bukan hanya pada bulan Ramadan saja. Kita tidak ingin menjadi muslim hanya pada bulan Ramadan, kita tidak berharap menjadi seorang mukmin saat Ramadan tiba saja. Karena kita memahami bahwa tuntutan iman dan takwa adalah sepanjang masa. Adapun hadirnya Ramadan sebagai penghulu bulan, dipandang sebagai momen terbaik untuk meningkatkan produktivitas amal shaleh, dengan kemuliaan-kemuliaan yang dimilikinya.

Inilah di antara fenomena beragama yang biasanya terjadi di saat Ramadan tiba. Ramadan difahami sekadar ”musiman tahunan” tanpa hakikatnya. Ramadan difahami sekedar ”kulitnya” tanpa eksistensinya. Ramadan dirasakan sebagai ’beban spritual’ bukan kecintaan yang melahirkan ketaatan. Sehingga berimplikasi kepada rendahnya produktivitas amal saleh seorang hamba di bulan Ramadan.

Ulama berpendapat, untuk mengukur kualitas ibadah seorang hamba kepada Allah, maka dapat diukur pada bulan mulia ini. Karena kemuliaan dan keutamaan yang sangat istimewa yang hanya dimiliki Ramadan, dan hal demikian hanya diberikan bagi orang-orang beriman yang berkomitmen untuk meraihnya. Apabila kualitas dan kuantitas ibadah hamba meningkat pada bulan penuh keberkahan ini, maka sesungguhnya ia telah mendapatkan kebaikan dan kemuliaan Ramadan. Apabila kualitas dan kuantitas ibadah hamba biasa-biasa saja di bulan penuh ampunan ini, maka sesungguhnya ia telah merugi. Dan apabila kualitas dan kuantitas ibadah hamba semakin berkurang pada bulan penuh rahmat ini, maka sesungguhnya ia tercela.

Kita harus segera bertaubat, apabila jiwa ini tidak bersuka cita dengan kehadiran Ramadan. Kita harus segera bertaubat, apabila amal shaleh tidak meningkat atau bahkan menurun saat bersama Ramadan. Kita harus segera bertaubat, apabila hati ini tidak mampu untuk menghancurkan bongkah kedengkian dan keangkuhan yang bersemayam pada jiwa ketika bersama Ramadan. Kita harus segera bertaubat, apabila Ramadan berakhir nantinya, sementara kita tidak mampu menggapai kebaikan dan kemuliaan Ramadan sedikitpun. Kita berlindung kepada Allah ta’ala!

Semoga didikan Ramadan tahun ini dapat memberikan pengaruh signifikan terhadap perbaikan kondisi umat. Dipahami memang, bahwa akar permasalahan bangsa ini adalah dekadensi karakter anak bangsa yang bekerja pada lini-lini kehidupannya. Jika akar permasalahan itu ditemukan solusinya di Ramadan tahun ini, seterusnya mampu diimplementasikan secara merata dan penuh tanggungjawab, maka insyaAllah bangsa ini dapat menjadi bangsa yang baik, bermartabat serta mendapat ampunan dari Allah Swt. Bangsa ini akan kuat jika bersama Allah. Semoga Allah Swt memudahkan kita untuk memaksimalkan produktivitas amal saleh pada Ramadan tahun ini.***
KOMENTAR
Terbaru
Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 WIB

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 WIB

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 WIB

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 WIB

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 WIB

Follow Us