Depan >> Opini >> Opini >>

Rusli Effendi Ketua Umum Yayasan Istiqlal Indonesia, Ketua Persatuan Masyarakat Riau Jakarta

Menangkap Pesan Istiqlal

17 Februari 2017 - 10.17 WIB > Dibaca 347 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Tulisan ini, sengaja saya tulis dalam rangka menyambut rasa sukur atas lahirnya Masjid Istiqlal. Masjid Istiqlal merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara dan bahkan juga terbesar keempat di dunia. Peletakkan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan Masjid Istiqlal dilakukan oleh Presiden Soekarno pada 24 Agustus 1961. Proses pembangunannya berlangsung lama dan baru selesai tujuh belas tahun kemudian

    Masjid yang terletak tidak jauh dari Monumen Nasional ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 22 Februari 1978, ditandai dengan prasasti yang dipasang di area tangga pintu As-Salam. Oleh karena itu, tanggal 22 Februari kemudian ditetapkan sebagai hari ulang tahun (milad) Masjid Istiqlal.

Festival Istiqlal sudah pernah diadakan sebanyak dua kali, yaitu pada tahun 1991 dan 1992. Setelah itu, festival ini bisa dibilang mati suri. Padahal pada penyelenggaraan sebelumnya, festival yang terbuka untuk publik ini mengukir kesuksesan sebagai peristiwa kebudayaan dan kesenian Islam dengan jumlah pengunjung terbesar. Festival Istiqlal I dikunjungi oleh tujuh juta orang sedangkan Festival Istiqlal II mencatat rekor pengunjung sebesar sebelas juta orang.

Dalam rangkaian acara Festival Istiqlal ini, penulis mengajak untuk kembali memaknai keberagaman Indonesia yang merupakan bagian tak terpisahkan dari masjid kebanggaan umat muslim di Indonesia ini. Masjid Istiqlal bersifat inklusif dan menerima kedatangan orang dari berbagai latar belakang etnis dan agama.

Masjid Istiqlal merupakan wajah bangsa Indonesia. Masjid yang terletak bersebelahan dengan Gereja Katedral Jakarta ini menjadi simbol kemerdekaan dan kemodernan Indonesia. Berbagai aktivitas sosial di kawasan tersebut juga mencerminkan tempat bersatunya umat dan lambang toleransi antarumat beragama.

Contoh kecil toleransi yang tercipta adalah lahan parkir Masjid Istiqlal yang selalu terbuka untuk digunakan umat Katolik yang beribadah di Gereja Katedral pada saat perayaan Natal. Demikian juga lahan parkir Gereja Katedral yang digunakan jamaah Salat Idul Fitri dan Idul Adha di Masjid Istiqlal. Cerita tentang ini sudah sangat sering diangkat oleh media baik di Indonesia maupun luar negeri.

Sekilas Mengenal Masjid Istiqlal
 Munculnya bangunan masjid ini pertama kali diprakarsai oleh KH Wahid Hasyim pada 1950 yang pada saat itu sebagai Menteri Agama RI dan H Anwar Cokroaminoto. Dengan beberapa pertimbangan dalam diskusi bersama tokoh-tokoh Islam dengan membuahkan hasil masjid tersebut diberi nama “Istiqlal”, istilah Arab dengan arti kemerdekaan atau kebebasan. Sedangkan secara istilah menunjukkan arti bahwa masjid ini didirikan sebagai rasa syukur atas karunia Allah dengan kekuasaan-Nya berupa kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan beberapa ratus tahun. Tahun 1960 Masjid Istiqlal mulai diletakkan fondasi pertama oleh Ir Soekarno, baru selesai pada 1978. Beberapa kendala membuat pembangunan masjid ini sedikit tersendat melihat kondisi politis saat itu yang belum kondusif.

Arsitektur masjid ini sangat minimalis mengingat keberadaannya di dalam iklim tropis. Dengan pertimbangan tersebut, bangunan masjid ini dirancang dengan konsep bangunan yang tidak kedap udara. Lantai dasar dibentuk dengan sisi kanan dan kiri terbuka dengan tiang-tiang yang lebar dan lowong agar mudahnya sirkulasi udara dan adanya penerangan yang alami. Gaya arsitektur Islam modern terlihat dari bentuk kubus persegi dan kubah bola ukuran raksasa mengesankan terhadap bentuk yag agung dan monumental. Bahan marmer putih dan baja antikarat menunjukkan akan kemegahan masjid ini. Ornamen masjid dengan pola geometris dengan bentuk berlubang berfungsi sebagai penyekat dan lubang udara, dan selain itu juga memiliki makna terhadap unsur estetik bangunan.

