Depan >> Opini >> Opini >>

Lidus Yardi Guru Agama dan PD Pemuda Muhammadiyah di Kuansing

Menyambut Ramadan

19 Mai 2017 - 11.11 WIB > Dibaca 238 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - ALIHKAN sejenak perhatian kita kepada hari-hari yang akan datang. Hari-hari di bulan Sya’ban akan berakhir dan bulan Ramadan segera datang. Persoalannya, sejauhmana persiapan kita sebagai umat Islam menyambut bulan suci Ramadan? Bagaimana seharus umat Islam menyambut bulan Ramadan tersebut?

Secara khusus, memang tidak kita temukan penjelasan ulama bagaimana tuntunan Rasulullah SAW menyambut bulan suci Ramadan. Namun, dari beberapa dalil yang ada dan membaca kisah para ulama salaf, maka kita akan menemukan penjelasan, bahwa mereka mempersiapkan diri menyambut bulan Ramadan.

Pertama, menyambut Ramadan dengan hati yang gembira dan mengabarkan kabar gembira yang ada selama di bulan Ramadan tersebut. Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah tidak saja bergembira dengan kedatangan bulan Ramadan, tapi juga mengabarkan kabar gembira yang ada selama di bulan Ramadan itu. Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabat: Telah datang bulan Ramadan kepada kalian, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan kepada kalian puasa. Pada bulan itu dibukakan pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka, serta dibelenggu setan-setan karena Allah di dalamnya. Pada malam itu ada satu malam yang lebih baik dari 1.000 bulan. Barangsiapa yang terhalang mendapatkan kebaikannya, maka ia benar-benar terhalang mendapatkannya (HR Ahmad).

Umat Islam layak bergembira. Karena kedatangan Ramadan membawa banyak keberkahan dalam hidupnya. Segala aktivitas seorang muslim selama Ramadan memiliki nilai ibadah dan pahalanya dilipatgandakan. Puasa di bulan Ramadan tidak saja momentum penyucian diri dari dosa, tapi terbukti secara kedokteran sangat menyehatkan. Sampai bau mulut orang yang berpuasa pun di bulan Ramadan memiliki keutamaan di sisi Allah.

Kedua, menyambut Ramadan dengan penuh pengharapan. Kabar gembira tentang keutamaan Ramadan yang disampaikan oleh Rasulullah, cukup sebagai alasan bagi umat Islam untuk mengharapkan kedatangan  Ramadan. Seorang ulama tabiut tabi’in, Mu’alla bin Fadhl berkata, bahwa para sahabat dahulu, enam bulan sebelum kedatangan Ramadan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan Ramadan. Dan enam bulan setelah Ramadhan, mereka juga berdoa agar amal mereka selama bulan Ramadhan di terima oleh Allah SWT (kitab Lathaif Al Ma’arif).

Seorang ulama tabi’in, Yahya bin Abi Katsir meriwayatkan, bahwa sebagian sahabat berdo’a menjelang kedatangan Ramadan: “Ya Allah, hantarkan diriku kepada Ramadan dan hantarkan Ramadan kepada diriku, dan terimalah amalan-amalanku di bulan Ramadan” (HR Abu Daud).

Ketiga, menyambut Ramadan dengan banyak puasa di bulan Sya’ban. Hal ini dilakukan oleh Rasulullah SAW sebagaimana dijelaskan dalam hadis dari Aisyah RA, Ia berkata, “Aku belum pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh, kecuali di bulan Ramadan. Dan aku belum pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa, kecuali di bulan Sya’ban” (HR Bukhari).

Banyaknya Rasulullah SAW berpuasa di bulan Sya’ban, dapat dipahami sebagai salah satu bentuk persiapan diri menyambut bulan suci Ramadan. Puasa sunnah sebenarnya lebih menantang dari puasa wajib di bulan Ramadan. Karena saat puasa sunnah kondisi dan suasana lingkungan tidak mendukung. Di mana-mana orang makan dan minum saat kita justru berpuasa. Ketika sudah terbiasa dengan kondisi puasa sunnah, badan terlatih dan telah terbiasa, maka sangat memudahkan bagi seseorang berpuasa di bulan Ramadan.

Keempat, menyambut Ramadan dengan memperbanyak istighfar. Tidak ada yang menghalangi kita dari segala kebaikan, yang akan melemahkan semangat kita untuk beribadah kepada Allah, kecuali kemaksiatan. Dan setiap manusia tidak akan terbebas dari kemaksiatan itu. Sebab itu, tidak mungkin Allah perintahkan manusia bertobat atau meminta ampun kepada-Nya, kecuali manusia tidak akan lepas dari perbuatan maksiat dan dosa.

Agar diri kita merasa ringan dan bersemangat beribadah selama bulan Ramadhan, sepantasnya kita banyak beristifgfar atau meminta ampun kepada Allah SWT sebelum kedatangan Ramadan. Tanpa ampunan Allah, sungguh kita termasuk orang-orang yang merugi. Nabi Adam AS berdoa: “Ya Rabb, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami, dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi” (QS Al A’raf: 23).

Kelima, menyambut Ramadan dengan men-charger ilmu dan wawasan tentang Ramadan. Ketepatan dalam beramal dan sikap yang benar selama Ramadan, sangat dipengaruhi oleh ilmu yang kita miliki. Ilmu merupakan dasar utama berdirinya suatu amalan. Syaikh Ibnu Taimiyah menyatakan al’ilmu baabun likulli ta’abbuddin, ilmu adalah pintu dari segala ibadah. Imam Bukhari menulis satu bab dalam kitab hadisnya, al’ilmu qablal kaul wal amal, yang berarti berilmu dahulu sebelum berkata dan beramal. Tidak mungkin niat dan amalan benar, kecuali diawali dengan ilmu yang benar.

Nabi SAW mengingatkan: “Betapa banyak orang yang puasa, tetapi yang didapatnya hanyalah rasa lapar saja. Betapa banyak orang yang bangun (tengah malam) beribadah, tetapi yang didapatnya tidak lebih terjaganya mata” (HR An Nasa’i, Ibn Majah, dan Hakim). Sebab itu, persiapan ilmu sangat penting agar amalan puasa Ramadhan tak salah, tak sia-sia, dan diterima Allah.

Menyambut Ramadan adalah sikap yang menunjukkan komitmen dan keseriusan. Orang yang tak berminat dengan Ramadan, tidak akan peduli dengan kedatangan Ramadan. Oleh sebab itu, menyambut Ramadan dimaknai sebagai kesungguhan, usaha persiapan diri, pemantapan langkah menggapai tujuan, dan motivasi awal mencapai kesuksesan. Wallahu A’lam.***
KOMENTAR
Follow Us