Sajak-sajak Dea Anugrah

29 Juli 2012 - 08.12 WIB > Dibaca 5592 kali | Komentar
 
Untuk Vivian Bullwinkel

‘’berdukalah pada hari ulang tahunku ini
maka kelak aku akan membayarnya
dengan kembali, memelukmu
tanpa tersedu, sambil bercerita
tentang kematian yang gagal menjebakku
di hindia.’’

namun adakah yang lebih pucat dan sedih
dari seorang perempuan yang terlalu mengerti?

dalam perang:
mesiu dan artileri
dapat berakar, tumbuh, lalu menjalar
sepanjang urat tanah, bersembunyi
pada rimbun pohon kina
pada lugu sayur-mayur
dan desersi kulit padi

yang terkubur dalam jeda
antara lelap dan jaga
adalah peruntungan seorang kadet,
kemungkinan yang pertama
diredam oleh derap terompah
adalah garis tangan seorang prajurit.

sedang nasib akan selalu membantun janji
yang dilingkarkan pada jemari.

tapi hanya pada mercusuar yang terkena malam
perempuan itu berani mengeluh:
‘’apakah di surga
juga ada derita?’’
di udara, mendung melepaskan berat
dan burung-burung camar yang kehujanan
mulai berdebat:
benarkah april adalah bulan terjahat?

sementara rambut perempuan itu basah,
dan jiwanya mungkin berdosa
karena secepuh keraguan pada surga

tetapi
hanya pada mercusuar yang terkena malam
perempuan itu berani mengeluh:
‘’apakah di surga
juga ada derita?’’


1989

memang setiap kisah
punya makamnya sendiri
tetapi di manakah
mesti kumakamkan kenangan?

seperti doa dan nujum
tak pernah menghindarkan
ladang-ladang jagung
dari serbuan belalang
demikianlah kecemasanku
tak menghindarkanmu
dari kepergian

(manisku, apakah di Beijing
orang-orang juga
membenci belalang?
apakah para mahasiswa
juga menangisi bonggol mentah
yang hilang dari ladang?)

memang setiap kisah
punya makamnya sendiri
tetapi di manakah
mesti kumakamkan kesepian ini?

di Tumen, hanya aku yang tak lagi percaya
pada pertanda, pada isyarat
bencana yang dikirimkan dewa-dewa
sebab, bukankah pada hari kau berangkat
kota cuma basah
dan kita hampir-hampir tak bicara?

di Lapangan Tiananmen, setiap kisah
memang telah bertemu makamnya
tetapi di manakah
mesti kumakamkan harapan?


Lagu Penghabisan

setelah duapuluh puisi
yang kutulis sebagai demam
sampailah kita pada baris-baris ini:
sebuah lagu penghabisan untukmu

bacalah, sebagaimana dulu
kau membaca pernyataan cintaku
sesudah ini mungkin aku akan mengenangmu
sebagai lukisan berpalet amber
tentang jabat tangan yang sebentar
dan kesepian yang tak dapat lumer

sebuah lagu penghabisan
adalah aroma garam pada geladak kapal
lagu penghabisan
adalah suara kepak camar
yang sesekali gugur
ke dalam kantukku

sesudah ini, jangan lagi cari aku
sebab di ujung senja yang dulu
cakrawala telah patah
dan kudaku lepas dari tambatnya

dan misalkan kelak kau tersesat
saat berjalan-jalan di sabana ingatan
pertajam pandanganmu!
aku adalah penunggang epithumia
yang bergerak di kejauhan itu.


Sebelum Hari Terakhir

seandainya kutulis
sebuah nama pada kulit trembesi
atau sebaris
frasa di atas bangku taman ini
akankah kita abadi?

dan kulihat kau meringis
sedikit kernyit di pelipis.
‘’bangku ini dulu tak ada,’’ katamu
‘’dan siul belibis
yang dulu ada, punah
sejak taman ini diciptakan oleh bahasa’’

dan kulihat kau mengulurkan tangan
seperti hendak menyentuhku
pada paras. lalu:
‘’barangkali akan selalu ada cemas,
seperti aku, memang tak selalu bisa meyakinkanmu’’

dan kusentuhkan bibir pada ruas-ruas
jemari tangan itu.
anggaplah ini sebuah aforisma, ujarku
jawaban bagi kecemasan, atau
barangkali rasa takutmu.

‘’bagaimanakah...’’ bisikmu
sembari menempatkan dagu pada bahuku
‘’jika akhirnya justru
kitalah yang saling mengkhianati?’’

kusaksikan daun trembesi
perlahan terlepas
tapi kini aku hanya mengerti:
airmata begitu panas


Dea Anugrah

Karyanya dimuat di antologi Suara-Suara Nurani dan Kalbu (2009), Teka-teki tentang Tubuh dan Kematian (2010), Percakapan Lingua Franca (Temu Sastrawan Indonesia III, 2010), Memburu Matahari (2011), Beternak Penyair (2011) dan lain-lain, serta sejumlah media massa. Kini bergiat di Komunitas Rawarawa dan forum diskusi buku Daftar Pustaka.
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 15:00 wib

2.000 IKM Tak Terdaftar

Minggu, 23 September 2018 - 14:48 wib

Pemotor Kecelakaan Beruntun

Minggu, 23 September 2018 - 14:34 wib

Polisi Gadungan Ditangkap

Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Follow Us