Selain itu, arsitektur masjid ini menampilkan pendekatan yang unik terhadap berbagai serapan budaya dalam komposisi yang harmonis. Perpaduan itu ingin memperlihatkan atas kuatnya pemahaman untuk menghargai berbagai budaya yang ada di Indonesia. Tujuan lainnya adalah sebagai potensi untuk membangun harmonisasi dan toleransi antar-umat beragama, sebagaimana sila dalam Pancasila yang ketiga yakni tentang persatuan bangsa. Bangunan dengan bentuk atap limas tingkat tiga ini sebenarnya mengambarkan akan gaya masjid tradisional Jawa. Banyak keistimewaan yang dilihatkan dalam bangunan masjid ini. Menara dengan ketinggian sekitar 6.000  cm dinisbatkan terhadap jumlah ayat-ayat suci Alquran. Pucuk menara dengan ketinggian 30 cm menjulang ke atas menunjukkan akan juz terakhir di dalam Alquran, yakni juz ke tigapuluh. Di dalam kubah yang bertuliskan kaligrafi Surat al-Fatihah, al-Ikhlas, dan Thaha ditopang oleh 12 pilar berdiameter 2,6 meter dengan ketinggian 12 meter yang menunjukkan simbol atas kelahiran Nabi Muhammad SAW, yaitu 12 Rabiul awal.

Bentuk bangunan yang minimalis dan sederhana dapat memuat jamaah sekitar sebanyak 200.000 jamaah. Sebagai masjid terbesar di Asia Tenggara, banyak wisatawan dalam negeri dan luar negeri ketika ke Jakarta mampir untuk berkunjung ke masjid ini, baik muslim dan non-muslim. Berdirinya masjid ini dalam perkembangannya bukan hanya sebagai tempat ibadah, namun juga dipakai sebagai tempat pusat pendidikan serta pusat syiar Islam. Teras masjid sering digunakan untuk kegiatan-kegiatan keagamaan seperti MTQ dan kegiatan-kegiatan lain. Selain itu juga, masjid ini sebagai kantor berbagi organisasi Islam, aktivitas sosial, dan kegiatan umum.

Makna dari Simbol Kebesaran Istiqlal
Masjid Istiqlal, menyebut namanya saja terasa sejuk. Apalagi jika mengunjungi dan salat di sana. Sebuah komplek masjid yang berdiri di atas lahan 12 hektare. Bangunan masjidnya sendiri seluas 7 hektare, dengan luas lantai 72.000 meter persegi, dan luas atap 21.000 meter persegi. Tidak salah jika dikatakan bahwa Istiqlal adalah masjid terbesar di Asia Tenggara.

Tidak salah pula jika Masjid Istiqlal kita sebut sebagai ikon negeri ini, tak ubahnya Tugu Monas dan Jembatan Semanggi. Sehingga  membuat Istiqlal begitu spesial, itu karena sejak digagas, direncanakan, hingga dibangun, Istiqlal begitu sarat makna dan simbol.

Di antara sekian pemilik jasa atas kokoh-berdirinya Istiqlal, mustahil kita tidak menempatkan Soekarno pada posisi atas. Bukan saja karena dia Presiden yang memutuskan menyetujui pendirian Istiqlal, lebih dari itu, ia juga melandaskan pembangunan Istiqlal secara filosofis, dan sangat teknis. Karena itu pula, masjid ini begitu monumental.

Dalam pemilihan lokasi, misalnya, Bung Karno terpaksa harus berbeda pendapat dengan Hatta. Bung Karno menghendaki, Istiqlal didirikan di atas taman Wilhelmina di lokasi bekas Benteng Belanda Frederick Hendrik yang dibangun Gubernur Jenderal Van Den Bosch 1834. Lokasi itu tepatnya terletak di antara Jalan Perwira, Jalan Lapangan Banteng, Jalan Katedral dan Jalan Veteran.

Bung Hatta mengusulkan lokasi pembangunan masjid di Jalan Thamrin. Alasan Hatta, karena lokasi itu dikelilingi kampung. Tidak seperti lokasi taman Wilhelmina yang relatif jauh dari permukiman. Selain itu Hatta juga menganggap pembongkaran Benteng Belanda memerlukan waktu yang tidak sebentar, dan dana yang tidak sedikit.

Bung Karno bersikeras pada pilihannya. Ia melandaskan pada filosofi makna “merdeka”. Istiqlal yang bisa diartikan kebebasan, atau kemerdekaan, sangat tepat jika didirikan di atas taman Wilhelmina. Sebab, Ratu Belanda Wilhelmina sebagai representasi penjajahan di bumi Indonesia, menurut Bung Karno, harus dihancurkan, dimusnahkan, dan diganti masjid bernama “kebebasan”, Istiqlal. Simbol dan pemaknaan ini yang membuat siapa pun akhirnya menyetujui sikap dan pilihan Bung Karno.

Tidak hanya itu. Lokasi yang terletak di seberang Lapangan Banteng itu, dipilih karena berdekatan dengan Gereja Kathedral. “Istiqlal di satu sisi, Kathedral di sisi lain, berdiri kokoh dan megah dengan harmonis, adalah perlambang harmonisasi kehidupan beragama di Indonesia,” begitu kurang lebih Bung Karno memaknai lokasi Masjid Istiqlal.

Makna terakhir, menjadi sangat-sangat dalam, manakala Frederich Silaban, seorang arsitek Kristen kelahiran Bonandolok, Sumatera Utara keluar sebagai pemenang sayembara arsitektur Masjid Istiqlal, yang dewan jurinya diketuai Presiden Soekarno. Adapun anggota dewan juri lain adalah Prof Ir Rooseno, Ir H Djuanda, Prof Ir Suwardi, Buya Hamka, H Abubakar Aceh, dan Oemar Husein Amin.

Masjid lima lantai, yang melambangkan kewajiban salat umat Islam lima kali dalam satu hari, akhirnya dimulai pengerjaannya. Namun secara urutan tahun, gagasan pendirian masjid akbar di ibu kota Republik Indonesia itu mencuat tahun 1953. Setahun kemudian, 1954 didirikan Yayasan Masjid Istiqlal yang diketuai Tjokroaminoto. Tahun 1955 dilangsungkan sayembara rancang bangun atau arsitektur masjid berhadiah utama uang tunai Rp75.000 dan emas murni 75 gram, dan diikuti 27 peserta. Sehingga akhirnya penulis sebagai asli anak watan Riau menjadi Ketua Umum  Yayasan Isltiqlal Indonesia.

Setelah melalui pendalaman desain serta persiapan matang, tepat 24 Agustus 1961, bertepatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Presiden Ir Soekarno yang langsung bertindak sebagai kepala bidang teknik, berkenan melakukan upacara pemancangan tiang pertama pembangunan Masjid Istiqlal.

Sebagai “tukang insinyur”, kita harus tahu bahwa Bung Karno ternyata memiliki suatu obsesi tersendiri terkait kekokohan bangunan masjid. Bung Karno sendiri yang melakukan pengawasan teknis pembangunan masjid sejak fase pembangunan fondasi. Kepada sejumlah orang dekat, bukan sekali-dua Bung Karno mengatakan ambisinya untuk membangun masjid yang kokoh.

“Jika Candi Borobudur yang dibangun leluhur kita untuk mengagungkan Budha bisa tahan ratusan tahun, maka saya ingin Masjid Istiqlal tidak hanya tahan ratusan tahun, tetapi ribuan tahun!” begitu tekad Bung Karno, seraya melanjutkan, “agar kelak anak-cucu kita paham, bahwa Presiden Indonesia yang pertama sangat mencintai Islam

Suatu ketika, Bung Karno pun membangun Tugu Monumen Nasional (Monas), sebagai ikon Indonesia yang lain. Proyek itu, tak urung mengundang pertanyaan orang, termasuk orang-orang dekatnya. Satu di antara mereka ada yang bertanya kepada Bung Karno, tentang skala prioritas pembangunan Monas dan Istiqlal. Apa kata Bung Karno, “Prioritaskan pembangunan Tugu Monas!”

Jawaban itu cukup mengejutkan. Hingga akhirnya ia melanjutkan kalimat, “Mengapa harus Monas yang diprioritaskan? Jika saya mati saat Monas dan Istiqlal dibangun, maka bisa saya pastikan, Istiqlal Pasti selesai. Sebab, membangun masjid adalah membangun rumah Tuhan, sehingga sekalipun saya mati ketika masjid itu belum selesai, tak satu pun yang bisa menghentikan pembangunannya. Tapi tidak demikian halnya dengan Monas. Jika saya mati, belum tentu pengganti saya meneruskan pembangunannya.”

 Seperti fatwa pujangga sakti, Soekarno seperti meramal nasibnya sendiri. Pembangunan masjid Istiqlal melambat tahun 1960. Setelah itu, masih banyak proyek mercu suar dibangun, hingga klimaksnya terjadi peristiwa G-30-S. Masjid yang direncanakn memakan waktu pembangunan selama 45 tahun dalam pelaksanaannya jauh lebih cepat. Bangunan utama selesai 6 tahun sejak dipancangkan tiang pertama, tepatnya 31 Agustus 1967 ditandai dengan berkumandangnya azan maghrib yang pertama.

Saat itu, Soekarno sudah tidak lagi berkuasa. Soekarno benar, pembangunan masjid tidak jalan terus. Secara keseluruhan pembangunan masjid Istiqlal selesai dibangun dalam kurun 17 tahun. Peresmiannya dilakukan pada 22 Februari 1978, oleh Presiden Soeharto. Sementara Bung Karno, seperti takdir yang telah tertulis, sudah wafat pada 21 Juni 1970.

Rancangan arsitektur Masjid Istiqlal mengandung angka dan ukuran yang memiliki makna dan perlambang tertentu. Terdapat tujuh gerbang untuk memasuki ruangan dalam Istiqlal yang masing-masing dinamai berdasarkan Al-Asmaul-Husna, nama-nama Allah yang mulia dan terpuji. Angka tujuh melambangkan tujuh lapis langit dalam kosmologi alam semesta Islam, serta tujuh hari dalam seminggu. Tempat wudhu terletak di lantai dasar, sementara ruangan utama dan pelataran utama terletak di lantai satu yang ditinggikan. Bangunan masjid terdiri atas dua bangunan; bangunan utama dan bangunan pendamping yang lebih kecil.

Bangunan pendamping berfungsi sebagai tangga sekaligus tempat tambahan untuk beribadah. Bangunan utama ini dimahkotai kubah dengan bentang diameter sebesar 45 meter, angka “45” melambangkan tahun 1945, tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Kemuncak atau mastaka kubah utama dimahkotai ornamen baja antikarat berbentuk bulan sabit dan bintang, simbol Islam. Kubah utama ini ditopang oleh 12 tiang ruang ibadah utama disusun melingkar tepi dasar kubah, dikelilingi empat tingkat balkon.
Angka “12” yang dilambangkan oleh 12 tiang melambangkan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yaitu 12 Rabiul Awal, juga melambangkan 12 bulan dalam penanggalan Islam (juga penanggalan masehi) dalam satu tahun. Empat tingkat balkon dan satu lantai utama melambangkan angka “5” yang melambangkan lima Rukun Islam sekaligus melambangkan Pancasila, falsafah kebangsaan Indonesia.

Pada bangunan pendamping di mahkotai kubah yang lebih kecil berdiameter 8 meter. Adanya dua bangunan masjid; yaitu bangunan utama dan bangunan pendamping (berfungsi sebagai tangga, ruang tambahan dan pintu masuk Al-Fattah), serta dua kubah yaitu kubah utama dan kubah pendamping, melambangkan angka “2” atau dualisme yang saling berdampingan dan melengkapi; langit dan bumi, kepentingan akhirat dan kepentingan duniawi, bathin dan lahir, serta dua bentuk hubungan penting bagi muslim yaitu hablum minallah (hubungan manusia dengan Tuhannya) dan hablum minannaas (hubungan manusia dengan sesamanya).

Hal ini sesuai dengan sifat agama Islam yang lengkap, mengatur baik urusan keagamaan maupun sosial kemasyarakatan. Islam tidak semata-mata bertitik berat pada masalah ibadah dan akhirat saja tetapi juga memperhatikan urusan duniawi; kesejahteraan, keadilan dan kepedulian sosial, ekonomi, hukum, ilmu pengetahuan, kebudayaan dan kehidupan sehari-hari umat muslim. Rancangan interior masjid ini sederhana, minimalis, dengan hiasan minimal berupa ornamen geometrik dari bahan baja antikarat. Sifat gaya arsitektur dan ragam hias geometris yang sederhana, bersih dan minimalis ini mengandung makna bahwa dalam kesederhanaan terkandung keindahan.

Bangunan menara meruncing ke atas ini berfungsi sebagai tempat muazin mengumandangkan azan. Menara megah tersebut melambangkan keagungan Islam, dan kemuliaan kaum muslimin. Dengan demikian, sikap yang perlu ditanamkan pada generasi muda terhadap nilai budaya yang terkandung dalam Masjid Istiqlal yaitu, mencintai peninggalan sejarah, menghormati perbedaan agama, menumbuhkan sikap gotong royong, bekerja sama, toleransi. Wallhua a’lam.***
KOMENTAR
Terbaru
Layanan Dasar Kesehatan dan Pendidikan Syarat Ciptakan Generasi Sehat Cerdas
Maksimalkan Pelayanan ke Konsumen

Selasa, 23 Mei 2017 - 10:59 WIB

Penguasaan Pasar Fuso di Riau Capai 63 Persen

Selasa, 23 Mei 2017 - 10:57 WIB

RS KPJ Klang Malaysia Sediakan Layanan di Luar Pengobatan
FWD Life Buka Kantor Pemasaran

Selasa, 23 Mei 2017 - 10:42 WIB

Follow Us