Depan >> Opini >> Opini >>

Dahnilsyah Alumnus School of Education, University of Leeds, England, Dosen FKIP Universitas Riau

Sekolah IT di Persimpang Jalan

19 Juni 2017 - 10.53 WIB > Dibaca 512 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Menjamurnya sekolah-sekolah swasta Islam terpadu (IT) di berbagai kota besar di Indonesia, merupakan trend baru di dunia pendidikan kita. Sejak tahun 2000 ke atas hingga sekarang, kita telah disuguhkan tontonan sosial menarik dari keberadaan sekolah-sekolah tersebut. Beberapa hal yang menjadi ”jualan” di sebagian besar sekolah ini adalah kurikulum yang mengutamakan pengembangan karakter Islami, disiplin, bakat dan keterampilan anak; para guru yang profesional dan terampil di bidangnya yang selalu dibekali dengan berbagai pelatihan dan bimbingan; pelayanan dan manajemen sekolah yang efektif dan efisien; serta pengenalan berbagai metoda dan program pembelajaran terbaru.  Jangan ditanya tentang fasilitas sekolah, jika diinformasikan semua, tentu akan menghabiskan kolom opini yang sedang penulis buat.   

Di satu sisi, tidak ada hal yang patut dikritisi terhadap keberadaan sekolah-sekolah Islam yang muncul di tengah masyarakat kita. Sangatlah wajar jika pihak institusi pendidikan swasta yang menginvestasikan pendanaan yang besar, menyediakan fasilitas serta berbagai pelayanan dan program menarik kepada siswa mereka. Di samping itu, tidak dipungkiri, dengan model sekolah terpadu yang diaplikasikan di sebagian besar sekolah Islam ini, para murid telah dibekali dengan ilmu agama secara terintergrasi setiap hari di sekolah mereka. Lebih jauh lagi, kita seharusnya berterima kasih sekali kepada para pengelola pendidikan non-pemerintah ini yang mampu memberikan role model tentang pengelolaan pendidikan yang serius, profesional, dan teararah, sehingga menjadi pemicu bagi sekolah-sekolah negeri agar mampu melakukan hal yang sama. Meskipun demikian, tanpa memiliki perasaan antipati terhadap eksistensi berbagai sekolah Islam terpadu ini,  ada beberapa hal yang patut dijadikan pekerjaan rumah dan renungan bagi pengelola sekolah-sekolah Islam di balik keberadaan mereka yang mengundang ketertarikan masyarakat.

Citra Eksklusif dan Mewah
Kita tidak menafikan bahwa untuk menyediakan pelayanan optimal dan menawarkan berbagai program yang atraktif dan menarik, serta fasilitas sekolah yang lengkap dan memadai, diperlukan dana yang besar, untuk itu tidak ada disalahkan jika sebagian besar sekolah Islam mematok uang SPP serta bulanan yang tergolong sangat mahal bagi bagi sebagian besar masyarakat kita yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Yang menjadi masalah sekarang, banyak masyarakat kita yang telah terlanjur memberikan atribut kepada sekolah-sekolah ini sebagai sekolah yang eksklusif. Indikasi ini terlihat dari murid-muridnya yang sebagian besar berasal dari golongan ekonomi menengah ke atas. Bagaimana tidak? Setiap hari, khususnya jam  antar-jemput para siswa, sebagian besar siswanya telah ditunggu oleh para orang tua, atau sopir pribadi dengan mobil-mobil mewah berbagai merk ternama yang telah diparkir rapi di sepanjang sisi jalan, sekitar gerbang sekolah, sehingga suasana jalan terlihat padat dan sering menimbulkan kemacetan. Walhasil, telah berkembang opini di sebagian besar masyarakat kita bahwa sebagian besar sekolah Islam telah menimbulkan adanya gap dan memicu kecumburuan sosial di tengah masyarakat kita.

Mungkin hal ini banyak tidak dirasakan oleh pihak pengelola berbagai sekolah Islam swasta terpadu, tetapi dalam realitanya, masyarakat telah terlanjur memberikan trade mark yang memberikan kesan negatif terhadap sebagian besar institusi pendidikan swasata berbasis Islam. Opini di tengah masyarakat ini sangatlah logis dan beralasan, jangankan kaum intelektual, kalangan grassroot (lapis bawah) pun telah mengetahui tentang ajaran Islam yang menjunjung tinggi sikap kesederhanaan, dan menghindari adanya kesenjangan sosial antara si miskin dan si kaya, yang nota bene mereka adalah sama derajatnya di mata Allah SWT, dan yang membedakan adalah amal saleh.

Sebagai wujud kepedulian dan simpati terhadap keberadaan berbagai sekolah Islam terpadu, ada beberapa  masukan yang mungkin dapat menjadi kajian dan refleksi bagi pihak pengelola, paling tidak dapat meminimalisir kesan negatif yang muncul di tengah masyarakat:

Program Kepekaan Sosial Siswa di Tengah Masyarakat
Linda Elder and Richard Paul (2009) berargumentasi bahwa kualitas hidup serta berbagai hal yang dihasilkan manusia, seyogyanya bergantung kepada kualitas berpikir manusia itu sendiri. Pada intinya, memiliki watak dan prilaku buruk sebenarnya sebagai sesuatu yang menguras energi dan mahal, Jika seorang manusia ingin berpikir baik, maka dia harus memahami dasar-dasar berpikir yang baik. Sebagai sekolah Islam, sudah tentu para siswa telah diajarkan di sekolah agar memiliki akhlak mulia sesuai tuntunan Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW, dan juga memiliki empati sosial di tengah masyarakat. Meskipun demikian, hal ini mungkin perlu dioptimalkan oleh pihak pengelola sekolah swasta Islam terpadu dengan hal-hal bersifat real dan practical. Maksudnya di sini, tidak ada salahnya para guru dan pihak manajemen sekolah membuat social club di sekolah yang dikelola oleh para siswa di bawah naungan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).

Di beberapa negara Eropa, sebagian besar sekolah telah melaksanakan program ini secara periodik dan terbukti mengembangkan kesan sangat positif masyarakat terhadap sekolah, dan secara tidak langsung telah mempromosikan dan mengharumkan nama sekolah tersebut. Hal ini juga merupakan sarana da’wah bil hal yang mengaplikasikan ajaran-ajaran Islam secara real kepada masyarakat. Di samping itu, siswa, lambat laun akan memiliki empati sosial yang tinggi, sehingga perasaan superior dan ekslusif akan dapat hilang dengan sendirinya. Filosof pendidikan, John Locke mengatakan bahwa pendidikan yang baik adalah menyatukan manusia dengan alam dan realita sosial mereka, yang akhirnya akan menimbulkan kepedulian dan kecerdasan emosional pada diri siswa. Pendapat ini sangatlah sejalan dengan ajaran Islam yang mengutamakan role model atau mempraktikkan hal-hal yang baik agar dapat menjadi contoh bagi masyarakat.

Hal lainnya yang perlu menjadi bahan evaluasi dan refleksi bagi para pihak pengelola sekolah Islam terpadu, untuk menghindari kecemburuan dan gap sosial di tengah masyarakat adalah dengan membuat perencanaan berupa penyediaan transportasi khusus bagi siswa, baik dengan kendaraan bermotor (roda dua), ataupun mobil. Rencana ini mungkin dapat diwujudkan dengan bekerja sama dengan pengusaha bidang transportasi, ataupun dengan masyarakat setempat. Untuk merealisasikan hal ini, perlu dibicarakan secara intens dengan para orang tua siswa dengan mengedepankan pendekatan humanis bahwa anak-anak mereka perlu diajarkan agar tidak menunjukkan kemewahan di tengah masyarakat dan tidak  dimanjakan lagi dengan rutinitas antar-jemput menggunakan mobil pribadi. Satu hal yang pasti, jika hal ini dapat dijalankan adalah adanya tanggapan dan imej positif masyarakat, yang telah terbiasa dengan tontonan mobil-mobil mewah setiap pagi dan sore di sebagian besar sekolah-sekolah Islam yang sering menimbulkan kemacetan.

Memang ada beberapa siswa yang biasa juga menggunakan fasilitas angkutan umum atau ojek langganan mereka. Akan tetapi, jumlahnya tidaklah signifikan dibandingkan dengan sebagian besar teman-teman mereka yang biasa tergantung pada antar-jemput mobil pribadi. Gagasan ini sudah barang tentu akan menimbulkan pro dan kontra di kalangan orang tua dan para siswa, tetapi jika pihak sekolah melakukan pendekatan secara kekeluargaan, bahwa salah satu tujuan pengadaan transportasi khusus siswa ini untuk menanamkan pendidikan kharakter kepada siswa, dan menghindari kesan negatif di tengah masyarakat, para orang tua dan siswa kemungkinan besar akan dapat memahami dan menyetujui rencana positif tersebut.   

Menerapkan Pendidikan untuk Semua
Suatu hal yang patut diacungi jempol adalah sebagian besar sekolah-sekolah Islam terpadu pada saat ini telah mempraktikkan program subdisi silang dengan menerima siswa-siswa tidak mampu, khususnya anak yatim dan dhuafa. Akan tetapi, hal ini sangat jarang dan tidak terdeteksi oleh masyarakat, karena tidak disosialisakan secara masif dan berkala. Bahkan ada kesan di tengah masyarakat, pihak sekolah setengah hati melaksanakan program santunan ini. Oleh sebab itu, perlu kiranya para  pihak pengelola sekolah Islam terpadu, mempromosikan setiap ajaran baru bahwa salah satu program andalan mereka adalah penerimaan dan pemberian bea siswa, serta program subsidi silang bagi para siswa tidak mampu yang bersekolah di sekolah mereka. Dengan melakukan seleksi secara objektif terhadap anak-anak yatim dan dhuafa yang memiliki potensi secara akademik dan diterima di sekolah-sekolah Islam terpadu ini, akan memberikan kesan positif yang sangat signifikan di tengah masyarakat. Ini juga sebagai bentuk wujud kepedulian dari sekolah-sekolah Islam terpadu terhadap pencanangan education for all yang digagas oleh UNESCO, di bawah naungan PBB yang pada intinya memberikan kesempatan kepada setiap anak-anak di seluruh dunia untuk mengenyam bangku pendidikan formal.

Dalam norma Islam, dan dalam agama-agama lainnya, jauh sebelum pencanangan education for all, penyamarataan perlakukan serta keadilan untuk semua manusia telah ditanamkan dan seyogyanya dipraktikkan secara optimal dalam kehidupan sehari-hari.

Sudah barang tentu, pihak sekolah memiliki kendala pendanaan untuk melaksanakan program santunan seperti ini, untuk itu, belumlah terlambat bagi pihak sekolah untuk memikirkan membuat unit-unit usaha di bawah naungan sekolah mereka, atau mengoptimalkan unit-unit usaha yang telah ada dikelola selama ini. Di beberapa negara Eropa dan negara-negara maju lainnya, sekolah-sekolah yang sudah populer di tengah masyarakat, telah memanfaatkan ketenaran sekolah mereka dengan memberdayakan unit-unit bisnis mereka. Tidaklah mengherankan jika beberapa sekolah memiliki swalayan, restoran, rumah sakit, bahkan berbagai fasilitas hiburan yang dapat dimanfaatkan dan disewa oleh masyarakat.

Dua gagasan ringan ini mungkin bermanfaat dan dapat dijadikan bahan renungan serta introspeksi bagi para pihak pengelola institusi Islam yang pada gilirannya nanti akan menciptakan keharmonisan kehidupan sosial di tengah masyarakat secara berkesinambungan. Terlebih lagi, di tengah ketidakstabilan ekonomi dan politik yang dihadapi oleh negara kita, penciptaan hubungan sosial yang harmonis, adil dan merata sangat diperlukan, untuk menghindari gesekan-gesekan yang berujung pada terjadinya konflik dan diskriminasi sosial di tengah masyarakat. Kita tidak ingin negara ini seperti beberapa negara di belahan dunia lain yang secara ilmu pengetahuan dan pendidikan, mampu melahirkan karya-karya fenomenal, tetapi sebagian besar masyarakatnya masih dililit kemiskinan dan  dalam realita sosial mendapatkan perlakukan yang sangat tidak adil. “Kita dapat mengukur kemiripan kita dengan Nabi dengan melihat kepekaan kita terhadap penderitaan sesama.” (Kyai Haji Ahmad Dahlan). Insya Allah.***
KOMENTAR
Terbaru
Modric: Ini Tahun Sempurna Madrid

Minggu, 17 Desember 2017 - 15:52 WIB

Berharap Setnov “Bernyanyi”

Minggu, 17 Desember 2017 - 13:49 WIB

Mega Minta Lima Persen APBN untuk Riset

Minggu, 17 Desember 2017 - 12:44 WIB

Jutaan Massa Aksi Bela Palestina

Minggu, 17 Desember 2017 - 11:47 WIB

Sehari, 3 Gempa Hantam Indonesia

Minggu, 17 Desember 2017 - 10:53 WIB

Follow Us