Bokor Folklore Festival 2012

Semangat Melestarikan Kearifan Lokal

24 Juni 2012 - 08.19 WIB > Dibaca 4655 kali | Komentar
 
Semangat Melestarikan Kearifan Lokal
Aktor-aktris Teater Selembayung beraksi dalam drama komedi berjudul “Batu Belah” karya Rina NE di malam pembukaan Bokor Folklore Festival 2012. (foto: fedli azis/riau pos)
Helat budaya terakbar di kabupaten Kepulauan Meranti usai sudah. Seluruh orang yang meramaikan acara pulang ke rumahnya namun helat yang berlangsung pada 20-23 Juni di kampung Bokor, Kecamatan Ransang Barat tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi semua orang yang mengikutinya. Sebuah helat yang diazamkan untuk membangkitkan semangat kearifan lokal.

Laporan FEDLI AZIS, Bokor

KAMPUNG Bokor yang biasanya sepi dari segala pesta-pesta, 20-22 Juni lalu ramai dikunjungi orang dari berbagai penjuru. Mereka hadir untuk memeriahkan helat budaya Bokor Folklore Festival yang dilaksanakan pemerintah Kabupaten Meranti bersama Sanggar Bathin Galang asuhan Sopandi SSos, anak jadi Bokor. Helat lanjutan Fiesta Bokor Riviera itu berlangsung ‘wah’ dan mengesankan, meski tanpa pesta buah seperti durian, manggis dan cempedak.

Helat dibuka langsung Wakil Gubernur Riau HR Mambang Mit, Rabu (20/6) malam di lapangan sepakbola Bokor yang cukup luas. Uniknya, pembukaan acara ditandai dengan istilah tempatan yakni ‘cekah durian’ (membuka durian). Dalam kesempatan itu, Mambang Mit menegaskan bahwa Bokor Folklore Festival merupakan upaya positif untuk membangkitkan ‘batang terendam’ alias membangkitkan semangat kearifan lokal yang lambat laun mulai ditinggalkan masyarakat. Bokor bisa dijadikan contoh bagi kampung-kampung lainnya di Riau.

‘’Kegiatan ini untuk memupuk bakat para generasi muda dan penangkal arus negatif dari luar yang cendrung menyesatkan. Selain itu, juga bermanfaat dalam meningkatkan perekonomian, minimal selama acara berlangsung. Kami mendukung penuh pelaksanaan helat ini setiap tahunnya,’’ ungkap Mambang Mit usai membuka acara.

Bokor Folklore Festival dimulai sejak Rabu (20/6) pagi dengan agenda pawai budaya di atas sampan yang dimeriahkan wakil-wakil grup kesenian undangan. Pawai tersebut dilepas Wakil Bupati Kepulauan Meranti Drs H Masrul Kasmy MSi. Setelah itu, dilanjutkan dengan pembukaan di malam harinya. Pada malam pembukaan tampil berbagai grup seni, seperti grup musik jazz Melayu Bujanggi, grup Teater Selembayung (Pekanbaru), kolaborasi musisi dari ISI Padangpanjang dengan penari Malaysia serta kolaborasi musisi Medan Tengku Rio, musisi Riau dan Jakarta serta penampilan musik dan tari dari grup seni tempatan, Sanggar Bathin Galang.

Bujanggi dengan komposernya Eri Bob tampil dengan karya-karya musik dan lagu yang dilantunkan vokalisnya Siska Mamiri. Sedang Tengku Rio, sang violin asal Melayu Deli (Medan) berkolaborasi dengan musisi dan penyanyi Riau serta Jakarta. Penampilan grup-grup musik tersebut mendapat apresiasi yang tinggi dari ribuan warga kampung Bokor dan kampung=kampung sekitarnya. Apalagi, Tengku Rio dan Eri Bob mampu mengkolaborasikan musik Melayu dengan musik kekinian yang terus mengalami perkembangan dari masa-ke masa.

Penampilan anak-anak Teater Selembayung karya Rina Nazaruddin Entin tak kalah seru dengan format teater komedi yang cocok dikonsumsi masyarakat tempatan. Cerita yang diangkat adalah cerita rakyat Riau berjudul ‘’Batu Belah’’ dari cerita Batu Belah Batu Bertangkup yang populer hingga hari ini. Begitu pula dengan penampilan tari dan musik dari kolaborasi Padangpanjang dan Malaysia serta grup tempatan. Malam itu berlangsung semarak hingga larut. Ditambah lagi, di tepi lapangan banyak pula warga yang menjual berbagai kerajinan rakyat seperti kue-mueh dan makanan lokal yang menggugah selera. Artinya, semua orang bisa menyaksikan berbagai pertunjukan dan segala kemeriahannya sembari menyantap penganan, baik yang sudah disediakan panitia maupun pedagang lokal di stan-stan yang tersebar di seputaran lapangan tersebut.

Di hari kedua, Kamis (21/6) sejak pagi dimulai dengan berbagai agenda seperti lomba lari di atas tual satu, di atas Sungai Bokor, tepat di depan pelabuhan kampung. Dalam waktu bersamaan digelar pula perlombaan mendorong tual sagu di lapangan, menganyam atap dari daun sagu serta lainnya. Tidak kalah meriahnya tentu saja agenda wisata sungai yang membentangkan pemandangan hutan mangrove (bakau) yang cukup asri di kampung tersebut. Malam harinya ditampilkan berbagai pertunjukan seni seperti Tengku Rio Cs, grup drama asal Rohil asuhan Walid Singkit berjudul ‘’Prahara’’, tarian dari grup asal Ransang Barat yakni Bantar serta pembacaan puisi oleh penyair tempatan Suryadi.

Di malam ketiga, tampil tiga grup seni yakni grup musik Blacan Aromatic asuhan Matrock dan grup Teater Mara asuhan Hang Kafrawi dan penampilan Sanggar Bathin Galang. Hang Kafrawi menjelaskan, helat tersebut dinilai bagus terutama bagi pengembangan seni pertunjukan baik tradisi maupun modern. Selain itu diharapkan ke depan peserta atau grup-grup seni mengundang grup asal Riau lebih banyak lagi, begitu juga grup seni asal manca negara. ‘’Ke depan diharapkan acara dikemas lebih baik lagi sehingga orang datang terkesan dan mau datang lagi ke sini,’’ katanya usai pertunjukan karyanya berjudul ‘’Hikayat Puyu-puyu’’.

Penampilan-penampilan kesenian yang berlangsung selama tiga malam berturut-turut itu memberi kesan mendalam bagi masyarakat tempatan dan hal ini diungkapkan mereka dalam berbagai kesempatan. Bahkan Sopandi menegaskan, bahwa helat budaya itu mampu meningkatkan rasa percaya diri mereka pada orang luar. ‘’Kami bisa menjual hasil tanaman dan kerja kreatif kami pada acara ini. Kami sudah mempersiapkan diri sejak jauh-jauh hari dan berharap ke depan makin banyak lagi yang bisa hadir ke sini,’’ ujarnya panjang lebar.

Pada helat yang ditutup Kepala Dinasbuparpora Kabupaten Meranti Ishak Izrai tersebut hadir pula Kasi Widya Wisata Kementerian Pariwisata RI Atju Saleh Hidayat yang mengaku salut pada masyarakat kampung Bokor. Dikatakannya, bahwa kampung tersebut layak dan berpotensi dijadikan kawasan pariwisata Kepulauan Meranti dan dengan pemanfaatkan semua potensi yang ada di Bokor. Bahkan dengan menyiapkan sarana-prasarana pendukung helat tersebut bisa diagendakan sebagai salah satu agenda wisata nasional.

‘’Pemerintah dan masyarakat tempatan harus saling mendukung untuk menjadikan kampung ini sebagai kawasan wisata yang diminati wisatawan dengan cara meningkatkan sarana-prasarana dan pelayanan. Saya percaya, potensi Bokor besar untuk menjadi salah satu agenda wisata nasional,’’ ulas Atju Saleh Hidayat mengakhiri.

Sayangnya, helat sebesar Bokor Folklore Festival yang sudah berlangsung dua tahun belakangan masih terdapat banyak kekurangan. Pelaksanaan acara jauh dari sempurna. Panitia yang terpisah antara panitia orang tempatan dengan pihak pemerintah membuat helat itu kurang tergarap secara baik. Bahkan banyak pula peserta yang mengeluh dengan pembayaran dana produksi yang dijanjikan. Hingga kemarin, masih ada grup yang belum mendapatkannya padahal, grup tersebut tampil dengan maksimal.***
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Perusahaan Diminta Peduli

Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Selasa, 18 September 2018 - 17:22 wib

AJI Pekanbaru Kirim Delegasi ke Festival Media 2018 di Pontianak

Selasa, 18 September 2018 - 17:00 wib

Maksimalkan Peningkatan Kualitas Pendidikan

Selasa, 18 September 2018 - 17:00 wib

OOTD Jadi Inspirasi Fashion Bagi Banyak Orang

Selasa, 18 September 2018 - 16:44 wib

Australia Diserang Stroberi Berisi Jarum

Selasa, 18 September 2018 - 16:30 wib

Bupati Terima Dua Permendagri

Follow Us