Depan >> Opini >> Opini >>

Syukron Wahib Alumnus Pascasarjana UIN Suska Riau

Adakah yang Salah dengan Puasa Kita?

19 Mai 2017 - 11.12 WIB > Dibaca 190 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Tanpa terasa waktu begitu cepat berlalu, hari pun begitu cepat berganti, dan Ramadan kembali menghampiri kita lagi. Marhaban ya Ramadhan, Selamat datang bulan suci Ramadan. Kata Ramadan merupakan bentuk mashdar dari kata Ramaidha, yang memiliki beberapa arti di antaranya “membakar”, “mengasah”, atau “menghapus”. Yang maksudnya, pada bulan Ramadan Allah SWT memberi kita kesempatan menghindar dari keinginan negatif (nafsu) yang sering mewarnai kehidupan. Kata-kata itulah yang saat ini banyak diserukan umat Islam di seluruh penjuru dunia. Di masjid-masjid, musala, televisi, koran-koran, radio hingga mailing list dan phone seluler pribadi, ungkapan selamat datang Ramadan tampil dengan berbagai ekspresi yang sangat variatif. Fenomena ini dapat disebut nuansa religius jika ukuran yang dipakai sekadar merujuk simbol agama, kesemarakan ritual,dan sejenisnya. Namun jika parameter yang digunakan adalah substansi ajaran agama, kita mungkin sepakat, religiusitas keberpuasaan yang selama ini “ Mentradisi” di Indonesia dan tempat lain, masih sangat jauh dari nilai-nilai keberagamaan sejati.

Marhaban ya Ramadhan ini adalah ungkapan yang sepatutnya bukan hanya sekadar ucapan selamat datang yang terlontar dari mulut belaka. Sebab bulan Ramadan yang penuh berkah ini sepatutnya disambut dengan hati gembira, suka cita kebahagiaan dan keikhlasan yang diekspresikan dengan perubahan tindakan dan perilaku ibadah selama Ramadan seperti, menjalankan puasa, qiamul lail, Salat Tarawih, Tadarrus Al-Quran, dan ibadah-ibadah lainnya sebagai bukti bahwa kita gembira dan bahagia menyambut kehadiran bulan yang mulia yaitu bulan Ramadan. Di dalam Kitab Irsadul ibad Beliau Syekh Zainuddin Ibnu Abdul Aziz Al-Malybari menceritakan: “Ada seorang pemuda yang tidak melakukan salat kecuali sedikit-sedikit. Ketika Bulan Ramadan tiba pemuda ini selalu menghiasi dirinya dengan pakaian yang mahal, dan mengolesi minyak wangi pada tubuhnya, lalu ia mengerjakan puasa Ramadan, mengerjakan salat wajib dan mengqadha’ salat yang tertinggal pada masa-masa lalunya. Lalu pemuda ini berkata seraya berdoa, “ Bulan ini adalah bulan untuk taubat, penuh dengan rahmat yang diturunkan, penuh berkah, semoga Allah SWT mengampuni dosaku dengan anugrah dan kemurahan-Nya.” Lalu pemuda itu meninggal Dunia. Dan pada suatu malam aku bermimpi bertemu dengan pemuda itu, lalu aku berkata: Apa yang dilakukan oleh Allah SWT padamu. Dia berkata: Allah telah mengampuni dosaku karena aku menghormati bulan Ramadan”.

Tanpa terasa Ramadan kini hadir kembali. Bulan suci bagi seluruh umat Islam di penjuru dunia. Khusus untuk umat Islam Indonesia, Ibadah puasa pada tahun ini adalah puasa ke-72   dalam sejarah kehidupan Bangsa Indonesia yang dilahirkan dalam suasana bulan Ramadan tahun 1945 M. Di bulan Ramadan ini, spiritualitas personal diasah demi mencapai cita keumatan yang rahmatal lil ‘alamin. Itu artinya, meskipun ibadah Ramadan pada dasarnya adalah ibadah yang sangat individualis namun berdampak luas terhadap kehidupan sosial. Solidaritas sosial ini juga merupakan bukti bahwa antara keimanan dan amal saleh adalah sesuatu yang menyatu. Makanya, tujuan puasa adalah agar orang yang melakukannya mencapai derajat takwa.

Ramadan tahun ini juga menjadi Ramadan yang istimewa bagi masyarakat ibu kota Jakarta, tentunya juga masyarakat muslim Indonesia, setelah hiruk pikuk Pilkada yang banyak diwarnai intrik perpecahan dan silang pendapat karena perbedaan pilihan. Akhirnya momen persatuan, persaudaraan,dan semangat kebersamaan umat Islam itu kembali terbingkai karena hadirnya bulan Ramadan, bulan kasih sayang, bulan yang mayoritas umat Islam menganggap sebagai penuh berkah dan ampunan, semoga saja dosa-dosa sosial yang diakibatkan karena perselisihan dan perbedaan pendapat akibat Pilkada terampunkan oleh yang Maha Kuasa. Ramadan menjanjikan terbangunnya kesadaran dari kelelapan “lupa” akan nikmatnya kesaudaraan, kerukunan, kebersamaan dan persatuan. Ramadan menjanjikan menyapu bersih-bersih “halaman nurani” yang kotor oleh sampah dengki, iri, syirik dan kezaliman. Ramadan juga menjanjikan menebar kebaikan, kedermawanan dan ketulusan tanpa pamrih. Kalau kasih sayang Ramadan itu berhasil menyusupi rongga dada setiap warga negara ini, niscaya persoalan ancaman disintegrasi.

Bulan Ramadan mengumpulkan tiga macam dambaan setiap orang beriman. Rahmah, maghfirah dan ‘itqun min an-naar. Kasih sayang, pengampunan dan pembebasan dari kesengsaraan (terutama kesengsaraan neraka). Di bulan Ramadan itu setan berada dalam pasungan. Dia dicegah dari berkeliaran menggoda Bani Adam yang ingin dekat dan bertambah dekat dan lebih dekat lagi dengan yang Maha Memberi segala, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di bulan itu setan tidak bebas menghalangi setiap insan yang ingin berbuat kebaikan. Padahal kebaikan yang dilakukan di bulan Ramadan itu, tidak hanya berpahala dengan berlipat ganda sampai tujuh ratus kali lipat saja, lebih dari itu. Menurut Hadist Qudsiy, seolah-olah pelaku kebaikan boleh “Mengambil” pahalanya sendiri sampai berkelipatan berapapun. Yaitu dan aku sendiri yang akan menerimakan pahalanya” (wa Ana Ajzii bih). Betapa, kini bulan dambaan itu datang menjelma kembali.

Dalam bulan Ramadan ada tiga aspek yang fundamental, yaitu pendekatan diri kepada Tuhan, penyucian diri, dan membangun kesalehan sosial. Di bulan Ramadan, seseorang yang beriman berusaha mengaktifkan kekuatan rohaninya lalu berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan sedekat mungkin. Dengan kedekatan dan intensitas berkomunikasi dengan Tuhan, sebuah proses penetrasi dan internalisasi sifat dan nilai Ilahi dalam diri seseorang diharapkan akan terjadi.

Realitas puasa yang dijalankan umumnya masih bersifat puasa lahir. Menurut Syeh Ali Asraf (2002), puasa harus dilakukan secara lahir dan batin. Puasa model terakhir ini merujuk  kedisiplinan seseorang dalam mencegah nafsu agar tidak dilampiaskan serta keinginan agar dikendalikan sehingga tidak terperangkap dalam kejahatan dalam beragam bentuk, semisal berbohong, memfitnah, iri, atau angkuh. Pada gilirannya, orang bisa menahan diri dari perbuatan halal yang dikhawatirkan akan melampaui batas, sebagi pengganti, ia menawarkan sikap keramahan (segala sikap dan perbuatan yang baik). Namun dalam kenyataannya ibadah puasa yang dilakukan umat islam ini,masih jauh dari harapan Ihsan karena tidak tercermin dalam kehidupan sehari-hari pasca-Ramadan usai. Tengok orang yang berpuasa, tetapi perilakunya sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai puasa. Ibadah puasa seyogianya bisa mengubah perilaku  menjadi lebih baik. Membuat yang tidak jujur menjadi jujur, membuat yang marah menjadi ramah, membuat yang kikir menjadi dermawan dan membuat pendendam menjadi pemaaf. Semoga Allah SWT memberikan kita kesempatan untuk memperbaiki mutu dan kualitas puasa kita. Wallahu A’lam.***
KOMENTAR
Follow Us