Menanti yang Terpilih

17 Februari 2017 - 10.16 WIB > Dibaca 263 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Pemilihan kepala daerah (Pilkada) di DKI Jakarta dan sejumlah wilayah lain termasuk di Riau usai sudah, Rabu (15/2). Berbagai lembaga survei bak pacuan kuda juga telah mengeluarkan data pemenang sementara. Hasil quick count (hitung cepat) sejumlah lembaga survei dalam Pilgub DKI Jakarta menempatkan pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat di urutan pertama. Menyusul kemudian pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno, lalu urutan terakhir pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni.

Dari Pekanbaru dilaporkan bahwa pasangan Firdaus-Ayat Cahyadi memimpin dalam perolehan suara Pilkada Pekanbaru. Hasil hitung TPS (form C1 yang di-upload situs KPU RI) hingga pukul 23.30 dini hari tadi, pasangan petahana ini mengumpulkan 92.384 suara atau 32,99 persen yakni dari data yang masuk 1.769 dari 1.796 TPS (98.50 persen). Meski unggul hampir 12 persen dari pesaing terdekatnya Dastrayani Bibra-Said Usman Abdullah 61.234 atau (21,86 persen), Firdaus enggan jumawa bakal berkuasa lagi. Dia memilih menunggu hasil resmi dari KPU.

Sikap menunggu hasil resmi dari KPU ini agaknya perlu menjadi gong kesabaran semua pihak dalam Pilkada ini. Sebab terkadang begitu hitung cepat merilis posisi masing-masing Paslon seolah-olah itu sudah pasti begitu. Misalnya belum lagi rekap resmi disampaikan KPU sejumlah media mainstream sudah buru-buru memberitakan kemungkinan pemilihan putaran kedua untuk Pilkada DKI misalnya. Sebab meski demikian, perolehan suara Ahok-Djarot tidak mencapai 50 persen, sehingga kemungkinan besar putaran kedua akan dilakukan.

Wacana ini menggema setiap saat lewat layar kaca dan sejumlah situs pemberitaan. Apalagi sejauh ini, penghitungan KPU dalam real count sementara juga memunculkan nama Ahok-Djarot dan Anies-Sandiaga di urutan pertama dan kedua. Data ini tentunya bersifat sementara dan menunggu hasil rekapitulasi resmi dari KPU, yang biasanya tidak berbeda jauh.

Katakanlan asumsi itu benar maka memang Pilkada putaran kedua harus sudah disiapkan.

Menariknya ternyata KPU Pekanbaru misalnya malah tidak menggunakan hitung cepat. Ketua KPU Pekanbaru Amiruddin Sijaya mengatakan, pihaknya  menggunakan system scanning dalam penghitungan suara. Yang mana form C1 dari masing-masing TPS, di-scan di KPU dengan mesin scan berkecapatan tinggi. Hasil scan itu langsung masuk ke server KPU RI dalam bentuk angka dan persentase yang bisa dilihat langsung oleh siapapun yang mengaksesnya.

Intinya KPU Pekanbaru tidak melakukan quick count. Menurutnya lagi jika tim paslon lakukan quick count, ya sah-sah saja. Bisa jadi mereka dapat data dari RT/RW, kelurahan lalu kecamatan yang mereka rekap. Namun, lanjutnya, jangan sampai justru hasil itu langsung jadi ajang klaim-mengklaim dan saling ejek antar paslon. Ia meminta seluruhnya untuk bersabar sampai hasil resmi diumumkan.

Hasil yang tertera di website Pilkada 2017 milik KPU RI iti dikatakannya merupakan informasi yang terus bergerak. Sebelum akhirnya ditetapkan, ada beberapa rangkaian pleno yang dilakukan KPU. Mulai dari pleno KPPS di hari H, kemudian didrop ke PPK. PPK juga menggelar pleno terkait hasil tersebut dari tanggal 16-22. Kemudian barulah didrop ke KPU. Kami juga akan melakukan pleno hasil baru setelah itu pleno penetapan hasil yang merupakan hasil resmi dari Pilkada Pekanbaru 2017.

Ajakan Ketua KPU Pekanbaru agar semua secara bersama bisa menjaga ketenangan dan kedamaian perlu diapresiasi. Apapun hasilnya nanti. Dalam fase menanti yang terpilih memang suasana bisa jadi panas bila saling klaim berujung pada ketidakpuasan. Di DKI Jakarta apalagi. Tingkat friksi yang bisa menimbulkan gesekan sangat gampang terjadi. Perlu kesabaran semua pihak untuk menanti siapa yang terpilih nantinya.***
KOMENTAR
Follow Us