Dialog, Solusi Realistis Atasi Ancaman Perang Nuklir Korut-AS

17 Juli 2017 - 11.42 WIB > Dibaca 152 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - KETEGANGAN di Semenanjung Korea terus saja memperuncing perseteruan antara Korea Utara (Korut) dengan Amerika Serikat (AS). Kedua negara dengan kemampuan senjata nuklir ini tak henti memicu suasana panas. Apalagi sejak Donald Trump menjadi presiden, ketegangan menjadi-jadi. Setiap si degil Korut melesatkan rudal balistiknya, Trump merespon dengan garang dan malah mengerahkan pasukannya mendekati Semenanjung Korea.

Kita mencatat, Pyongyang sedikitnya telah melakukan lebih dari dua lusin tes rudal sejak Kim Jong-un berkuasa pada Desember 2012. Tahun lalu, tak hanya meledakkan dua perangkat nuklir, rezim Jong-un terus saja melabrak larangan PBB dengan peluncuran roketnya. Mereka bahkan memanas-manasi AS dengan meluncurkan rudal terbaru pada malam hari Kemerdekaan AS.

Agitasinya tidak hanya itu. Mereka malah sesumbar bahwa dengan peluncuran terbaru itu, Korut mengklaim senjata nuklirnya kini mampu menyasar hingga ke daratan AS. Trump kali ini memilih lebih hati-hati dalam bereaksi dan mendesak sekutunya Cina untuk menekan Korut sambil menggertak, jika itu tidak mempan, AS akan melakukan tindakan sepihak. Retorika panas pun berhamburan dari mulut diplomatnya di PBB dan petinggi militer AS: kami siap untuk perang apa pun!

AS memang tidak segan-segan ”menghajar’’ negara yang jauh letaknya dari garis  pantai Amerika. Bagaimana mereka meluluh-lantakkan Irak pada 2003. Apa tidak ada upaya diplomasi dengan Korut? Tiga presiden AS terdahulu sudah melakukannya, namun untuk menghajarnya, Korut jelas beda dengan Irak. Sebab jika diserang, Korut bukan tidak mungkin merealisasikan janjinya untuk dengan kekuatan penuh memberikan ancaman serius yang bakal menempatkan jutaan warga Korea Selatan, dan 38.000 tentara Amerika, berada dalam bahaya. Belum lagi jutaan warga negara tetangga yang akan terseret ke situasi konflik.

Karenanya, harus ada pilihan untuk memujuk, bahkan memaksa Korut untuk menempuh jalan lain, yakni dialog langsung dengan AS. Ini juga disuarakan oleh pemimpin Cina dan Rusia. Berbagai pihak di dalam negeri ikut mendesak Trump, untuk memulai pembicaraan sebagai “satu-satunya opsi realistis” guna mencegah potensi senjata nuklir Korea Utara.

Penting untuk diingat di sini bahwa negosiasi dengan Korea Utara menyebabkan sebuah kesepakatan pada tahun 1994 yang membekukan program nuklirnya selama hampir satu dekade. Tapi Utara tidak mungkin menyetujui pembekuan sekarang. Korea Utara tahu mengapa Irak diserang dan apa yang terjadi pada Libya setelah Muammar Gadhafi menegosiasikan program rudal dan nuklirnya. Jadi AS seharusnya juga tidak berkeras dengan usulan denuklirisasi.

Bagaimana pun, kita jelas tidak menginginkan kawasan yang posisinya tak jauh dari wilayah Nusantara itu, terperosok ke dalam ego pemimpin mereka untuk saling unjuk kekuatan nuklir dan senjata pemusnah massal. Kita tetap mendukung adanya dialog, sebagai pilihan solusi yang realistis.***
KOMENTAR
Follow Us