Kisah Syekh Zainuddin; Harum dalam Ingatan

29 Juli 2012 - 08.01 WIB > Dibaca 13659 kali | Komentar
 
Kisah Syekh Zainuddin; Harum dalam Ingatan
Suasana di makam Syekh Zainuddin Rokan di Tanah Putih, Tanjung Melawan, Rokan Hilir. (Foto: Fadhli Mu’allim/Riau Pos)
Di Tanah Putih, Tanjung Melawan-Rokan Hilir, terdapat makam yang berusia hampir satu abad. Bukti ketokohan dan pengembangan Islam yang berhasil, hingga kini terus menerus didatangi para penziarah.

Laporan Fadhli Mu’allim, Rohil

Jika diurai jejak panjang napak tilas para pengembang agama Islam di Kabupaten Rokan Hilir, niscaya nama Tuan Syekh Zainuddin atau disebut juga tuan Syekh Zainuddin Rokan merupakan salah seorang yang menonjol. Jasa-jasa tuan syekh senantiasa harum dalam ingatan masyarakat dan menjadi ucapan yang diwariskan dari generasi ke generasi khususnya di Kecamatan Tanah Putih, Tanjung Melawan, sampai sekarang.

Karomah yang pernah terjadi pada masa hidupnya pun melekat sebagai buah bibir abadi. Namun menggali sejarahnya dalam waktu singkat bukanlah perkara yang mudah. Sangat sedikit atau bisa dikatakan tidak ada sama sekali berkas, berupa literatur yang dapat diketengahkan. Cucu cicitnya tersebar di mana-mana, ahli warisnya pun tak memiliki atau membuat catatan faktual --yang sepertinya memang bukan menjadi budaya penting pada waktu itu-- di satu sisi dorongan dari pemerintah daerah akan upaya-upaya positif praktis pendokumentasian sosok ulama besar lokal ini nihil.

Kebanyakan bantuan yang datang lebih berorientasi pada pemberian material maupun dana yang tentu saja sifatnya instan dan tidak berkelanjutan. Luputnya perhatian pada aspek dokumentasi data ini membuat keterangan yang didapati hanya berupa tutur lisan belaka. Akurasinya layak dipertanyakan, di samping rentan mengalami gejala penggerusan dan pengelembungan di sana sini. Tak urung, sejarah nyata yang demikian megah tentang sosok sang syekh membias sebagai mitologi belaka.

Perbancuhan antara sejarah dan mitos itulah M Syamsuddin (55) menjalani pekerjaannya sebagai salah seorang penjaga makam Tuan Syekh Zainuddin yang terletak persis di sebelah Masjid Raya An Nuur di kepenghuluan Melayu Besar. Dikunjungi Riau Pos beberapa hari lalu, didampingi penjaga lainnya, Syahlan (45) bersemangat menceritakan tentang karomah dan profil sekilas almarhum Tuan Syekh termasuk menyelipkan harapan agar sarana penyediaan air bersih di areal makam itu dapat ditingkatkan.

Syekh Zainuddin, tuturnya memiliki nama kecil Julad, lahir di hulu Rokan (Rokan Hulu) di daerah Tambusai. Meski demikian, sebagian besar masa hidup syekh lebih lama dilewati di hilir Rokan sampai akhirnya menghembuskan napas 1353 H. Bukan tergolong sebagai pionir yang membawa Islam karena pada saat itu agama Islam sudah berkembang namun peran dan ketokohan Syekh Zainudin tidak kecil. Ini tidak terlepas dari kegigihan sikapnya dalam menerapkan nilai agama sekaligus melakukannya secara nyata dalam kehidupan. ‘’Beliau tidak segan menegur orang yang lalai menjalankan perintah agama, bahkan menurut kisah ada kejadian Tuan Syekh menempeleng seseorang yang sengaja merokok pada bulan puasa,’’ kata Syamsudin.

Dalam keseharian Tuan Syekh kerap berpenampilan mengenakan pakaian serba putih, berkopiah bulat dengan selendang tersampir di bahu. Tak hanya menonjol dalam hal keteguhan menjalankan agama, karomah yang dimiliki Tuan Syekh serta mustajab doanya membuat beliau begitu disegani. Kewalian Tuan Syekh, terang Syamsudin, tidak diperoleh melalui proses menuntut ilmu agama secara mendalam, melainkan dari ilmu ladunni atau diilhamkan oleh Allah begitu saja. Menurutnya, Tuan Syekh tidak belajar pada guru atau mengikuti tarekat tertentu namun paham ilmu agama dengan sangat baik. Dalam beberapa hal ucapan Tuan Syekh tentang peristiwa yang akan terjadi, dapat dibuktikan kebenarannya.

‘’Jika Tuan Syekh ada mengingatkan seseorang tentang adanya ancaman bahaya maka jika tidak dipedulikan bahaya yang disebutkan itu memang terjadi,’’ kata Syamsudin. Semasa hidup dan setelah wafatnya, nama Tuan Syekh masyhur hingga menjangkau sekat-sekat wilayah. Buktinya penziarah makam Syekh Zainuddin Rokan tidak hanya berdatangan dari seantero Riau tapi juga Jambi, Medan, Malaysia, Saudi Arabia dan Irak. Pada 2010, sejumlah orang yang berasal dari Irak datang berziarah. Konon di masa lalu ujar Syamsudin ikatan agama atau pertalian ukhuwah lebih kuat dibandingkan hubungan kesukuan, kepentingan ekonomi dan melangkaui batas nasionalisme, sehingga kunjungan dari berbagai tempat ini dapat dimaklumi terjadi.


Biasanya pemakaman itu ramai diziarahi pada hari Jumat oleh warga sekitar. ‘’Kedatangan mereka ada yang sekadar berziarah, ada juga yang membayarkan nazar dan sebagainya,’’ kata Syamsudin. Kondisi pemakaman secara umum cukup bersih, ini menandakan pemeliharaan terus terjaga di areal seluas lebih kurang 9 meter persegi itu. Ruangannya terbagi dua. Pertama ruangan besar tempat penziarah bisa duduk mengamati berbagai perlengkapan yang terdapat di dalam termasuk melihat sebuah lukisan setengah badan tuan syekh yang memampangkan silsilah anak cucunya. Di tengah-tengah terdapat kuburan seukuran 5x4 yang dibatasi dengan pagar besi warna putih.

Kelambu besar berkain tebal menutupi makam di samping itu terdapat beberapa helai kain berbagai warna terikat di pagar besi. ‘’Ada yang bernazar dan membayarkan niatnya,’’ kata Syamsudin menjelaskan belitan kain pendek itu. Ia mencontohkan ada seorang perempuan yang sedang mengandung bernazar akan berziarah ke makam Tuan Syekh jika dapat melangsungkan persalinan dengan cara normal. ‘’Begitu bayinya lahir lewat proses normal sang perempuan datang ziarah ke sini,’’ cetusnya. Sebagai tanda memenuhi nazarnya telah berkunjung di tempat itu maka perempuan itu membelitkan seikat kain di pagar makam. Kisah perempuan pembayar nazar itu hanyalah satu di antara sekian banyak yang telah melunasi nazarnya, terlihat dari banyaknya kain yang mengikat pagar makam. Selain hari Jumat, kunjungan dari penziarah tidak dapat diprediksikan ketibaannya. Ada yang memang sengaja datang untuk berziarah, membayar nazar, ada juga sekadar tertarik saja. Sebagiannya kata Syamsudin cuma singgah memberikan sedekah. ‘’Malah ada juga orang yang lewat untuk mengambil foto saja,’’ tukasnya. Pada pekan ini Syamsudin mencatat baru ada satu rombongan keluarga dari Ujung Tanjung, Kecamatan Tanah Putih yang datang berziarah.

Melangkah ke dalam ruangan makam, pandangan menumbuk pada kayu menyilang di langit-langit ruangan makam, satu kipas kecil mencoba mengusir hawa panas siang itu, berputar ringan dan sedikit berisik. Lazimnya ditemui pada tempat bersejarah dengan potensi kerap dikunjungi, sebuah kotak infak terbuat dari batu bertengger di samping makam. Penziarah dapat langsung memasukkan uang lewat celah kotak.

Bagi yang ingin melihat keadaan makam lebih dekat diperbolehkan masuk tanpa ada peraturan tertentu. Quran, kitab Yasin dan rehal tersusun rapi di atas pembatas makam yang terbuat dari marmer. Tiga gentong air terletak di sebelah kotak infak, ‘’Airnya bisa diminum,’’ cetus Syamsudin yang mengaku merupakan generasi keempat dari tuan syekh ini.

Sebelum masuk ke dalam pelataran makam, Terlebih dahulu si penjaga akan membukakan pagar makam dan mengelung tirai kelambu agar permukaan makam dapat terlihat jelas. Ya, bagi khalayak umum barangkali ini hanya makam, kuburan tua yang terlantarkan. Tapi orang Tanah Putih Tanjung Melawan, agaknya tahu benar bagaimana menghargai sejarah. Mereka secara swadaya memperbaiki makam itu, bukan untuk sarana pemujaan tapi pengingat, petilasan lagi pada sosok yang demikian berjasa mengembangkan Islam di tempat itu. Tidak mesti menunggu kepedulian dari pemerintah.

‘’Bantuan sosial tak ada, kebanyakan dari masyarakat. Lantai itu, dinding dan sebagainya masyarakat yang membangun,’’ tunjuk Syamsudin. Bantuan lainnya berupa seng, besi, sempat datang dari pemerintah Kabupaten Bengkalis waktu itu Rohil belum dimekarkan. Belakangan setelah pemekaran kabupaten, Bupati Wan Thamrin sempat memberikan bantuan berupa material genteng, kaca, bak air. Kini sebagian sarana yang ada di lingkungan itu tengah menanti perbaikan, seperti sumur dan kakus. Di sekat yang terpisah, bakal sumur dan kakus itu terlihat terlantar, materialnya berserakan dan berdebu.

Lantas di manakah garis keturunan Tuan Syekh selanjutnya?, berdasarkan keterangan Syamsudin, sebagian besar sudah tidak diketahui lagi di mana keberadaannya. Tuan Syekh memiliki empat isteri yakni Hafsah, Hindun, Murob dan Bainah. Dari pernikahannya dengan Bainah beroleh anak yang diberi nama Aisyah yang selanjutnya menikah dengan Tengku Ahmad. ‘’Anak dari Aisyah dan Tengku, mungkin yang dapat diketahui kini yaitu Tengku Zabir berada di Bagansiapi-api, Tengku Amran di Dumai dan Tengku Zainuddin di Pematang Bomban, Kecamatan Rimba Melintang, Rohil,’’ kata Syamsudin.

Jejak pengembangan Islam yang dilakukan Tuan Syekh ternyata bertalian erat dengan satu nama wali Allah, Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan Al Kholidi Naqsyabandi. Satu figur, yang tak diragukan lagi adalah ulama berkaliber internasional, telah menancapkan tiang kokoh tarekat Naqsyabandiyah di Besilam, Langkat, sebagai salah satu tarekat yang terbesar di Asia Tenggara. Pernikahan Tuan Syekh Zainuddin dengan Hafsah, melahirkan Maryam yang dinikahi oleh Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan, dari sini lahir keturunan mereka bernama Zamrud, Cantik, Pokih Tambah dan Pokih Na’in.(fed)
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 17:04 wib

Komitmen Kampanye Damai

Senin, 24 September 2018 - 17:00 wib

Sungai Salak Juara MTQ Kecamatan Tempuling

Senin, 24 September 2018 - 16:43 wib

1 Dekade Eka Hospital Melayani Sepenuh Hati

Senin, 24 September 2018 - 16:30 wib

Warga Sungai Apit Pelatihan Olahan Nanas

Senin, 24 September 2018 - 16:08 wib

Cegah Kanker Rahim, Ketahui Resikonya

Senin, 24 September 2018 - 16:00 wib

Habib Salim Segaf Beri Tausiah di Masjid Islamic Center

Senin, 24 September 2018 - 15:37 wib

Prudential Bayar Klaim Rp98 Juta

Senin, 24 September 2018 - 15:30 wib

MTQ XLIII Bengkalis Resmi Dibuka

Follow Us