Opini
Agusyanto Bakar Alumnus Pasca-Sarjana Universitas Riaud

Membincangkan Semangat yang Muda

25 Juli 2017 - 11.44 WIB

RIAUPOS.CO - Pemilihan Gubenur Riau (Riau-1) tahun 2018 sudah di depan mata. Saat ini mulai bermuculan nama-nama calon yang di gadang-gadangkan untuk berkontestasi di atas panggung  Pilgubri menuju Riau-1. Bahkan calon yang akan diusung oleh tim masing-masing sudah mulai disosialisasikan di tengah-tengah masyarakat. Paling tidak ada beberapa nama tokoh yang mulai santer dibicarakan, baik oleh partai politik maupun masyarakat luas: Arsyadjuliandi Rachman (gubernur sekarang), Firdaus, M Harris, Syamsuar, Achmad, Indra M Adnan, Lukman Eddy, Septina Primawati dan Intsiawati Ayus, Yopi Arianto dan Irwan Nasir dan beberapa tokoh muda lainnya.

 Dikotomi Tua dan Muda
Pada prinsipnya Saya juga sepakat dengan pendapat yang mengatakan, bahwa berbicara mengenai kepemimpinan sesungguhnya persoalan intinya tidak terletak pada tingkat usia  tua ataupun muda, tetapi faktor krusialitasnya terletak pada kompetensi yang dimiliki seseorang. Apa lagi yang dipahami sebagai pemimpin tua ataupun muda itu parameter yang digunakan sebenarnya masih menjadi perdebatan: Dipahami sebagai semangatnya-kah atau usianya? Terlepas dari itu, yang jelas dalam konteks ini, tentu saja ruang-peluang untuk menjadi pemimpin harus terbuka bagi siapa saja dan bagi semua golongan yang tentunya memenuhi kualifikasi kecakapan serta memiliki kemampuan tanpa mempersoalkan dan tanpa direweli oleh dikotomi tua ataupun muda.   

 Keteladanan Kaum Muda
Kaum muda telah tercatat dalam lembaran sejarah sebagai komunitas yang berada di garda terdepan dalam menggelegarkan panggung perpolitikan Indonesia. Faktanya, di sana ada Jenderal Sudirman yang diangkat menjadi Panglima Tentara Keamanan Rakyat saat berusia 31 tahun. Ada Sutan Sjahrir PM pertama RI waktu itu masih berumur 36 tahun. Ada Mohammad Natsir menjadi PM pada usia 42 tahun, Burhanudin Harahap menjadi PM pada usia 32 tahun. Ada Soekarno presiden pertama RI saat itu baru berumur 44 tahun dan Hatta menjadi wakil presiden saat berumur  43 tahun. Dalam konteks ini rasanya kita semua sepakat, bahwa para tokoh-tokoh yang disebutkan di atas telah memberikan perubahan yang signifikan bagi bangsa Indonesia meski berusia muda. Bahkan dalam sejarah perpolitikan Islam, Nabi Muhammad sendiri pun pernah mengambil keputusan kontroversial dengan  mengangkat Usamah bin Zaid yang masih berusia 18 tahun menjadi panglima perang dalam memimpin puluhan ribu tentara dan  hasilnya,  pulang dengan gemilang kemenangan dalam menaklukan Romawi. Bahkan dari Hongkong,  ada Joshua Wong tokoh sentral oposisi Revolusi Payung di Hongkong, masih berusia 19 tahun, namun berhasil menggerakkan jutaan pelajar dan mahasiswa dalam mendorong agar Hongkong terlepas dari Beijing.  

Dus, aktivitas politik kaum muda yang diidentikkan sebagai pendobrak dan penerobos kebekuan konstelasi perpolitikan nasional maupun tingkat lokal, di pandang cukup untuk  membuka ruang mengundang simpati dan dukungan dari rakyat. Betapa tidak, aktivitas politik kaum muda dengan disiplin keilmuan yang dimilikinya, tak sekadar hanya bertengger di pola pikirnya saja dengan arogansi keilmuan yang dimilikinya. Tapi, aktivitas politik kaum muda kerap berkorelasi dan memiliki jejak kerakyatan dalam memecahkan aneka problematika sosial-kemasyarakatan yang terjadi. Mengapa? Karena ide-gagasan dan pemikiran kaum muda menyangkut kehidupan sosial kemasyarakatan diyakini masih segar dan mengandung kebaruan untuk kemajuan: Progresif. Dalam konteks ini, disepakati atau tidak, nilai lebih kepemimpinan kaum muda adalah lebih tulus, jernih dan memiliki kemenyatuan dengan kehidupan rakyat. Kendati demikian, memang betul ada juga beberapa kaum muda yang mengorientasikan aktivitas politiknya untuk sekadar memetik keuntungan: Sebuah riba politik! Namun dalam pandangan subjektif Saya hal demikian terjadi hanya kasus per kasus saja sifatnya.

 Tak pelak lagi, dengan munculnya tokoh -tokoh muda sebagai calon dalam panggung  Pilgubri menuju Riau-1, seolah-olah ingin menegaskan bahwa Indonesia, khususnya Riau sudah semestinya dipimpin oleh pemimpin yang enerjik, segar, kaya akan ide gagasan pembaruan dan memiliki visi progresif yang diwakili oleh kaum muda. Apa lagi dalam konteks membangun Riau yang adil dan bijaksana, transparan, membangun pendidikan, ekonomi, sarana dan prasarana, tata kelola pemerintahan yang baik maupun membangun SDM Riau serta SDA di berbagai sektor yang sudah selayaknya dinikmati masyarakat Riau.

Di NTB ada Gubernur M Zainul Majdi yang saat dilantik pada tahun 2008, usianya masih 36 tahun dan kini terpilih lagi untuk periode 2013-2018.  Kalau di NTB ada Zainul Majdi, di Lampung ada Gubernur Muhammad Ridho Ficardo yang saat menjadi Gubernur usianya baru 33 tahun dan di Jambi ada Zumi Zola Zulkifli (35 tahun). Pertanyaannya, bagaimana dengan Riau? Cukup banyak tokoh-tokoh muda di Riau, lalu akankah yang muda memimpin Riau? Semua kembali ke kita.***



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook