Opini
Machasin Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Riaud

Perjalanan Kursi Pemimpin

29 Juli 2017 - 12.00 WIB

RIAUPOS.CO - Jika kepemimpinan memiliki pasar, maka harganya akan berfluktuasi, naik turun seiring dengan berubahnya pasar dan perilaku konsumen. Perusahaan dituntut untuk beradaptasi sehingga keterampilan pemimpin akan berubah sesuai dengan tuntutan zaman. Setiap pemimpin memiliki keinginan yang besar terhadap apa yang dilakukannya. Ciri seorang pemimpin yang baik akan tampak dari kematangan pribadi, buah karyanya, ambisinya, serta integritas antara kata dan perbuatannya. Semua keberhasilan dan kegagalan suatu organisasi tergantung pada kepemimpinan, bahkan tidak jarang pimpinan harus diganti posisinya jika terjadi salah urus atau mismanajemen.

Tanggung Jawab Besar
Sebagai seorang pemimpin, Anda akan bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi dalam organisasi Anda, bahwa semua hal dalam area kepemimpinannya tetap menjadi tanggung jawab pemimpin. Idealnya seorang pemimpin yang melakukan kesalahan harus membersihkan nama baiknya dan mengakui kesalahan. Masyarakat pada umumnya akan memaafkan kesalahan pemimpin, tapi takkan menghargai pemimpin yang tidak bersedia menerima tanggung jawab atas tindakan mereka. Pemimpin harus berani bernegosiasi ketika masyarakat kurang puas (komplain).  

Misi utama seorang pemimpin adalah mengelola dan menggerakkan orang-orang menuju ke satu arah, yaitu mencapai misi dan tujuan organisasi. Dengan mengetahui dan memahami berbagai hal dari anak buahnya, si pemimpin kemudian menempatkan dirinya sebagai teman. Empati menjadi kualitas kepemimpinan yang paling utama.  Kekuatan utama seorang leader adalah jika ia bisa menjadi teman bagi para followers-nya. Sebagai seorang leader pandanglah bagaimana  Anda menahkhodai karyawannya, dan Anda harus siap dengan sikap negatif dari karyawan. Seperti; suka mengeluh, banyak menuntut, egois, bekerja seenaknya, kepedulian kurang, kerja serba tanggung, sering menunda, manipulatif malas, disiplin buruk, stamina kerja rendah, pengabdian minim, sense of belonging tipis, gairah kerja kurang, terjebak rutinitas, menolak perubahan, kurang kreatif, bekerja asal-asalan, cepat merasa puas, jiwa melayani rendah, merasa hebat, arogan dan masih banyak sifat negatif lainnya sebagai penyakit kronis dalam organisasi. Haruskah Anda menyingkirkan orang-orang yang mengeluh? Atau sebaliknya mendekati dengan gaya memotivasi mereka melalui program pemberdayaan.

Karena itu sebagai seorang pemimpin sejati,  Janganlah Anda terburu-buru menyebut dirinya berhasil dalam memimpin, orang lainlah yang akan menilai kinerja Anda. Pelajari apa yang diinginkan karyawan dan apa yang mampu Anda sediakan untuk karyawan Anda. Perilaku seorang pemimpin cenderung mengarah pada dua hal. Pertama, disebut konsiderasi, yaitu kecenderungan seorang pemimpin yang menggambarkan hubungan akrab dengan bawahan. Contohnya membela bawahan,  memberi masukan kepada bawahan. Kedua, disebut struktur inisiasi, yaitu kecenderungan seorang pemimpin yang memberikan batasan kepada bawahan. Contohnya; bawahan mendapat instruksi dalam pelaksanaan tugas, kapan, bagaimana pekerjaan dilakukan, dan hasil yang akan dicapai. Dengan faktor itu seorang pemimpin akan dapat mempengaruhi perilaku orang lain baik secara perorangan maupun kelompok sehingga orang tersebut bersedia untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh pemimpin.

Jika diumpamakan seperti manusia yang terdiri atas badan dan jiwa, posisi atau jabatan formal seorang pemimpin adalah badan, sedangkan roh kepemimpinan adalah jiwa. Posisi seorang pemimpin tidak akan memiliki arti dan makna apa-apa tanpa ruh kepemimpinan. Kenneth Blanchard, berpendapat bahwa kepemimpinan dimulai dari dalam hati dan keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Tanpa perubahan dari dalam, tanpa kedamaian diri, tanpa kerendahan hati, tanpa adanya integritas yang kokoh, daya tahan menghadapi kesulitan dan tantangan, dan visi serta misi yang jelas, seseorang tidak akan pernah menjadi pemimpin sejati. Ketenangan dalam menghadapi masalah merupakan ciri seorang pemimpin yang berpikiran matang dan dewasa. Keadilan harus dimulai dari diri sendiri, karena jika sudah mampu bersikap adil terhadap diri sendiri maka akan lebih mudah adil terhadap orang lain. Pemimpin  yang   berhasil memimpin dengan baik pasti akan di­hor­mati. Ia tak hanya bekerja  dengan  baik saja, tetapi  sebagai pemimpin dituntut menjadi suri teladan segenap bawahan. Sehingga pemimpin itu menjadi penggerak motivasi  yang efektif bagi seluruh karyawan. Karena itulah gaya kepemimpinan  yang tepat perlu dimiliki seorang pemimpin.

Merasakan Kursi Empuk
Menurut Takamori, salah seorang negarawan terkemuka Jepang pada abad ke-19, pemimpin yang kuat tak bisa hanya bermodal kepintaran, karena jika itu yang menjadi dasar kepemimpinan, maka yang didapat hanyalah ”kekuasaan yang beralaskan uang”. Selanjutnya Kazuo Inamori, salah satu guru manajemen terkemuka abad ini menunjukkan, kunci keberhasilan pemimpin sesungguhnya terletak pada attitude, karakter atau watak. Setelah watak, baru keberanian (courage) dan kemampuan (ability). Jika yang dicari adalah pemimpin yang berwatak (noble character), maka yang akan didapat lebih dari sekadar uang, yakni martabat. Gunakanlah kekuasaan sesuai porsinya dan jangan menjadikan kekuasaan sebagai satu-satunya cara untuk  memimpin. Jika seorang pemimpin memiliki komitmen tinggi, maka akan sangat efektif karena bisa menjadi contoh bagi bawahannya.

Perjalanan karir seseorang dalam sebuah jabatan, hampir sama dengan tag line batas antar-kota yang selalu Anda lihat ketika Anda melakukan perjalanan ke luar kota. Setiap memasuki kabupaten/kota/provinsi  lain selalu ada kata-kata “selamat datang dan selamat jalan”. Bagi seorang pemimpin yang haus jabatan kata tersebut menjadi kata yang menyakitkan, karena sejatinya orang yang sedang menduduki jabatan tersebut tidak mau pergi, kursi itu empuk untuk menunjang indek kebahagiaan hidupnya. Mengutip pendapat P Bambang WS, bahwa perjalanan kursi jabatan pimpinan adalah siklus hidup para pemimpin. Mau tidak mau harus dihadapi, satu datang dan satu pergi, dengan harapan yang menggantikannya membawa inspirasi baru, suasana baru, lebih energik, lebih muda,  lebih terdidik  dan lebih siap menghadapi tantangan di era perubahan yang sangat cepat.

Kini organisasi  menghadapi ritme perubahan yang tidak dapat diprediksi dalam era ekonomi global yang tidak pemaaf. Namun dalam kenyataannya banyak pemimpin yang tidak mau atau tidak berani mengucapkan selamat jalan dan terima kasih.  Dia baru mau pergi jika ada kursi selamat datang  yang baru dan  lebih terhormat, lebih besar, lebih enak dan lebih tinggi. Ironisnya lagi mereka bukannya malu melainkan bangga ketika tidak ada satupun kader yang ia rasa bisa menggantikannya. Inilah sebenarnya sebagai tanda-tanda kegagalan seseorang dalam memimpin, karena tidak mampu melakukan program regenerasi. Seolah-olah berat menyerahkan tongkat estafet kepada pemimpin baru. Padahal manifestasi dari ucapan selamat jalan dan selamat datang merupakan bagian dari penyerahan tongkat estafet kaderisasi sebagai salah satu pilar kuat untuk menghasilkan organisasi yang kuat dan sehat.

Pemimpin yang terlatih terlihat dari keterampilan, disiplin, dan pengetahuan yang ada padanya bukan hanya untuk mengubah pendapatan tim/karyawannya saja. Akan tetapi bagaimana supaya budaya bersemangat dan sukses dalam pribadi tiap-tiap karyawan yang dipimpinnya dapat bertumbuh dan berkembang terus. Para pemimpin yang terlatih memiliki visi yang jelas, keyakinan, dan nilai-nilai  yang membentang di hadapan mereka untuk modal mereka memimpin dan mempengaruhi anggotanya. Gunakanlah kekuasaan sesuai porsinya dan jangan menjadikan kekuasaan sebagai satu-satunya cara untuk memimpin. Semoga Anda sukses dalam memimpin dan sukses dalam suksesi kepemimpinan.***


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook