Opini

Tadarus Alquran

22 Juli 2011 - 07.09 WIB

Kedatangan Bulan Suci Ramadan setiap tahun diharapkan akan dapat memacu semangat kita untuk mempelajari Alquran dan menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup dalam arti kata yang sesungguhnya.

Alquran yang diturunkan Allah sebagai pedoman hidup umat manusia sejagat seharusnya dapat menjadi sumber aspirasi bagi kita semua dalam  menjalani segala aktivitas kehidupan sehari-hari sebagai hamba Allah yang beriman sehingga dapat memberi kebahagiaan lahir batin dunia akhirat.

Dengan cara itu, Insya Allah Alquran benar-benar bisa menggiring ruh kita untuk membawa jasad menempuh jalan yang lurus menuju surga Allah yang penuh dengan kenikmatan. Insya Allah Amin.

Surga memang harus menjadi impian kita semua. Surga yang dijanjikan Allah di dalam Alquran itu benar-benar harus kita perjuangkan selagi kita masih hidup di dunia yang fana ini.

Surga hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang suci dari segala noda dan dosa. Surga tidak menerima yang kotor (dosa) walaupun hanya sebesar zarah (atom).

Tetapi siapakah di antara kita yang benar-benar suci dari segala noda dan dosa itu tanpa disucikan Allah. Allah sendiri menyatakan bahwa tidak ada seorang pun anak manusia yang luput dari noda dan dosa termasuk para Rasul sekali pun.

Mahluk ciptaan Allah yang paling suci hanyalah malaikat karena mereka tidak punya naluri untuk ingkar kepada Allah.

Segala perintah Allah dikerjakannya dengan sungguh-sungguh, dan tidak pernah mengenal lelah. Para maialikat memang tidak termasuk ke dalam kelompok mahluk yang diuji Allah. Mahluk yang diuji Allah hanyalah manusia dan jin.

Nabi Adam adalah manusia pertama yang diuji Allah dengan perintah dan larangan. Allah memerintah Nabi Adam untuk tinggal di surga dan menikmati segala fasilitas yagn disediakan Allah, kecuali mendekati pohon khuldi.

Namun karena Nabi Adam juga manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan, dia melanggar perintah Allah.

Buah khuldi bukan saja didekatinya melainkan dimakan bersama isterinya Siti Hawa. Inilah yang menyebabkan dia terusir dari surga dan diturunkan ke dunia yang fana. Itulah takdir Allah dan kita sama sekali tidak boleh menyalahkan takdir Allah.

Nabi Adam memakan buah kuldi adalah disebabkan karena termakan bujuk rayu Iblis yang durhaka, benar dikatakan salah dan yang salah justru dianggap benar.

Karena itu kita terus menerus diingatkan Allah agar tidak tergoda oleh bujuk rayu iblis yang suka menggoda dengan masuk ke dalam hati sanubari manusia yang kurang beriman.

Dalam surat Al-Muzammmil ayat 1-8 Allah telah berfirman yang artinya: Hai orang yang berseilmut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (atau seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Alquran itu dengan perlahan-lahan.

Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusus) dan bacaan waktu itu lebih berkesan.

Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. (Al-Mulzzammil: 1-8).  Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Sejak ayat ini diturunkan Allah, nabi kita memang tidak pernah berhenti dari membaca Alquran. Dialah orang pertama yang membaca dan menghafal Alquran dan menjadikan Alquran sebagai jalan hidupnya (the way of life).

Kalau mau mengetahui akhlak Nabi, maka lihatlah Alquran, apa yang disampaikan Allah melalui Alquran, itulah yang dikerjakannyanya. Karena itu Nabi Besar Muhammad SAW benar-benar menjadi suri teladan yang utama bagi kita semua.

Nabi Muhammad SAW juga selalu menangis. Dia menangis bukan karena kesulitan dalam menjalankan misinya untuk menyampaikan ajaran Alquran melainkan karena memikirkan nasib orang-orang  yang tidak mau menerima kebenaran ajaran Alquran.

Nabi sangat paham bahwa orang itu satu saat pasti akan menyesal, termasuk pamannya sendiri Abi Thalib yang sampai nafas terakhir tidak menyebut kalimat sahadah sehingga tidak masuk ke dalam kaum muslimin.

Pada hal Dia tahu betul bahwa pamannya itu adalah orang yang sangat gigih bukan saja mendidik dan membesarkannya, melainkan melindungi dan membelanya mati-matian dari serangan kaum kafir Quraish yang zalim.

Allah menghibur nabi untuk tidak terlalu bersedih atas tingkah laku kaum kafir yang zalim itu. Tugas Engkau hanya menyampaikan Alquran ya Muhammad, sedangkan yang memberi petunjuk dan hidayah adalah Aku.

Kalau Allah tidak memberi petunjuk, maka tidak ada orang yang mampu memberi orang petunjuk, termasuk para nabi sekalipun.

Bulan Suci Ramadan adalah momentum yang paling tepat bagi kita untuk mensucikan diri dengan puasa dan membaca Alquran.

Kalau puasa benar-benar dapat kita kerjakan dengan iman dan penuh dengan perhitungan dalam arti kata menjaga diri dari segala yang dapat merusak dan membataskan puasa, Insya Allah, Allah akan mengampuni segaa dosa kita sehingga menjadi suci bagaikan bayi yang baru dilahirkan dari kandungan ibunya. Hal inilah yang dicontohkan oleh Baginda Rasul sejak dia menerima wahyu pertama di Gua Hira.

Di tengah malam hari Dia selalu bangun untuk melaksanakan salat Tahajud. Dalam salat Tahajud itu dia membaca Alquran. Huruf demi huruf, kata demi kata, ayat demi ayat dia lafazkan dengan suara lembut sehingga sampai bengkak kakinya karena terlalu lama berdiri, kemudian dia rukuk dan sujud sambil memuji kemahabesaran Allah Yang Maha Agung. Nabi Muhammad SAW hatinya memang sangat lembut.

Dia selalu menangis dalam memikirkan nasib umatnya. Keingkaran kaum Quraish saat itu selalu menjadi keheranannya mengapa mereka begitu ingkar, pada hal Alquran benar-benar diturunkan untuk menyelamatkan mereka dari jurang kehancuran.

Oleh itu mari kita membaca dan tadarus Alquran. Kalau di Masjidil Haram imam membaca Alquran satu juz satu malam baik pada salat Tarawih maupun Tahajud, maka tidak salahnya kalau kita yang hidup di Bumi Lancang Kuning ini mengikuti pula cara seperti itu.

Ketika imam membaca Alquran, kita dapat pula menyimak dengan melihat Alquran kecil yang kita bawa dan baca sehingga kita dapat mengikuti pula bacaan iman. Insya Allah dengan cara itu Alquran akan bergema di seluruh mesjid nusantara, termasuk di Riau, Amin.***


T Dahril Ketua ICMI Wilayah Riau.


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook