Opini
Hana Ummu Dzakiy Pemerhati Generasi Muda, Perempuan, dan Keluargad

Konsep Islam tentang Mendidik Anak

28 Juli 2017 - 10.14 WIB

RIAUPOS.CO - Saya Anak Indonesia, Saya Gembira, adalah pesan utama dari  acara Hari Anak Nasional 2017. Peringatan puncak Hari Anak Nasional 2017 yang digelar di Pekanbaru ini mengambil tema besar “Perlindungan Anak Dimulai dari Keluarga”. Tak dipungkiri, anak-anak kian tak aman. Ada yang terjerat narkoba, miras, seks bebas, geng motor, kecanduan game online, dan terlibat tindak kriminal. Tugas orangtua semakin berat karena lingkungan semakin tak bersahabat untuk tumbuh kembang anak. Sementara tak mungkin juga anak  dikurung terus-menerus di dalam rumah dengan dalih lingkungan di luar sana tak aman. Sebenarnya ada masa di mana anak harus diupayakan steril dari lingkungan buruk dan ada masanya anak dihadapkan pada lingkungan yang buruk dengan harapan bisa survive sekaligus mengubah lingkungan tersebut menjadi baik.

Kapan anak cukup steril dari lingkungan buruk? Ketika anak masih belum bisa memfilter mana yang baik dan buruk. Dalam masa ini sebaiknya anak lebih banyak bersosialisasi dengan orang-orang yang tidak mungkin merusak anak yakni orang tua dan keluarga dekat. Maka dari sini kita perlu menjadi orang tua yang baik sekaligus role model manusia terbaik bagi anak. Sekolah yang dipilihkan untuk anak adalah yang menyediakan lingkungan terbaik. Gurunya yang mencintai dunia anak, sabar, dan tak kalah pentingnya adalah baik agamanya.

Pada masa ini anak memang harus mendapat pengasuhan terbaik. Anak tidak dicela, dimarahi, dihina. Tapi anak senantiasa dimotivasi dan dikuatkan. Inilah bekal agar anak percaya diri sehingga tidak menjadi sasaran untuk di-bully. Jika pun di-bully kawannya, ia mampu untuk mengatasinya. Bukankah bullying akhir-akhir ini marak di sekolah-sekolah? Tentu kita tak ingin anak kita menjadi korban atau pelaku bullying. Salah satu ikhtiarnya, jangan jadi orangtua yang suka mem-bully anak sendiri. Terkadang secara tak langsung kita telah mem-bully anak sendiri. Suka marah dan meneriaki anak sambil berharap segalanya cepat berubah. Padahal mendidik anak adalah proses yang sangat panjang. Salah satu hasil dari amarah dan teriakan adalah anak akan meniru menjadi suka marah dan meneriaki orang lain. Bisa juga jadi pelaku bullying. Berhati-hatilah, kita para orang tua terutama di masa anak usia 0-6 tahun.

Ketika anak sudah memasuki usia sekolah dasar, lingkungan sosialisasinya bisa lebih meluas. Sangat mungkin lingkungannya tak steril sebelumnya. Di sinilah saatnya untuk mengajarkan anak, mana yang baik dan mana yang buruk. Jika ada temannya yang tidak baik, maka anak diarahkan agar tidak terbawa arus kalau perlu dakwahi temannya. Inilah momen uji imunitas diri anak. Tapi sebaiknya lingkungan tidak terlalu buruk. Jika amat buruk, tarik anak dari lingkungan tersebut. Namanya juga masih uji imunitas. Jadi jangan yang parah buruknya.  Pada fase ini, orang tua hanya perlu menjadi sahabat terbaik anak sehingga jika ada apa-apa, anak mempunyai tempat  dan sandaran terbaik untuk mengadu.

Ketika anak sudah balig (sekitar usia 14 tahun) inilah saat anak berhadapan dengan lingkungan yang nyata. Anak uji nyali sekaligus didorong untuk menjadi problem solver bukan malah trouble maker. Anak dilatih untuk menjadi penyeru kebaikan. Tidak hanya sholih tapi juga mushlih (penyeru kebaikan). Anak-anak yang sudah mantap melalui fase-fase di atas —dengan peran orang tua tentunya— maka bisa memininalisir kekhawatiran orang tua atas kondisi realitas masyarakat yang sangat tidak ramah anak.

Di Hari Anak Nasional, anak-anak Indonesia merayakannya dengan bergembira. Melihat atraksi sulap presiden, bermain ular tangga dengan presiden, ada juga yang dapat sepeda dari presiden. Tapi lihatlah bagaimana anak-anak di Palestina. Hari ini kiblat pertama kaum muslin dihinakan.  Palestina dan Israel kembali berseteru. Seringkali anak-anak Palestina berjuang menghadapi serangan peluru dan bom dari Israel. Tubuh anak-anak Palestina terluka, bercerai berai dan bersimbah darah.

Anak-anak di Palestina dan di Indonesia sama-sama terluka. Anak-anak Indonesia ”terluka” karena serangan narkoba, seks bebas, candu game online. Anak-anak di Indonesia maupun Palestina sama-sama dalam kondisi yang memprihatinkan. Kita saling mendoakan, semoga kuat dan tetap semangat mengubah keadaan anak-anak menjadi lebih baik.

Terakhir, pesan untuk seluruh anak-anak di Indonesia dan di belahan dunia manapun. Bahwa kesuksesan itu bukan dari materi. Saya sedih ketika mendengar jawaban salah satu murid yang ditunjuk oleh Pak Presiden bahwa dia ingin menjadi youtuber karena kalau subsrciber-nya banyak akan dapat uang banyak. Anak-anakku, sesungguhnya kesuksesan itu tolok ukurnya bukan materi tapi manakala kita senantiasa berada dalam lingkaran keridaan Allah. Oleh karena itu, penting bagi orangtua dan sekolah untuk memberikan pendidikan karakter yang berbasis akidah Islam. Yakni menjadikan Islam sebagai landasan/pijakan dalam berpikir sekaligus penuntun/pemimpin dalam berpikir. Anak-anakku, harus selalu kalian ingat bahwa landasan aktivitas kita adalah terikat dengan hukum syara’. Dengan landasan ini semoga kalian tumbuh menjadi generasi yang produktif, cemerlang, dan berprestasi di mata Allah.***


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU