Opini
Dr H Irvandi Gustari Direktur Utama PT Bank Riau Keprid

Mungkinkah Sosialis Menggantikan Liberalis dalam Globalisasi?

27 Juli 2017 - 10.57 WIB

Mungkinkah Sosialis Menggantikan  Liberalis dalam Globalisasi?
RIAUPOS.CO - Krisis ekonomi global memang belum ada ujung akhirnya, dan jalan masih berliku panjang untuk sampai kepada kembali pulih normal. Apakah ini pertanda bahwa sistem ekonomi liberalis akan runtuh? Ya kita mungkin sudah memahami semuanya bahwa yang menguasai dunia saat ini adalah sistem ekonomi liberalis. Seolah-olah ada perjanjian tidak tertulis bahwa bila suatu negara ingin maju pesat, maka harus mengadopsi penerapan sistem ekonomi liberalis.

Kita lihat saja negara Cina yang dulunya begitu bangga dengan menerapkan sistem ekonomi komunis, dan  pada akhirnya sejak rezim Deng Xio Ping secara terang-terangan menyatakan bahwa yang mereka terapkan dalam sistem pemerintahan adalah sistem komunisme dan untuk sistem perdagangan dan perekonomiannya, Cina menerapkan sistem ekonomi liberalis. Cina akhirnya menjadi negara nomor 2 dunia secara skala ekonominya dan selalu bertumbuh di atas 10 persen. Namun sejak tahun 2015, Cina adalah salah satu negara besar di dunia menjadi biang kerok terjadinya krisis ekonomi global, dan pertumbuhan Cina anjlok dari 2015 sampai sekarang sekitar 6 persen. Tumbangan ekonomi Cina juga menjadi perbincangan hangat para pakar ekonomi, apakah yang salah itu sistem ekonomi liberalisnya atau pihak Cina yang terlalu menerapkan pasar bebas dalam implementasi ekonomi liberalisnya itu?  

Begitu pula dengan Rusia, yang juga dengan bangga sebagai negara besar sebagai lawan tandingnya Amerika Serikat dalam berbagai hal, juga pada saat rezim Presiden Putin, secara terang-terangan pula menyatakan bahwa  sistem pemerintahannya adalah menggunakan sistem sosialis komunisme dan untuk keluar dari keterlambatan tumbuh ekonominya, maka Rusia juga tanpa malu-malu menyatakan menerapkan sistem ekonomi liberalis.

Dua negara terbesar dunia setelah Amerika Serikat, yaitu Cina dan Rusia, yang juga sesungguhnya adalah lawan tanding dari Amerika Serikat dalam berbagai hal, sekarang sudah mengakui kehebatan dari sistem ekonomi liberalis. Dengan demikian dari skala ekonomi dunia sebenarnya, sudah lebih 50 persen ekonomi dunia ini dikuasai oleh sistem ekonomi liberalis.

Yang menjadi pertanyaan bahasan kita, apakah krisis global saat ini yang berkepanjangan tanpa ujung ini, apakah akibat dari kelemahan-kelemahan yang ada pada sistem ekonomi liberalis kah? Atau merupakan suatu permainan

Memang tidak hanya sistem perekonomian liberalis yang satu-satunya di dunia ini.  Masih ada sistem ekonomi lainnya, seperti sosial demokrasi, heterodoks, negara kesejahteraan atau kelompok Scandinavia, dan juga komunis.

Namu seiring denga perkembangan jaman yang saat ini kita sebut globalisasi menjadikan dunia ini tanpa batas, maka  secara kasat mata kita harus mengakui yang menguasai dunia saat ini adalah aliran liberalis.

Tampilnya kapitalisme sebagai satu-satunya ideologi tunggal yang dianut dunia tentu menggelisahkan banyak orang yang masih menganggap the another world is possible. Apalagi praktiknya kemudian, kapitalis dalam bentuknya yang paling mutakhir, neo-liberalisme nyata-nyata tak pernah berhasil menjawab tantangan dunia yang lebih ”berkeadilan”.

Banyak akal dan cara paham liberalis merasuk masuk kedalam paham suatu negara. Contohnya Indonesia, ketika tahun 1998 saat krisis moneter, maka  Indonesia butuh pinjaman lunak dari IMF di mana kita tahu bahwa IMF adalah lembaga keuangan bentukan dari negara-negara barat penganut liberalis di antaranya adalah Amerika Serikat, dan saat itu IMF memberikan aturan yang mengandung paham liberalis kepada Indonesia, dan momentum seperti itulah yang banyak dipakai negara liberalis untuk menguasai dunia dengan modus memberikan dukungan dan bantuan dan akhirnya paham liberalis itu menjadi suatu keharusan .

Cina juga dengan terang-terangan  membuat pengakuan ketika di bawah kepemimpinan Deng Xiaoping pada tahun 1971-1997, dimana untuk meningkatkan percepatan pertumbuhan ekonominya, maka Cina secara eksplisit menyatakan bahwa sistem perekonomiannya mengikuti paham liberalis dan sistem pemerintahannya tetap menggunakan paham komunis. Ya memang terbukti Cina bertumbuh cepat di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia, bahkan selama 10 tahun sebelum 2015, Cina bertumbuh selalu di atas 10 persen.

Yang tak kalah menariknya adalah Rusia, yang secara pemerintahan menganut paham sosialis, namun secara praktiknya  juga menerapkan pola yang diberlakukan seperti liberalis.  Tentunya timbul pertanyaan, apakah penyebaran paham liberalis ini, adalah ingin menguasai dunia oleh negara liberalis seperti Amerika Serikat dan Inggris beserta kelompoknya melalui negara persemakmuran?  Memang keliatannya ada arah ke arah situ.

Untuk lebih memantapkan bahasan artikel ini, akan disingkap secara singkat saja  mengenai perbedaan secara umum mengenai liberalis terhadap sosialis terlebih dahulu.

Perlu diketahui juga bahwa ternyata tidak selamanya bahwa  liberalisme itu jaya selalu. Liberalisme ekonomi mendominasi Amerika Serikat sepanjang tahun1800-an dan awal 1900-an. Lebih lanjut ketika  tejadinya Great Depression (depresi ekonomi besar-besaran) tahun 1930-an membawa seorang ekonom yang bernama John Maynard Keynes kepada teori yang menantang paham liberalisme sebagai kebijakan terbaik bagi kaum kapitalis. Ia menyatakan bahwa, pada dasarnya, tingkat kerja penuh (full employment) adalah penting bagi kapitalisme untuk berkembang dan hal itu bisa dicapai hanya jika pemerintah dan bank sentral melakukan intervensi untuk meningkatkan lapangan kerja.

Bila kita mundur sejenak melirik awalnya paham liberal dan dari berbagai literatur disebutkab bahwa aliran ekonomi liberal tersebut menjadi terkenal di Eropa pada saat  Adam Smith, seorang ekonom Inggris, meluncurkan bukunya di tahun 1776 yang berjudul The Wealth of Nations. Adam dan pihak-pihak lainnya mendukung penghapusan intervensi pemerintah dalam urusan ekonomi. Adam Smith dengan gencar menyatakan agar tidak ada pembatasan dalam manufaktur, tidak adanya hambatan dalam perdagangan, tidak adanya tarif (bea), dan juga Smith menyatakan: Perdagangan bebas adalah cara terbaik untuk perkembangan perekonomian sebuah bangsa. Dengan demikian liberalisme menjadi perwujudan dari penerapan pola individualisme yang mendorong adanya perusahaan “bebas”, persaingan “bebas”, yang sesungguhnya bermakna kebebasan bagi kaum kapitalis untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya sesuai keinginan mereka. Artinya terjadi pasar bebas, dan siapa yang kuat silakan untuk maju, ya begitulah liberalisme.

Tidak selamanya memang, bahwa liberalisme itu sukses selalu, dan salah satu contoh gagalnya liberalisme juga terjadi di negara-negara Amerika Selatan, yang sebelumnya adalah penganut paham sosialis. Sepanjang 1980-an, Amerika Latin mengalami periode tanpa arah dengan pertumbuhan ekonomi terendah, kemiskinan melejit, distribusi pendapatan terburuk di dunia. Setelah terjadi pertumbuhan ekonomi yang lumayan pada paruh pertama 1990-an di bawah ”arahan dan kendali” Bank Dunia dan IMF, kembali terjadi ”5 tahun yang hilang” pada paruh kedua 1990-an. Penyebabnya, penyesuaian struktural neo-liberal terbukti dan ternyata tidak mampu menepati janji perbaikan. Sebaliknya, Argentina sebagai negara ”pajangan” reformasi neo-liberal saat itu pada 2001 tambah terjerembab krisis serius.

Ada baiknya kita uraikan dulu mengenai arti dan makna dari paham sosialisme itu sendiri sebelum kita terlalu jauh membahasnya . Mengutip dari beberapa literatur juga, disarikan sebagai berikut: Sosialisme atau sosialis adalah sistem sosial dan ekonomi yang ditandai dengan kepemilikan sosial dari alat-alat produksi dan manajemen koperasi ekonomi, serta teori politik dan gerakan yang mengarah pada pembentukan sistem tersebut. Kepemilikan sosial bisa merujuk ke koperasi, kepemilikan umum, kepemilikan negara, kepemilikan warga ekuitas, atau kombinasi dari semuanya. Ada banyak jenis sosialisme dan tidak ada definisi tunggal secara enskapitulasi dari mereka semua. Kesemuanya itu terdapat perbedaan  dalam hal jenis kepemilikan sosial yang mereka ajukan, sejauh mana mereka bergantung pada pasar atau perencanaan, bagaimana manajemen harus diselenggarakan dalam lembaga-lembaga yang produktif, dan peran negara dalam membangun sosialisme

Negara-negara Amerika Selatan setelah gagal bangkit dengan ala liberalisme dan akhirnya balik kepada sistem sosialis dan ternyata dalam 10 tahun di Amerika Latin, telah timbul perbaikan sosial-ekonomi yang signifikan. Tingkat kemiskinan menurun dari 48 persen menjadi 36 persen total penduduk. Di Brazil, 11 juta keluarga mendapat tunjangan langsung berkat program Bolsa Famillia. Sebelumnya hanya 3,6 juta keluarga yang mendapat manfaat itu pada tahun 2003. Di banyak negara Amerika Latin terjadi perbaikan distribusi penghasilan rakyat.

Ternyata sosialis tidak selamanya sukses dan begitu pula  bahwa kapitalis juga tidak selamanya sukses. Contohnya Newman kemudian merujuk pada praktik-praktik sosial demokrat di Swedia dan komunisme di Kuba. Keduanya, menurut Newman dianggap paling kuat dan kebal dalam menghadapi serbuan kapitalisme. Sosial demokrat di Swedia, setidaknya merupakan hasil pertentangan revisionisme ala Eduard Bernstein dan kubu komunisme Bolshevisme Rusia. Sosial demokrat memilih cara parlemen untuk mendirikan sosialisme sementara komunisme ala Bolshevisme dengan revolusi sosial. Artinya sosial demokrat (turunan dari aliran sosialis) di Swedia harus melakukan penyempurnaan dari pola yang lama agar tetap bisa bertahan dari hantaman aliran liberalis.

Lain halnya praktik di Kuba, di mana menerapkan aliran komunisme yang  berbeda dengan komunisme yang dipraktikkan di Uni Soviet atau Cina, melalui kepemimpinan karismatik Castro kebijakan revolusioner langsung menyentuh pada akar masalah rakyat banyak. reforma agraria radikal, pajak progresif untuk menyokong ekonomi nasional daripada investasi asing, menyokong ekonomi rakyat dan pembangunan di provinsi-provinsi kecil, serta kontrol atas ekspor dan perdagangan luar negeri. Tetapi dari banyak hal tersebut Castro paling berhasil di bidang program pendidikan dan kesehatan. Di bawah kepemimpinan Castro, Kuba merupakan negara dengan fasilitas kesehatan dan jumlah dokter yang terbaik di Amerika Latin. Ya memang di Kuba sosok Castro dipuja -puja oleh rakyatnya dan sebaliknya dicaci maki oleh Amerika Serikat, ya karena aliran liberalis tidak pernah tembus ke Kuba.

Dari paparan singkat pada artikel ini, memang dapat kita tarik benang merah, bahwa  memang tidak ada aliran atau paham ekonomi yang terbaik di dunia ini. Terbukti paham liberalis juga pernah gagal dan saat ini juga diduga adanya krisis global saat ini adalah juga disebabkan oleh gagalnya konsep liberalisme dalam menerapkan konsep pasar bebas yang sesungguhnya. Juga dengan aliran sosialis, yang sudah jauh berkembang dengan turunannya, dan terbukti juga adakalanya cocok dan sukses untuk menumbuhkembangan perekonomian suatu negara, dan adakalanya juga ikut sebagai penyebab runtuhnya perekonomian suatu negara.

Jadi, adanya globalisasi sebenarnya menjadikan dunia tanpa batas, namun juga menjadi negara yang  yang akan eksis ekonominya adalah negara yang fleksibel bisa bekerja sama dengan berbagai macam aliran tersebut, dan itu sudah terbukti.***


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook