Opini

Menegakkan Moral Ekologis

28 Juli 2017 - 10.13 WIB

RIAUPOS.CO - ADA pernyataan menarik dari Ketua Pansus Monitoring lahan, Datuk Suhardiman Amby di halaman depan Riau Pos (25/7/2017). Anggota Komisi D DPRD Riau itu mengeluhkan banyaknya pabrik kelapa sawit beroperasi tanpa kebun. Data dari Dinas Perkebunan Provinsi Riau, terdapat 263 pabrik kelapa sawit (PKS) yang menempati 2.248.199.063 Ha. Dari 263 PKS itu, Pansus menemukan 75 PKS tanpa kebun itu diduga mengambil dari perambahan kawasan hutan, baik itu Taman Nasional Tesso Nilo, Bukit Tiga Puluh, Hutan Lindung, Giam Siak Kecil, Suaka Margasatwa dan kawasan terlarang lainnya. Tapi bagaimana “nasib” temuan temuan miris itu? Saya kira, menegakkkan hukum di sektor lingkungan layaknya mencari jarum di jerami. Menegakkan moral ekologis, di tengah derasnya kapitalisme di bumi Melayu.

Seperti kata Syeikh Abdul Qodir Jailani, “bila setan didewakan dan diagungkan, maka ia akan besar”. Kejahatan pun begitu ikhwalnya. Setiap yang diagungkan, dipuja, ditakuti dan dianggap memiliki kedigdayaan, maka ia segera menjadi hebat dan benar benar tampak berkuasa. Para birokrat eksekutif, anggota legislatif yang dilindungi undang-undang untuk mengatur hajat hidup orang banyak sekalipun bisa tunduk tak berdaya berdepan dengan cukong ekologis.

Kerusakan lingkungan, bencana ekologis dan kabut asap, sesungguhnya berawal dari pengakuan dan pengagungan (takut) terhadap kekuatan batil yang berperan di belakangnya. Bertahun-tahun Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Riau tidak jadi jadi disahkan. Panitia Khusus Monitoring dan Perizinan DPRD Riau bertungkus lumus bekerja, menemukan fakta fakta mencengangkan. Ditemukan ada perusahaan mengemplang pajak triliunan, lahan perkebunan tak berizin, puluhan desa dan perkantoran serta tanah ulayat belum keluar dari kawasan (kategori) hutan, dan temuan terbaru PKS tanpa kebun. Hutan dan habitat alami bumi Melayu telah berganti dengan tanaman monokultur. Sumber mata pencaharian suku suku asli di tanah air lenyap. Perobohan hutan mengakibatkan rusaknya tanaman yang mengakibatkan kehidupan liar mati karena hilangnya makanan dan habitat, erosi tanah, sedimentasi pada badan air, gangguan fungsi hidrologi hutan, dan gangguan terhadap daur hara. Data data sumir itu nampaknya menyempurnakan cerita pedih nasib orang Melayu di Riau yang oleh Edi Ruslan Pe Amanriza dipekikkan puisi: akan berpisah jua kita Jakarta…”

Sesungguhnya kekuatan batil itu lemah, demikian kata Alquran. Tapi syaratnya kebenaran harus tampil. Sebagaimana Musa AS, dengan lantang meneriaki Firaun agar turun dan takhta kesombongan dan penuhanan dirinya dimata rakyat. Atau Hang Jebat yang mengamuk di kediaman sultan untuk membuktikan kesejatian jiwa Melayu berhadapan dengan oligarki hegemonik sultan. Mempertahankan idealisme dan cita cita konstitusi serta merawat kesetiaan ekologis demi bumi tidak bangkrut memang tidak mudah. Tapi di situlah pertaruhan iman, kepahlawanan dan spirit kenegarawanan. Tan Malaka di Timur, Salahuddin al Ayyubi dari Tanah Arab, Bung Hatta, Pak Natsir dan sederet nama besar ranah Minang menghiasi bintang di langit dunia dengan tugas menampilkan kebenaran. Oleh itu, kebatilan dan kejahilan lenyap seketika, di zaman mereka hidup dan mengayuhkan kiprah.

Di pentas ekologis dan belantara rimba raya Riau, pun sesungguhnya kita memerlukan naluri kepahlawanan semacam itu. Kebangkrutan moral, dalam arti membiarkan degradasi ekologis mengakar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita hanya melahirkan korban pembangunan (victim of development). Sejak musim Hak Pengelolaan Hutan (HPH) Orde Baru, Hutan Tanaman Industri (HTI), Penambangan Emas Papua, galian C di Kampar, runtuh hutan tropis secara massif, hampir tidak tampil para penegak kebenaran. Negara dan para “Hang Jebat Ekologis” seakan absen dan alfa, di manakah kau berada?

Pahlawan Ekologis
Kelangsungan hidup orang lokal sangat tergantung, di satu sisi pada ketersediaan sumber-sumber kehidupan (hutan-tanah) di desa; dan sisi lain pada institusi yang berfungsi mengatur proses distribusi sumber-sumber kehidupan itu secara adil dan merata di antara warga desa dengan kepimpinan adat Melayu. Adil dan merata dalam konteks ini menunjuk pada sebuah kondisi di mana setiap orang (warga desa) memiliki kesempatan yang sama atas sumber-sumber kehidupan, aspek pemerataan, sebatas yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan subsisten (sehari hari). Dalam kondisi di mana sumber-sumber kehidupan, terutama tanah yang tersedia di kampung-kampung semakin terbatas jumlahnya karena tekanan industri yang merampas tapi ada izin, apa yang terjadi adalah gejala shared poverty (kemiskinan yang dibagi rata) dan involusi pertanian.

Menarik untuk dipelajari para “Hang Jebat Ekologis” Riau adalah penelitian James Scott di Vietnam. Selama 8 tahun membaur dengan petani tebu di Vietnam, Scott memaparkan bentuk perlawanan petani terhadap kapitalis tidak pernah diwujudkan dalam bentuk aksi kolektif yang terorganisasi, melainkan berupa perlawanan sehari-hari yang tersembunyi, halus, berupa penghindaran, penipuan, dan dilakukan secara diam-diam. Dalam uraian yang lebih lengkap Scott mencatat, bentuk perlawanan sehari-hari, sebuah pertarungan jangka panjang yang prosaik, antara petani dan pihak-pihak yang coba menyerobot pekerjaan, makanan, bayaran rendah terhadap mereka. Kebanyakan bentuk pertarungan ini hampir saja menimbulkan tantangan kolektif langsung. Taktik petani di sana seperti memperlambat pekerjaan, bersifat pura-pura, pelarian diri, pura-pura memenuhi permohonan, pencurian, pura-pura tidak tahu, menjatuhkan nama baik majikan-lawan, pembakaran/terbakar, penyabotan, dan sebagainya. Mereka hampir tidak memerlukan koordinasi atau perencanaan; menggunakan pemahaman implisit serta jaringan informal; sering mengambil bentuk mengurus diri sendiri; dan mereka secara khas menghindari konfrontasi simbolis yang langsung dengan kekuasaan.

Bentuk perlawanan seperti ini tidak mengenal manifesto, demonstrasi, kampanye, penggalangan masa dan perlawanan-perlawanan terbuka seperti yang pernah dilakukan elemen masyarakat Riau. Tercatat dalam sejarah Riau, Sarikat Tani Riau (STR) dari Pulau Padang Kabupaten Meranti bangkit melawan kapitalisme industri hutan dengan gegap gempita. STR lebih mirip gerakan sosialisme yang melakukan konfrontasi terbuka, aksi mogok makan, berkemah di depan gedung DPRD Riau, menjahit mulut di depan istana negara, tetapi kandas di depan “konspirasi kemakmuran”. Ada pula gerakan kekinian berupa tuntutan Koalisi Rakyat Riau (KRR) yang dikomandoi AZ Fachri Yasin, seorang kolega Tabrani Rab Presiden Riau Merdeka-,  melaporkan perusahaan penjarah hutan yang juga terbentur tembok “perselingkuhan kesejahteraan” para elite tiran.

Menanti Hang Jebat
Dalam penantian “menari” antara teori Scott dan Hang Jebat tanah Melayu sebagai model perlawanan masyarakat Riau, penulis kembali berpikir bahwa janganlah kebatilan itu diagungkan. Kita percaya Indonesia sangat lama frustasi melawan Belanda (350 tahun) dan Jepang, tetapi api kepahlawan akhirnya menyala. Pemuda zaman tetap hadir di segala ufuk sejarah haruslah memandang kebatilan ekologis itu lemah, seperti jejaring laba laba di pojok plafon rumah. Jaring laba laba itu tampak kokoh, rapi, terjalin sangat kuat. Tetapi sesungguhnya amat rapuh di hadapan putra putra Melayu yang nyala iman dan istiqamah terpatri di dadanya. Dian yang tak kunjung padam. Kebangkitan perjuangan putra putri bumi lancang kuning itu akan terus melaju, tak peduli keris-bedil berderu deru dan konspirasi kemakmuran para elite yang putus urat malu. Karena tujuan juangnya hanya pada Tuhan Yang Satu, akhirat kelak tempat yang dituju.***


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook