Opini
Ibrahim Muhammadd

Sisa Kenangan Dai Sejuta Umat

25 Juli 2011 - 07.06 WIB

Thomas Jefferson, Presiden Ketiga Amerika Serikat yang mencetuskan Decleration of Independent menyebutkan filosofinya     dalam kalimat: “Jika pintu masuk surga itu adalah partai-politik, maka saya memilih untuk tidak masuk surga.”

Pernyataan Thomas Jefferson tersebut dikutip kembali oleh wartawan senior Karni Ilyas dalam diskusi Jakarta Lawyer Club belum lama ini.

Begitu kelabukah wajah partai politik, sehingga tokoh sekelas Thomas Jefferson lebih memilih tidak ingin masuk surga daripada harus ikut partai politik?

Bukankah lewat pintu partai politik saat ini ribuan orang telah duduk tenggelam dalam singgasana pemerintahan birokrat maupun tahta parlemen dan kerjanya setiap hari hanya bicara melulu?

Bukankah sepintar dan secerdas apapun seseorang itu, namun kalau enggan masuk partai politik, dia jangan mimpi jadi presiden, menteri, gubernur, bupati, walikota maupun anggota parlemen?

Jangan dustakan sejarah, cukup banyak tokoh yang berminat menggapai posisi-possis kunci birokrasi dari jalur independen. Sayang beribu kali sayang mereka akhirnya terbentur dengan UU normatif, tidak ada peluang bagi calon independen.

Bahkan keinginan agar undang-undang tersebut dapat membuka peluang bagi calon independen sepertinya tak kunjung kesampaian hingga hari ini. Mungkin, kalau nekad bersikeras agar dapat tampil di pentas nasional, yah masuk pintu DPD saja, tanpa harus berbendera Parpol, kesempatan terbuka luas. Kendati, jalur DPD telah sama dimaklumi, gregetnya sangat-sangat kurang.

Tidak berlebihan kalau sekarang ini sulit menentukan dengan tepat, manakah yang lebih memiliki domain sebagai panglima, militer-kah, politik-kah, atau hukum-kah.

Namun fenomena perpolitikan inilah barangkali yang  jadi salah satu kenangan dari kepergian Da’i Sejuta Umat KH. Zainuddin MZ. Apa pasal? Tersebab apa dan bagaimana  da’i kondang tersebut masuk kancah politik lalu keluar dari sana?

Bermula ikut Parpolnya KH Idham Chalid, PPP kemudian mendirikan sendiri Parpol PBR dan berkiprah di sana sepanjang 15 tahun (1991-2006) Da’i Sejuta Umat inipun ujung-ujungnya hengkang 360 derjat dari kancah perpolitikan.

Masuknya KH Zainuddin MZ ke dunia politik, memang menimbulkan sikap pro kontra. Sikap ketidaksetujuan antara lain dikemukakan Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin.

Apa gerangan komentar sang Zainuddin? Islam itu harus berpolitik kalau ingin maju. Kenapa mesti politik? Karena politik itulah yang bisa membawa perubahan.

Betapapun hebatnya dakwah, hal itu hanya sebatas orasi dan verbalisme dan tidak mampu membawa perubahan yang kentara. Oleh karena, perubahan hanya dapat dilakukan dalam sistem struktural, dalam kebijakan-kebijakan yang dikemas dan diputuskan oleh kekuasaan.

Maka jalan kesana harus menempuh koridor politik. Apakah eksekutif maupun legislatif, jelas merupakan orang-orang dengan modal politik. Kalau ingin Islam itu lebih berwibawa, lebih disegani, lebih bermartabat, ya, harus berpolitik.

Rangkuman itulah yang selalu jadi buah petuah Zainuddin dan bertekad menggebu-gebu memperjuangkan serta mejulangkan, dakwah dalam politik. Sayang sekali, maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai.

Faktanya, tangan sang kiai memang tak kunjung kesampaian buat memeluk gunung politik tersebut. Dihantam gelombang kekecewaan sangat besar, KH Zainuddin MZ memutuskan hengkang dari pentas politik, sekaligus mengemukakan rasa kecewanya dalam setiap kali berceramah setelah kembali ke habitatnya semula sebagai juru dakwah.

Terlalu banyak topeng dalam politik, sehingga kita bahkan tak tahu itu topeng siapa, pengakuan sang kiai pada umatnya. Sebab yang semula adalah kawan bisa jadi lawan, sebaliknya yang disebut lawan bisa jadi kawan dalam tempo sekejap. Aneh bin ajaib dan nyaris sukar dicerna logika. “Saya mengaku taubat berpolitik,” tegas sang kiai pada umatnya.

Kekecewaan KH Zainuddin MZ tak terperikan dan barangkali sekaligus menyiratkan hikmah yang filosofistik bagi para kiai, ulama, ustad yang kini asyik berkecimpung dalam politik dimana pada saat ini jumlah mereka mungkin mencapai ribuan orang, baik di birokrat maupun dalam lingkungan parlemen. Jika nawaitu mereka terjun ke politik demi memburu popularitas, kebanggaan, kekayaan dan kekuasaan serta martabat, nawaitu demikian itu sah-sah belaka dan tak salah bahkan sangat-sangat manusiawi.

Tapi, kalau nawaitu-nya adalah buat dakwah yang lebih berkarakter komprehensif, dakwah berwibawa yang bisa merubah sistem, dakwah yang sempurna sehingga jadi barometer bagi kalangan petinggi dalam menentukan arah kebijakan, sudah barang tentu langkah politik KH Zainuddin MZ bisa menjadi contoh sejarah.

Lebih-lebih sekarang ini, panggung politik tengah diterjang badai tsunami yang ekstra dahsyat. Hampir setiap hari ada saja kasus yang dipublikasikan media sekaligus membuat rakyat semakin jantungan.

Demokrasi memang kian transparan. Kalau dulu, sesuatu yang bersifat aib cuma boleh digunjingkan pelan-pelan atau sebatas bisik-bisik, sekarang ini media justru memberitakannya secara terang benderang.

Kasus demi kasus akhirnya muncul silih berganti. Entah politisi yang korup, politisi yang terlibat dokumen palsu, politisi yang terkait pemilikada kisruh, politisi yang main patgulipat bersama pengusaha atau penguasa, politisi yang berakrobatik anggaran, politisi yang diduga main uang panas,  politisi yang laksana ular kepala dua, politisi yang gemar menyebarkan isu, politisi yang sibuk berjanji tapi tak kunjung terbukti.

Pernyataan sangat mengejutkan disampaikan Ade Irawan, Koordinator Divisi Politik ICW dalam acara diskusi Transfer dan Alokasi Anggaran dari Pusat ke Daerah (20/7) dimana menurut Ade induk korupsi sejatinya terdapat dalam gudang politisi (baca DPR) bersama eksekutif yang memproses perencanaan dana transfer APBN ke daerah yang untuk tahun 2011 mencapai Rp334.322 triliun.

Jangan lupa, Machiavelli pun telah berkata ratusan tahun silam, bahwa politik itu menghalalkan segala cara, langkah gagal KH Zainuddin MZ perlu membuat ulama, para kiai, ustad yang kini berasyik-maksyuk dalam politik, sudi tafakkur sejenak.***


Ibrahim Muhammad, Pemerhati Masalah Sosial Keagamaan Tinggal di Pekanbaru.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook