Opini

Penguatan Karakter dalam Keluarga

29 Juli 2017 - 12.01 WIB

RIAUPOS.CO - Keluarga memiliki peranan luar biasa dalam membentuk dan memperkuat karakter generasi bangsa. Ada hakikat visi dan misi yang semestinya diemban keluarga secara komprehensif. Dari visi dan misi inilah, keluarga akan memberikan dampak tertentu bagi suatu keluarga. Kemuliaan dan ketidakmuliaan juga bermuara dari dalam keluarga. Karena itu, keluarga juga tidak terlepas dari manajemen pendidikan, baik secara langsung maupun tidak. Manajemen dalam keluarga inilah nantinya akan memberikan kesan positif atau negatif terhadap karakter anggota keluarga. Karakter ini pula yang akan menggelembung sebagai karakter bangsa.

Kasus-kasus negatif yang terjadi belakangan ini tentu saja tidak terlepas dari pola pendidikan dalam keluarga. Persoalan perundungan (bullying) masih terus terjadi merupakan suatu bukti. Persoalan yang makin mengkhawatirkan ini terjadi terhadap siswa dari jenjang pendidikan SD hingga perguruan tinggi. Kasus perundungan yang heboh selama ini berkemungkinan hanya kasus yang tertangkap. Bukan tidak mungkin kasus ini terus membengkak sebab tidak tertangani dengan serius di lembaga pendidikan. Kuantitas dan kualitas kasus perundungan ibarat bola salju jika kita kaitkan pula dengan kejadian di luar jam sekolah/kuliah. Tanpa membuang peranan pendidik dan masyarakat, keluarga merupakan wadah paling ampuh untuk membendung perilaku destruktif di kalangan generasi muda.

Dalam teori pendidikan, keluarga merupakan wadah pendidikan pertama dan utama. Teori ini memang tak terbantahkan. Ini membuktikan bahwa keluarga berada pada posisi terpenting dalam membentuk kualitas sumber daya manusia. Keluarga menjadi dasar. Keluarga laksana fondasi rumah. Keluarga bagaikan akar pohon. Keluarga juga seperti kaki kita. Dasar kekuatan pembangunan karakter (character building) adalah keluarga. Bermula dari keluargalah, aktivitas lebih berkualitas atau tidak berkualitas akan terbentuk di dalam bersosialisasi, berbangsa, dan bernegara. Kalau dianalogikan ke teori psikologi pendidikan, keluarga seumpama pena pertama yang akan kita gunakan untuk mencoret kertas putih. Pena pertama inilah yang akan menentukan apakah coretan kita itu benar-benar bermutu atau sebaliknya. Jika kita rujuk, keluarga.

Hasil pendidikan di sekolah pun memiliki kaitan sangat erat berdasarkan hasil penelitian di berbagai negara tentang konsep sekolah efektif. Pertama, di Amerika Serikat, Coleman (1966) melaporkan “Siswa yang berprestasi tinggi di sekolah, melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, dan hidupnya berhasil adalah siswa yang berasal dari keluarga yang sosial ekonominya tinggi. Sedangkan siswa yang prestasinya rendah, tidak mampu belajar di sekolah, drop out, tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, tidak mempunyai motivasi belajar adalah siswa yang berasal dari keluarga yang sosial ekonominya rendah.

Kedua, di Inggris, Robbins  (1962) melaporkan bahwa hampir semua siswa yang melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi berasal dari keluarga yang ayahnya mempunyai profesi yang tinggi. Hanya 2 persen siswa yang melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi berasal dari keluarga yang ayahnya tidak mempunyai kecakapan atau pendidikan yang memadai. Ketiga, Pusat Penelitian Pengukuran dan Evaluasi NSW, (1960-1970) Australia, menyimpulkan bahwa pendapat atau pandangan orang tua tentang nilai-nilai  pendidikan sangat berpengaruh terhadap prestasi pembelajaran anak di sekolah. Berdasarkan pendapat atau pandangan orang tua tersebut, dapat diprediksi prestasi siswa di sekolah, kapan siswa dikeluarkan dari sekolah (drop out), dan jenis pekerjaan apa yang akan ditekuninya.

Penguatan fungsi keluarga ini diharapkan akan memperkuat pendidikan karakter dari dasarnya. Fungsi keluarga secara garis besar, menurut Khairuddin (1997: 48-49), yaitu pertama, fungsi biologik. Keluarga merupakan tempat lahirnya anak-anak, fungsi ini merupakan dasar kelangsungan hidup masyarakat. Namun fungsi ini juga mengalami perubahan karena keluarga sekarang cenderung pada jumlah anak yang sedikit. Kedua, fungsi afeksi. Dalam keluarga terjadi hubungan sosial yang penuh dengan kemesraan dan afeksi. Hubungan afeksi ini tumbuh sebagai akibat hubungan cinta kasih yang menjadi dasar  perkawinan. Dari hubungan cinta kasih ini lahirlah hubungan persaudaraan, persahabatan, kebiasaan, identifikasi, persamaan pandangan mengenai nilai-nilai. Dasar cinta kasih dan hubungan afeksi ini merupakan faktor penting bagi perkembangan pribadi anak. Dalam masyarakat yang makin impersonal, sekuler, dan asing, pribadi sangat memerlukan hubungan afeksi seperti yang terdapat dalam keluarga, suasana afeksi itu tidak terdapat dalam institusi sosial yang lain.

 Ketiga, fungsi sosialisasi. Fungsi sosialisasi menunjukkan peranan keluarga dalam kepribadian anak. Melalui interaksi sosial dalam keluarga, anak mempelajari pola-pola tingkah laku, sikap, keyakinan, cita-cita dan nilai-nilai dalam masyarakat dalam rangka perkembangan kepribadiannya. Selain ketiga fungsi utama ini, keluarga bisa juga berfungsi sebagai pelipur lara, didaktis, religius, pengawasan, komunikatif, dan ekonomis.

Kejadian-kejadian negatif selama ini membuktikan bahwa fungsi keluarga tidak berjalan maksimal. Peran unsur-unsur keluarga kurang/tidak menjalankan fungsinya dalam membentuk karakter anggotanya. Persoalan ini tentu saja dikarenakan beberapa faktor seperti kurangnya perhatian, sibuk dengan urusan pekerjaan, dan sebagainya. Akibatnya, berbagai kesenjangan bisa saja terjadi terhadap kepribadian beberapa anggota keluarga. Kesenjangan ini yang berakibat pada melemahnya karakter bangsa. Karena itu, penting sekali unsur-unsur di dalam keluarga menguatkan kembali fungsi keluarga. Kekuatan fungsi keluarga secara maksimal akan menguatkan karakter bangsa. Sangat keliru jika  hanya menyerahkan penguatan karakter di lembaga pendidikan.***


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook