Mengapa Jalan SM Amin Ujung Harus Rigit Pavement?

3 Februari 2017 - 10.49 WIB > Dibaca 1228 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Jalan SM Amin Ujung Harus Dibangun Rigid. Ini adalah sebuah judul pemberitaan Riau Pos yang sangat menarik. Dari judul ini seolah-olah memberitahu bahwa: struktur jalan yang penting, jalan nasional atau jalan yang bertonese berat seharusnya menggunakan sistem jalan rigid pavement bukan lagi jalan aspal. Faktanya, jalan yang tidak sepenuhnya dalam kondisi buruk, namun bergelombang dan juga terjadi kerusakan mirip sebuah kawah berdiameter 1 meter, menganga dipenuhi air berwarna coklat. Di sini, sepanjang pantauan Riau Pos siang itu tidak pernah sepi. Truk-truk raksasa melambat ke titik maksimal bahkan berhenti. Motor-motor berwajah masam yang mengekor di belakang terlihat menahan sabar. Kerusakan Jalan SM Amin ini membuat antrean kendaraan melintas hingga 1 kilometer (Riau Pos, Kamis 26/1/2017).

Mengapa harus rigit pavement? Perkerasan jalan beton semen portland atau lebih sering disebut perkerasan kaku atau juga disebut rigit pavment, terdiri dari pelat beton semen portland dan lapisan pondasi (bisa juga tidak ada) di atas tanah dasar. Menurut Suryawan, perkerasan beton yang kaku dan memiliki modulus elastisitas yang tinggi, akan mendistribusikan beban terhadap bidang area tanah yang cukup luas, sehingga sebagian besar dari kapasitas struktur perkerasan diperoleh dari slab beton sendiri. Hal inilah yang menyebabkan jalan rigid pavment tahan terhadap truk-truk berat yang mempunyai tonase berat. Berdasarkan adanya sambungan dan tulangan plat beton perkerasan kaku, perkerasan beton semen dapat diklasifikasikan menjadi 3 jenis sebagai berikut: Pertama, perkerasan beton semen biasa dengan sambungan tanpa tulangan untuk kendali retak; Kedua, perkerasan beton semen biasa dengan sambungan dengan tulangan plat untuk kendali retak. Untuk kendali retak digunakan wire mesh di antara siar dan penggunaannya independen terhadap adanya tulangan dowel. Ketiga, perkerasan beton bertulang menerus (tanpa sambungan). Tulangan beton terdiri dari baja tulangan dengan persentasi besi yang relatif cukup banyak (0,02 persen dari luas penampang beton). Pada saat ini, jenis perkerasan beton semen yang populer dan banyak digunakan di negara-negara maju adalah jenis perkerasan beton bertulang menerus.

Dalam konstruksinya, plat beton sering disebut sebagai lapis fondasi karena dimungkinkan masih adanya lapisan aspal beton pada bagian atasnya yang berfungsi sebagai lapis permukaan.

Mengapa harus rigit pavement? Rigid pavement atau perkerasan kaku adalah jenis perkerasan jalan yang menggunakan beton sebagai bahan utama perkerasan tersebut, merupakan salah satu jenis perkerasan jalan yang digunakan selain dari perkerasan lentur (asphalt). Perkerasan ini umumnya dipakai pada jalan yang memiliki kondisi lalu lintas yang cukup padat dan memiliki distribusi beban yang besar, seperti pada jalan-jalan lintas antar provinsi, jembatan layang (fly over), jalan tol, maupun pada persimpangan bersinyal. Hal ini berbeda dengan perkerasan lentur (jalan aspal) di mana kekuatan perkerasan diperoleh dari tebal lapis fondasi bawah, lapis pondasi dan lapis permukaan; di mana masing-masing lapisan memberikan kontribusinya.

Mengapa harus rigit pavement? Jalan-jalan tersebut umumnya menggunakan beton sebagai bahan perkerasannya, namun untuk meningkatkan kenyamanan biasanya di atas permukaan perkerasan dilapisi asphalt. Keunggulan dari perkerasan kaku sendiri dibanding perkerasan lentur (asphalt) adalah bagaimana distribusi beban disalurkan ke subgrade. Perkerasan kaku karena mempunyai kekakuan dan stiffnes, akan mendistribusikan beban pada daerah yangg relatif luas pada subgrade, beton sendiri bagian utama yangg menanggung beban struktural. Sedangkan pada perkerasan lentur karena dibuat dari material yang kurang kaku, maka persebaran beban yang dilakukan tidak sebaik pada beton. Sehingga memerlukan ketebalan yang lebih besar.

Mengapa harus rigit pavement? Pada konstruksi perkerasan kaku, perkerasan tidak dibuat menerus sepanjang jalan seperti halnya yang dilakukan pada perkerasan lentur. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya pemuaian yang besar pada permukaan perkerasn sehingga dapat menyebabkan retaknya perkerasan, selain itu konstruksi seperti ini juga dilakukan untuk mencegah terjadinya retak menerus pada perkerasan jika terjadi keretakan pada suatu titik pada perkerasan. Salah satu cara yang digunakan untuk mencegah terjadinya hal di atas adalah dengan cara membuat konstruksi segmen pada perkerasan kaku dengan sistem joint untuk menghubungkan tiap segmennya.    

Mengapa harus rigit pavement? Sebab, yang sangat menentukan kekuatan struktur perkerasan dalam memikul beban lalu lintas adalah kekuatan beton itu sendiri. Sedangkan kekuatan dari tanah dasar hanya berpengaruh kecil terhadap kekuatan daya dukung struktural perkerasan kaku.Lapis fondasi bawah, jika digunakan di bawah plat beton, dimaksudkan untuk sebagai lantai kerja, dan untuk drainase dalam menghindari terjadinya “pumping”. Pumping adalah peristiwa keluarnya air disertai butiran-butiran tanah dasar melalui sambungan dan retakan atau pada bagian pinggir perkerasan, akibat gerakan lendutan atau gerakan vertikal plat beton karena beban lalu lintas, setelah adanya air bebas yang terakumulasi di bawah plat beton. Pumping dapat mengakibatkan terjadinya rongga di bawah plat beton sehingga menyebabkan rusak/retaknya plat beton.

 Tanah dasar konstruksi rigid pavment. Untuk daya dukung tanah ditentukan oleh CBR insitu sesuai dengan SNI 03-1731-1989 atau CBR Laboratorium sesuai dengan SNI 03-1744-1989, masing-masing untuk perencanaan tebal perkerasan lama dan perkerasan jalan baru. Di sini apabila tanah dasar memiliki nilai CBR di bawah 2 persen maka digunakan pondasi bawah yang terbuat dari beton kurus setebal 15 cm sehingga tanah dianggap memiliki CBR 5 persen. Pondasi Bawah, untuk bahan pondasi bawah biasanya digunakan: Bahan Berbutir, Stabilisasi atau dengan beton giling padat (Lean Rolled Concrete), dan  campuran beton kurus (Lean-Mix Concrete).

 Selain itu juga perlu diamati mutu beton yang  digunakan. Lalu lintas konstruksi rigid pavment. Bahu konstruksi rigid pavment. Bahu dapat terbuat dari bahan lapisan fondasi bawah dengan atau tanpa lapisan penutup beraspal atau lapisan beton semen. Nah, pada pedoman yang dimaksud dengan Bahu beton semen adalah bahu yang dikunci dan diikatkan dengan lajur lalu-lintas dengan lebar minimum 1,50 m, atau bahu yang menyatu dengan lajur lalu-lintas selebar 0,60 meter.***

Ir Rony Ardiansyah MT IP-U, pengamat perkotaan/dosen pascasarjana Magister Teknik Sipil UIR.
KOMENTAR
Terbaru
Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:30 WIB

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 WIB

Lima Keuntungan Menggunakan  Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 WIB

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 WIB

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 WIB

Follow Us