Ir Rony Ardiansyah

Adakah Kekeliruan Laporan?

20 April 2017 - 09.27 WIB > Dibaca 2069 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Sondir adalah alat berbentuk silindris dengan ujungnya berupa konus. Dalam uji sondir, stang alat ini ditekan ke dalam tanah dan kemudian perlawanan tanah terhadap ujung sondir (tahanan ujung) dan gesekan pada silimut silinder diukur. Alat ini telah lama di Indonesia dan telah digunakan hampir pada setiap penyelidikan tanah pada pekerjaan teknik sipil karena relatif mudah pemakaiannya, cepat dan amat ekonomis.

Uji sondir saat ini merupakan salah satu uji lapangan yang telah diterima oleh para praktisi dan pakar geoteknik. Uji sondir ini telah menunjukkan manfaat untuk pendugaan profil atau pelapisan (stratifikasi) tanah terhadap kedalaman karena jenis perilaku tanah telah dapat diindentifikasi dari kombinasi hasil pembacaan tahanan ujung dan gesekan selimutnya.

Kepada Tim Ahli Bangunan dan Gedung (TABG) yang dibentuk oleh Pemerintah Kota Pekanbaru, sudahkan memperhatikan laporan-laporan sondir (soil test report) dengan seksama? Perhatikan Hambatan Pelekat (HP) yang biasanya dicantumkan di kolom (5) laporan sondir adalah 2 (dua) kali nilai Perlawanan Gesek, yang biasanya dicantumkan di kolom (4). Nilai perlawanan gesek diperoleh dari nilai Jumlah perlawanan (3) dikurangi Perlawanan Konus (2).

Yang saya sorot adalah: Hambatan Pelekat (4) diambil 2 x nilai Perlawanan Gesek! Dari mana referensinya? Meskipun referensinya tidak ada, tetapi analisis semacam inilah yang dilaporankan oleh hampir semua persahaan-perusahaan sondir secara turun terumurun di Pekanbaru. Apa efeknya apabila kesalahan ini dibiarkan secara terus menerus?

Sebelum kita lihat apa efek yang bisa ditimbulkan. Marilah, kita lihat cara menganalisis untuk memperoleh nilai Hambatan Pelekat (HP) menurut Panduan dari PT.MBT Utama & Depertemen Pekerjaan Umum. Perhitungan: Pertama, luas potongan melintang konus adalah,  Ac = 1/4 pDc. Kedua, gaya geser bekerja (P)=Ac(JH-qc) =Ac(kolom3-kolom2) =Ac (kolom4). Ketiga, luas selimut geser Ag = p. Dg. Hg. Keempat, hambatan Pelekat = 20*P/Ag =5.Dc.(JH-qc)/hg. Catatan: 20 adalah faktor pembacaan (pembacaan penurunan 20 cm).

Berdasarkan formula di atas. Jika D=Dc=Dg=3,56 cm, Hg=13,3 cm, maka  HP= 5 (3,56) (4)/(13,3)= 1,338 (4). Jadi nilai HP = 1,338 kali Perlawanan Gesek, bukan kali dua. Apa efeknya?  Saya coba menganalisis Jumlah Hambatan Pelekat (JHL) yang merupakan jumlah (komulatif) dari HP pada suatu lokasi sondir di Pekanbaru. Hanya untuk kedalaman 10 meter dari top soil saja, sudah sayab dapati niai JHP sekitar 2.000 kg/cm, bila menggunakan HP = 2 x Perlawanan gesek. Tetapi bila menggunakan Standar MBT/PU JHP nya baru berkisar 1600 kg/cm. Artinya, JHP laporan sondir yang salah ini mencapai 1,25 x JHP standar MBT&PU.

Akibatnya daya dukung (khusus friction pile) akan menjadi lebih besar 1,25 kali dari yang seharusnya,  tentu ini akan sangat membahayakan perencanaan pondasi khususnya friction pile. Oleh sebab itu, seharusnya TABG menindak lanjuti permasalahan kesalahan laporan sondir yang telah membudaya ini. Dari pengalaman saya sebagai seorang akademisi dan praktisi, diameter konus maupun bikonus ternyata tidak satu ukuran. Saya pernah menjumpaikan sampai tiga macam ukuran diameter konus yang berbeda, tentu Hambatan Pelekat yang dihasilkan juga akan berbeda-beda. Sudah seharusnya TABG, memeriksa apakah pada laporan sondir: Apakah sudah memperhitungkan terhadap dimensi konus yang mereka gunakan.

Satu lagi kekeliruan laporan sondir yang turun terumun ini adalah pada nilai Hambatan Setempat (HS). Nilai HS selalu diambil 1/10 dari Perlawanan Gesek, tanpa dasar dan tanpa refersnsi. Bila kita kembali ke analisis MBT & PU akan diperoleh: HS= P/Ag; = D/4hg * (4). Dengan contoh diameter bikonus di atas akan diperoleh HS = 3,56 (4) /4 (13,3)=0,0669 (4). Jadi HS = 0,0669 Perlawanan Gesek (4) buan 0,1 Perlawanan Gesek. Hal ini akan mengakibat kesalahan menghitung nilai Friction Ratio (FR), yang beruntut kekesalahan memprediksi klasifikasi tanah. Hal ini seharusnya diperhatikan TABG Kota Pekanbaru. Semoga, tulisan ini bisa menjadi masukkan yang bermanfaat buat Pemko dan masyarakat Pekanbaru.***

Ir Rony Ardiansyah MT IPU, Dosen UIR.
KOMENTAR
Follow Us