Potret Pendidikan di Era Kapitalisme

3 Januari 2017 - 11.09 WIB > Dibaca 739 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Apa kabar pendidikan Indonesia saat ini? Sebuah pertanyaan yang jawabannya hanya berhenti pada kata “buruk”. Bagai­mana tidak? Berbagai permasalahan yang silih berganti datang tak kunjung menemukan solusi.  Bahkan semakin hari semakin rumit dan merembet ke segala arah.

Baru-baru ini Indonesia digegerkan dengan kasus yang luar biasa. Potret kelam dunia pendidikan Indonesia terlihat di Samarinda, Kalimantan Timur. Lima siswa sekolah dasar di Samarinda Ulu nekat berpesta minuman keras di kelas. Mereka adalah Ys (13), Ds (12), Yr (12), Fi (12), dan Dn (15). Mereka menenggak miras di sela-sela pelajaran ketika guru lengah. Miras yang dikonsumsi adalah jenis anggur dan oplosan alkohol 70 persen serta minuman berenergi. Tak hanya itu, bocah-bocah itu juga sesekali mencampur obat sakit kepala ke dalam miras yang ditenggak. Gara-gara pengaruh miras tersebut, sikap Dn dan kawan-kawan pun jadi tak terkendali.

Hal ini sangat disayangkan dan ten­tu saja perlu perhatian khusus dari peme­rintah. Karena anak-anak ini adalah ge­ne­rasi penerus peradaban. Namun kenyataannya, tidak ada solusi berarti yang mampu menghentikan perilaku tersebut. Bahkan kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah justru memudahkan akses bagi anak-anak untuk melakukan tindakan tersebut. Mudahnya memperoleh bahan-bahan pembuat miras dan kuatnya contoh perilaku konsumsi miras adalah buah sistem liberal. Pemerintah tidak memiliki regulasi tegas untuk menutup pintu produksi dan peredaran miras.

Siswa SD yang pesta miras juga me­nunjukkan betapa lemahnya penanaman pendidikan nilai di keluarga, semakin liberalnya penanaman nilai dalam kurikulum sekolah (problem karakter bangsa), dan lingkungan sekolah yang menyuburkan perilaku buruk. Pendidikan dalam sistem kapitalisme tidak ditujukan membentuk kepribadian. Pendidikan justru dijadikan penopang mesin ka­pi­talisme, dengan diarahkan untuk menyediakan tenaga kerja yang memiliki pengetahuan dan keahlian. Akibatnya kurikulum disusun lebih menekankan pada pengetahuan dan keahlian, tapi kosong dari nilai-nilai agama dan moral. Pendidikan akhirnya hanya melahirkan manusia robotik, pintar dan terampil, tapi tidak religius dan tak jarang juga culas.

Itulah hasil pendidikan sistem saat ini, sangat berbeda dengan pendidikan dahulu saat sistem Islam diterapkan dalam kehidupan bernegara. Terbukti menghasilkan generasi terbaik di se­panjang sejarah, seperti kalamullah dalam QS. Ali Imran ayat 110, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” Bukan hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tapi nilai-nilai agama maupun moral patut diacungi jempol. Generasi yang mampu memimpin dunia dengan kesejahteraan yang merata untuk seluruh umat manusia, bukan untuk segelintir orang. Itulah sistem Islam, yang menghasilkan generasi terbaik pemimpin peradaban manusia yang sangat dinanti-nanti saat ini.***


Novita Tristyaningsih Amd Ak, tristyaningsihnovita77@gmail.com   
KOMENTAR
Terbaru
Disperindag Antisipasi Kelangkaan Elpiji 3 Kg

Jumat, 16 November 2018 - 13:15 WIB

Awal 2019, 20 SD Negeri Dimerger

Jumat, 16 November 2018 - 13:00 WIB

Sedang Berenang, Bocah Diterkam Buaya

Jumat, 16 November 2018 - 13:00 WIB

Kenaikan PPJ Bisa Batal

Jumat, 16 November 2018 - 12:42 WIB

BKPP Jamin Rekrutmen CPNS Transparan

Jumat, 16 November 2018 - 12:30 WIB

Follow Us