Depan >> Opini >> Opini >>

Wira B Sugiarto Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan STAIN Bengkalis

Menimbang Kembali Ospek

2 Agustus 2017 - 12.20 WIB > Dibaca 610 kali | Komentar
 

Kalau hidup hendak jadi orang, menuntut ilmu janganlah kurang, kalau hidup hendak terhormat, carilah ilmu jauh dan dekat.
(Tenas Effendy)


RIAUPOS.CO - Keberadaan Perguruan Tinggi (PT) merupakan lembaga pendidikan formal yang mengemban amanah untuk menciptakan masyarakat akademik yang cukup ilmu. Kemudian mahasiswa adalah sebutan bagi orang yang sedang menempuh pendidikan tinggi di sebuah perguruan tinggi yang terdiri atas sekolah tinggi, akademi, dan yang paling umum adalah universitas. Sepanjang sejarah, mahasiswa di berbagai negara mengambil peran penting dalam sejarah suatu negara, untuk konteks kekinian peran mahasiswa bukan hanya sekadar menjadi agen perubahan sosial. Namun dari berbagai pemikiran tentang peran mahasiswa ada peran lain yang juga harus dimainkan sebagai proses dalam membetuk sarjana yang tanggunh di antaranya, pertama, agent of change (generasi perubahan), mahasiswa sebagai agen dari suatu perubahan. Artinya jika ada sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitar dan itu salah, mahasiswa dituntut untuk mengubahnya sesuai dengan harapan sesungguhnya. Dengan harapan bahwa suatu hari mahasiswa dapat menggunakan disiplin ilmunya dalam membantu pembangunan Indonesia untuk menjadi lebih baik ke depannya.

Kedua, social control (generasi pengontrol). Sebagai generasi pengontrol seorang mahasiswa diharapkan mampu mengendalikan keadaan sosial yang ada di lingkungan sekitar. Jadi, selain pintar dalam bidang akademis, mahasiswa juga harus pintar dalam bersosialisasi dan memiliki kepekaan dengan lingkungan. Mahasiswa diupayakan agar mampu mengkritik, memberi saran dan memberi solusi jika keadaan sosial bangsa sudah tidak sesuai dengan cita-cita dan tujuan bangsa, memiliki kepekaan, kepedulian, dan kontribusi nyata terhadap masyarakat sekitar tentang kondisi yang teraktual. Tugas inilah yang  dapat menjadikan dirinya sebagai harapan bangsa, yaitu menjadi orang yang senantiasa mencarikan solusi berbagai problem yang sedang menyelimuti mereka.

Ketiga, iron stock (generasi penerus). Sebagai tulang punggung bangsa di masa depan, mahasiswa diharapkan menjadi manusia-manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak mulia yang nantinya dapat menggantikan generasi-generasi sebelumnya di pemerintahan kelak. Intinya mahasiswa itu merupakan aset, cadangan, harapan bangsa untuk masa depan bangsa Indonesia . Tak dapat dipungkiri bahwa seluruh organisasi yang ada akan bersifat mengalir, yaitu ditandai dengan pergantian kekuasaan dari golongan tua ke golongan muda, oleh karena itu kaderisasi harus dilakukan terus-menerus. Dunia kampus dan kemahasiswaannya merupakan momentum kaderisasi yang sangat sayang bila tidak dimanfaatkan bagi mereka yang memiliki kesempatan.

Keempat, moral force (gerakan moral). Mahasiswa sebagai penjaga stabilitas lingkungan masyarakat, diwajibkan untuk menjaga moral-moral yang ada. Bila di lingkungan sekitar terjadi hal-hal yang menyimpang dari norma yang ada, maka mahasiswa dituntut untuk mengubah dan meluruskan kembali sesuai dengan apa yang diharapkan. Mahasiswa sendiri pun harus punya moral yang baik agar bisa menjadi contoh bagi masyarakat dan juga harus bisa mengubah ke arah yang lebih baik.

PT mengembangkan budaya akademik yang berpangkal pada Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Nilai-nilai inilah yang akhirnya membedakan masyarakat akademik di kampus dengan masyarakat  akademik pada pendidikan menengah dan tingkat di bawahnya. Kekhasan perguruan tinggi   dibanding dengan tingkat satuan pendidikan sebelumnya, mencakup banyak aspek di antaranya aspek sosial, aspek pembelajaran, aspek kompetensi dan aspek kepribadian. Aspek-aspek tersebut menjadi inspirasi terwujudnya sebuah masyarakat akademik dengan nalar keilmuan yang lebih dewasa lahir di perguruan tinggi.

Mempertimbangkan kekhasan masyarakat  akademik di perguruan tinggi, kiranya diperlukan suatu proses adaptasi bagi mahasiswa baru yang akan bergabung dalam masyarakat kampus. Gelombang besar masuknya mahasiswa baru dalam masyarakat, lazimnya terjadi pada masa penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi. Dan sebagaimana anggota baru dalam setiap masyarakat, kiranya diperlukan program yang membantu kelancaran sosialisasi mereka ke dalam masyarakat kampus yang telah ada sebelumnya. Hal ini diperlukan, mengingat perguruan tinggi selain memuat budaya akademik, juga memiliki sistem baku yang menjalankan segala bentuk pelayanan di perguruan tinggi. Dengan demikian para mahasiswa baru memerlukan ketuntasan bersosialisasi, baik dari segi budaya akademik maupun pengenalan sistem lainnya di perguruan tinggi.

Instrumen pertama yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi dalam rangka membantu proses sosialisasi mahasiswa baru ke dalam budaya akademik dan sistem yang berlaku di perguruan tinggi adalah pengenalan budaya akademik dan kemahasiswaan atau bahasa lain, Masa Orientasi Siswa (MOS), Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek), Orientasi Pengenalan Akademik dan Kemahasiwaan  (OPAK) dan atau lainnya, yang bertujuan mengintegrasikan dan menginterkoneksikan banyak hal agar apresiatif terhadap kondisi masyarakat dengan menjunjung tinggi norma-norma yang berlaku sebagai landasan universal bagi peradaban manusia.

Pengenalan budaya akademik dan kemahasiswaan dalam bentuk MOS, Ospek, OPAK dan atau lainnya di lingkungan  perguruan tinggi  merupakan langkah awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal sejarah kampus, lembaga-lembaga kampus, jenis-jenis kegiatan akademik, sistem kurikulum, model pembelajaran, pimpinan perguruan tinggi dan lain-lainnya. Selain itu, diharapkan pengenalan budaya akademik dan kemahasiswaan bisa menjadi  wahana  awal antar-sesama mahasiswa baru untuk saling mengenal, menjalin komunikasi dan mempererat silaturahmi, di samping fungsi utamanya sebagai orientasi penyadaran  mahasiswa  sebagai  insan akademik yang memiliki tanggung jawab sosial dan akademik sebagaimana tertuang dalam tri dharma perguruan tinggi.

Oleh karena itu, kesuksesan pengenalan budaya akademik dan kemahasiswaan menjadi gerbang yang mengantarkan mahasiswa baru ke dalam proses sosialisasi dan orientasi akademik yang lebih luas, guna menjamin ketuntasan proses sosialisasi dan orientasi akademik mahasiswa.

Partisipasi dari beberapa unsur diharapkan, agar pengenalan budaya akademik dan kemahasiswaan mampu memperkenalkan nilai-nilai demokrasi dan budaya yang telah berkembang subur di lingkungan perguruan tinggi. Dengan demikian perguruan tinggi melalui panitia penyelenggara tentunya untuk saat ini banyak hal yang perlu dipahami dan menjadi isu penting sebagai pedoman dalam mengisi kegiatan pengenalan budaya akademik dan kemahasiswaan, di antaranya, di tengah ruang publik yang semakin sensitif, penuh kecurigaan, dan saling lempar ujaran negatif, sehingga melalui pengenalan budaya akademik dan kemahasiswaan dapat membangun komitmen bersama dan benar-benar menjadi saksi berkumpulnya generasi penerus yang tangguh.

Harapan lain, kampus yang selama ini terkesan hanya memfokuskan diri pada upaya memproduksi pengetahuan umum tanpa disertai produksi keterampilan sosial dan membangun empati terhadap sesama segera menemukan jati dirinya, beberapa pengamatan berkaitan empati (sosial) dibentuk oleh nilai-nilai diri. Miskinnya empati atau kosongnya nilai-nilai diri yang baik dan mulia itulah yang melahirkan para pelaku menyimpang. Sentuhan terhadap empati mahasiswa dalam pengenalan budaya akademik dan kemahasiswaan harus menjadi fokus juga. Kemudian isu lain berkaitan dengan toleransi, ada banyak cara menyemai jiwa toleransi di kalangan mahasiswa. Salah satu di antaranya dengan membawa mahasiswa ke tataran realitas sosial tidak hanya mencekokinya dengan ceramah di ruang kelas.

Eksistensi kampus diharapkan tidak disusupi oleh paham-paham yang tidak benar ataupun kepentingan politik partai. Mahasiswa selalu menjadi sasaran penyebaran paham radikal karena banyak dari mereka belum menemukan jati diri dan apa yang sesungguhnya mereka inginkan. Mahasiswa baru sangat antusias dan terbuka menerima wawasan dan pengalaman baru tentunya melaui pengenalan budaya akademik dan kemahasiswaan mampu membentuk karakter mahasiswa yang tetap waspada dan enggan terpengaruh paham yang menyalahi norma, agama, dan hukum yang berlaku.

Karena tumbuhnya benih gerakan radikal di kampus menjadi sesuatu yang harus dihadapi gerakan kemahasiswaan yang moderat dan toleran. Ke depan mereka berupaya untuk bisa menjaga kampus dari pengaruh kelompok radikal dan eksklusif, gerakan radikal di sejumlah kampus menjadi kegelisahan yang dirasakan bersama oleh civitas akademika.

Sedangkan beberapa tahun terakhir pihak civitas akademika telah menemukan beberapa kelemahan banyak mahasiswa saat ini, yakni kurang disiplin, kurang fokus, tidak bisa menetapkan prioritas. Akibatnya, mereka tidak tahu apa yang akan dilakukan setelah selesai kuliah. Untuk ke depan hendaknya banyak konsep pemikiran dan penemuan mahasiswa bisa menjadi solusi mengatasi berbagai persoalan di masyarakat.

Melalui momentum pengenalan budaya akademik dan kemahasiswaan bisa memetakan potensi-potensi yang dimiliki mahasiswa, bisa saja ke depan diciptakan wadah sebagai inkubator kewirausahaan. Yang mana nantinya bisa saja hasil riset atau karya mahasiswa tersebut akan diinkubasi sambil diajukan hak patennya. Setelah diinkubasi, akan dilihat apakah hasilnya layak untuk diproduksi massal melalui mitra usaha, atau dikembangkan sendiri.

Perjuangan yang dilakukan mahasiswa perlu dikembalikan kepada porosnya, sehingga yang selama ini masyarakat sudah tidak menganggapnya suatu harapan pembaruan lagi, kembali punya harapan besar, dan perjuangan mahasiswa kini sudah kembali “satu nafas” bersama rakyat.***
KOMENTAR
Terbaru
3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 17:00 WIB

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 WIB

Sabhara Gagalkan Rencana Tawuran Sekelompok Pemuda

Kamis, 15 November 2018 - 16:00 WIB

Pembangunan RSUD Indrasari Terlambat

Kamis, 15 November 2018 - 15:45 WIB

BNNK Ringkus Pengedar Antar Provinsi

Kamis, 15 November 2018 - 15:30 WIB

Follow Us