Depan >> Opini >> Opini >>

Dr H Irvandi Gustari Direktur Utama PT Bank Riau Kepri

Mencermati Teori Pengotakan Generasi

16 Februari 2017 - 10.36 WIB > Dibaca 662 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Generasi kok dikotak-kotakan? Begitulah yang dilakukan oleh pembuat teori generasi oleh William Strauss dan Neil Howe yang ditulis dalam bukunya yang diluncurkan pada tahun 1991 dengan judul “Generations: The History of America’s Future, 1584 to 2069”. Yang menarik untuk dicermati bahwa dalam kondisi pro dan kontra banyak kritik tentang teori generasi ini, namun teori generasi ini banyak diambil oleh berbagai penulis jurnal dan buku yang membahas masalah-masalah antar generasi, sehingga popular istilah-istilah generasi seperti generasi Pra Baby Boom, Baby Boom, generasi X, Y dan Z yang kita kenal saat ini.

Bisakah kita terima teori ini? Di manakah kelemahan teori generasi ini? Dan timbul pertanyaan lanjutan, Apakah  maksud dari teori ini yang mengkotak-kotakan generasi sehingga seolah-olah ada generasi unggulan dan ada generasi yang “memble”. Bukankah membuat teori yang universal harus dilakukan dengan jumlah sampling yang memadai, dan apa bisakah diberlakukan justifikasi untuk penduduk dunia secara keseluruhan? Pertanyaan yang paling sederhana lagi yang bisa menggugat langsung teori generasi ini. Mengapa teori ini dipakai secara universal untuk penduduk dunia oleh para pakar keilmuan, sedangkan si pembuat teori jelas-jelas menyatakan bahwa teori generasi ini hanya berdasarkan riset di Amerika saja. Lalu kok bisa dengan mudah melakukan universalisasi teori generasi ini untuk penduduk berbagai belahan dunia yang sangat beragam karakter dan budayanya?

Pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya akan bisa kita jawab secara singkat juga , walau hanya melalui artikel ini yang dibatasi oleh jumlah kata untuk setiap penerbitan, namun dengan cara sederhana, kita coba kupas kekuatan dari teori generasi tersebut.

Namun sebelum kita jawab, tidak ada salahnya kita ungkap sedikit mengenai pemikiran dari  William Strauss dan Neil Howe adalah sejarawan yang menelusuri sejarah Amerika Serikat (AS) secara mendalam tentang teori generasi tersebut.

Dalam buku mereka yang berjudul Generations, Strauss dan Howe menceritakan sejarah  AS sebagai rangkaian biografi generasi dari tahun 1584. Buku inilah yang mendasari teori mereka mengenai generasi. Kedua sejarawan ini mengembangkan teori mereka lebih lanjut dalam buku selanjutnya yaitu The Fourth Turning yang berfokus pada siklus empat tipe generasi dan suasana era di sejarah AS. Walaupun teori ini didasarkan pada sejarah AS, LifeCourse Associates —sebuah institusi konsultasi yang didirikan oleh Strauss dan Howe— terus mengembangkan teori ini dengan mempelajari tren generasi di negara lain dan menemukan siklus yang mirip di kebanyakan negara maju selain AS.

Dengan teori yang Strauss dan Howe yang dijelaskan dalam bukunya tersebut, dijelaskan  banyak prediksi anti-mainstream  pada tahun 1991 mengenai generasi Millennial yang ternyata banyak kecocokan hasil proyeksi atau peramalannya tentang  perilaku generasi tersebut dalam tahun-tahun berikutnya. Dalam buku  Strauss dan Howe tersebut, ada beberapa ramalan mereka yang relatif mendekati kebenaran dalam kaitan meramalkan perilaku yang akan terjadi pada generasi Y dan Z, di mana ada pandangan skeptis dari para ahli psikologi tentang perilaku para remaja menjelang dewasa dari tahun ke tahun yaitu ada kecenderungan ke arah perilaku negatif, namun pandangan dari Strauss dan Howe  cenderung bertolak belakang di mana mereka berdua memproyeksikan jumlah kasus kriminalitas remaja, kehamilan di luar nikah, konsumsi minuman keras dan rokok di bawah umur cenderung menurun.

Namun entah kebetulan atau tidak, ternyata pada generasi Y dan Z pandangan dari teori generasi untuk beberapa kasus di Amerika, ada benarnya juga, yaitu banyaknya pada remaja yang berprestasi pada zamannya. Namun memang belum ada pengukuran secara akurat dari para ahli lainnya, seberapa besar di Amerika generasi Y dan Z yang menonjol prestasinya dibandingkan dengan jumlah kasus-kasus lainnya yang mengarah kepada hal yang negatif. Ini memang perlu diuji lagi, tapi jangan pula langsung kita memberikan stempel bahwa teori generasi itu sudah valid.

Mengutip dari buku teori generasi tersebut, dinyatakan bahwa “Generasi” tidak ada satupun  definisi pasti karena pakar yang mempelajari tema tentang  generasi tidak hanya dua saja. Strauss dan Howe yang hanya dua ahli dari banyak pakar yang ada tentang generasi, mendefinisikan bahwa generasi sebagai agregat dari semua orang yang lahir selama rentang waktu sekitar dua puluh tahun atau sekitar panjang satu fase dari masa kanak-kanak, dewasa muda, usia pertengahan dan usia tua.  Secara singkatnya dinyatakan dalam teori generasi bahwa  terdapat tiga kriteria yang harus dimiliki oleh sebuah generasi yaitu usia lokasi dalam sejarah, kepercayaan dan perilaku yang sama, serta keanggotaan periode waktu yang sama. Kriteria pertama maksudnya adalah generasi yang sama akan mengalami peristiwa sejarah penting dan tren sosial bersamaan. Hal ini akan menyebabkan sebuah generasi akan berbagi beberapa kepercayaan dan perilaku yang sama. Kriteria terakhir artinya satu  generasi akan mengidentifikasi dirinya sebagai kelompok yang berbeda dibanding generasi lainnya. Mengenai rentang waku yang dipakai dalam teori generasi ini, bisa dan boleh saja kita gugat walaupun  si empunya teori generasi ini memiliki dalil yang kuat menurut mereka, dasar mereka menjadi waktu sekitar duapuluh tahunan untuk batasan satu generasi ke generasi berikutnya.

Menurut teori generasi ini secara keseluruhan yang ditelitinya mencakup tujuh generasi dengan dibagi atas  dari penelitian mereka dibatasi pada 2 generasi sebelum perang dunia kedua dan 5 generasi setelah perang dunia kedua. Dua generasi sebelum perang dunia kedua. Yaitu pertama, generasi pertama yaitu GI Generation dengan tahun kelahiran 1901-1924 dan kejadian yang terjadi adalah setelah World War I, GI Bill yaitu subsidi besar yang diberikan pemerintah kepada veteran yang kembali dari perang dunia membuat generasi GI cukup dimanja. Kedua, generasi kedua adalah Silent Generation dengan tahun kelahiran 1925-1942 dan kejadian yang terjadi adalah menjalani masa kecil yang diwarnai krisis seperti Great Depression dan World War II, bahkan kejadian Pearl Harbor dan D-Day, generasi ini termasuk generasi yang ”diam”.

Lebih lanjut 5 generasi yang dijelaskan dalam buku teori generasi tersebut bahwa setelah perang dunia kedua adalah generasi pertama adalah  Baby Boomer (lahir tahun 1946–1964) yaitu generasi yang lahir setelah Perang Dunia II ini memiliki banyak sanak saudara, akibat dari belum adanya pemahaman tentang pentingnya program keluarga berencana (KB). Generasi yang adaptif, mudah menerima dan menyesuaikan diri. Generasi Baby Boomer ini diberi stempel sebagai orang lama yang mempunyai banyak pengalaman hidup. Ada kesan pandangan dari teori generasi pada generasi Baby Boomer ini, mencocok-cocokan dengan kekunoannya. Ya pada zamannya tentu nggak kuno, tapi kalau diambil datanya saat teori generasi dibuat pada tahun 1991, tentu generasi Baby Boomer ini dianggap kuno ya.

Generasi kedua adalah Generasi X (lahir tahun 1965-1980) Tahun-tahun ketika generasi ini lahir merupakan awal dari penggunaan PC (personal computer), video games, tv kabel, dan internet. Penyimpanan datanya pun menggunakan floopy disk atau disket. MTV dan video games sangat digemari masa ini. Menurut hasil penelitian teori generasi, sebagian dari generasi ini memiliki tingkah laku negatif seperti tidak hormat pada orang tua, mulai mengenal musik punk, dan mencoba menggunakan ganja. Lagi-lagi hasil penelitian di Amerika itu tentunya tidak bisa kita jadikan sebagai generalisasi untuk diberlakukan pada seluruh belahan bumi tentunya.

Selanjutnya generasi ketiga yaitu Generasi Y (lahir tahun 1981-1994), Dikenal dengan sebutan generasi millenial atau milenium. Generasi ini banyak menggunakan teknologi komunikasi instan seperti email, SMS, instan messaging dan media sosial seperti facebook dan twitter. Mereka juga suka main game online. Disebutkan dalam teori tersebut, bahwa generasi Y ini memiliki karakter yang pragmatis, dan ingin transparansi, juga segala sesuatunya itu dilakukan secara “fair”. Kritikan tentang teori generasi pada generasi Y ini adalah terkesan bahwa karakter suatu generasi bisa digeneralisasi seolah-olah generasi Y ini yang lebih baik dari generasi sebelumnya, padahal karakter seseorang itu ditinjau dari berbagai kajian dan teori ilmiah manapun, disebutkan bahwa karakter seseorang tersebut bukan karena generasi, namun lebih kepada gen dan pengaruh pendidikan dan budaya dari keluarga inti, dan itu berlaku umum diberbagai belahan bumi lainnya, tapi entahlah ya kalau untuk Amerika ya.

Generasi keempat adalah Generasi Z (lahir tahun 1995-2010). Disebut juga iGeneration, generasi net atau generasi internet. Generasi ini memiliki kesamaan dengan generasi Y, namun generasi Z ini mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu seperti nge-tweet menggunakan ponsel, browsing dengan PC, dan mendengarkan musik menggunakan headset. Keseharian mereka kebanyakan berhubungan dengan dunia maya. Karena zamannya ya kali, mulai dari usia balita mereka sudah mengenal teknologi dan akrab dengan gadget canggih yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kepribadian mereka.

Terakhir atau generasi kelima adalah Generasi Alpha (lahir tahun 2011-2025), adalah Generasi yang lahir sesudah generasi Z, lahir dari generasi X akhir dan Y. Generasi yang sangat terdidik karena masuk sekolah lebih awal dan banyak belajar, rata-rata memiliki orang tua yang lebih makmur dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Generasi Alpha ini lebih senang berinteraksi dengan alat teknologi yang banyak memberikan kemudahan padanya dibandingkan berinteraksi dengan manusia lainnya.

Generasi X, Y, dan Z masing-masing mempunyai sifat positif dan negatif. Dengan memahami perbedaan mereka, diharapkan para pendidik atau para pemimpin perusahaan dapat mengerti individu-individu dari tiga generasi ini sesuai dengan ciri khasnya. Tentunya tantangan generasi Z lebih besar daripada generasi Y atau X sebagai generasi sebelumnya. Bagi para generasi X dan Y yang sudah dan akan memiliki generasi Z atau Alpha sebagai generasi penerusnya tentu harus sudah memahami karakteristik generasi termuda ini. Generasi ini patut diawasi terutama penggunaan internetnya, tapi tentunya tidak dikerasi. Sebagai orang tua, generasi X dan Y harus bersikap tegas tapi lembut dan sabar, membangun dialog dan komunikasi yang sehat serta terbuka, hadir secara utuh mendampingi mereka, serta memberikan pendidikan dengan nilai karakter positif dengan penuh cinta.

Keterbatasan dari teori generasi Strauss-Howe dapat dicermati dari cara perumusannya. Riset  yang dilakukan kedua sejarawan tersebut dalam merumuskan teori generasi terkesan kurang objektif  karena cenderung didasari literatur sejarah yang minim sumber data primer. Sebenarnya di Amerika sendiri teori generasi telah dikritisi oleh para akademinisi maupun para sejarawan yang menganggap teori ini sangat imajinatif karena kurangnya bukti yang konkret selayaknya penelitian ilmiah. Kritik lain tentang teori generasi ini  juga sangat deterministik dan sangat minim dalam memasukkan variabel-variabel  mikro di luar peristiwa sejarah yang sifatnya makro. Contohnya, karakter  seseorang akan lebih terbentuk oleh budaya dan tradisi keluarganya yang sangat kuat dibandingkan dengan kondisi nilai-nilai yang sedang “in” pada masanya.

Yang terjadi adalah mencocok -cocokan kejadian dengan kejadian yang ada  dan berusaha untuk cari pembenaran.  Kelemahan teori generasi dapat ditunjukan dalam beberapa hal sebagai berikut: Pertama, penelitian yang dilakukan untuk teori generasi ini hanya di Amerika. Sangat banyak persyaratan yang harus dipenuhi bilamana suatu penelitian pada suatu daerah tertentu dan hasilnya ingin dianggap sebagai yang berlaku universal di seluruh dunia.. Mengingat kondisi budaya di planet bumi ini bahwa ada jutaan budaya dan ratusan negara yang rasanya sangat sulit untuk membuat suatu teori berlaku universal untuk manusia penduduk bumi secara keseluruhan.

Kedua,  teori ini diluncurkan berbarengan dengan bukunya yaitu pada tahun 1991, berarti untuk penelitian yang terjadi sebelum 1991, menggunakan pola penghimpunan data dan pengamatan yang bisa diduga minim sekali. Tambah lagi yang diulas dalam teori generasi tersebut adalah pola kehidupan manusia sejak tahun 1900, dengan demikian ada materi 100 tahun yang lalu yang ikut dijadikan sebagai dasar teori generasi tersebut. Ada baiknya kita pertanyakan sejauh mana data yang diperoleh?

Ketiga, adalah teori generasi ini untuk kejadian buat generasi Z dan generasi Alpha, yang kejadiannya adalah 100 tahun ke depan, yaitu mulai tahun 1995 (teori generasi meneliti pada tahun 1900), juga bisa kita pertanyakan cara peramalannya.  Aspek keempat adalah membanding-bandingkan keunggulan dan kelemahan dari tiap generasi. Ini sangat berbahaya dan kurang bijak. Generasi Y tidak mungkin ada bilamana tidak ada generasi Baby Boomer. Ada nya pemujian dan menonjolkan pada generasi Y dan generasi Z, akan menimbulkan kebingungan penggunan teori.  Sebab kehebatan dari generasi yang baru, anggaplah ada pada generasi  Y, Z dan Alpha, tentunya mereka tidak ada begitu saja dan sudah pasti hasil gemblengan dari generasi sebelumnya. Inilah yang terlupakan pada teori generasi. Juga tentang membanding-bandingkan antar generasi, hal ini juga sangat kurang pas dan kurang bijak, sehingga sikap saling menghormati dan saling menghargai menjadi sirna dan yang ada adalah terciptanya kompetisi antar-generasi. Padahal keberadaan masing-masing generasi itu berkaitan satu sama lainnya.  Yah jelaslah, generasi Z tidak mungkin ada kalau tidak ada generasi X.

Dari empat aspek kelemahan di atas tentang teori generasi, bagaimana kita sebaiknya menyikapi teori generasi ini ya? Untuk kepentingan kegiatan marketing, mungkin masih bisalah kita pakai teori generasi ini sebagai bahan untuk pemetaan dalam kaitan aktivitas marketing behavior. Abaikan dulu tentang keakuratan teori tersebut, namun paling tidak adalah yang bisa dimanfaatkan. Namun untuk materi analisa pemetaan sumber daya manusia dalam konteks karir, tentunya belum bisa kita pakai teori generasi ini, karena teori ini masih jauh dari kesempurnaan.

Jadi bolehkah teori generasi ini kita gugat? Ya boleh saja ya. Sebab hasil karya manusia tentunya tidak ada yang sempurna dan tidak ada yang abadi. Jadi boleh- boleh saja dikritik dan tentu boleh juga berbeda pandangan dan  beda pendapat.***
KOMENTAR
Follow Us