Depan >> Opini >> Opini >>

Dr H Irvandi Gustari Direktur Utama PT Bank Riau Kepri

Mencermati Bitcoin sebagai Mata Uang Harapan di Masa Datang

3 Agustus 2017 - 11.20 WIB > Dibaca 497 kali | Komentar
 
Mencermati Bitcoin sebagai Mata Uang Harapan di Masa Datang

RIAUPOS.CO - Mata uang dolar AS sudah pada tahu semuanya dijadikan sebagai dasar dalam proses transaksi dagang internasional. Namun sejalan dengan waktu kelompok negara-negara Uni Eropa juga tidak ketinggalan setelah memperhatikan skala bisnis mereka dalam kelompok Uni Eropa, juga menjadikan mata uang Euro sebagai alternatif mata uang dunia setelah dolar AS.

Ternyata zaman terus berubah dan kenyataannya di zaman serba teknologi ini, dan juga zaman yang penuh dengan ragam aplikasi, muncul lagi jenis mata uang yang baru yaitu yang disebut dengan Bitcoin.

Ide tentang Bitcoin ini memang telah lama muncul yaitu sekitar 10 yang lalu, namun  ketika itu ide tersebut diremehkan banyak pihak dan kenyataannya saat ini menjadi kenyataan.

Teknologi memang selalu berkembang dan acap kali membuat gagap sebagian manusia. Termasuk ketika saat ini muncul mata uang virtual yang kerap disebut cryptocurrency yaitu gabungan dari cryptography (kode rahasia) dan currency (mata uang).

Dari banyak literatur disebutkan bahwa Cryptocurrency naik pamor seiring kepopuleran Bitcoin —salah satu jenis mata uang virtual dengan nilai tinggi. Sistem pembayaran Bitcoin, menurut Satoshi Nakamoto yang disebut-sebut sebagai penciptanya, didasarkan pada kriptografi atau kode rahasia.

Untuk diketahui bahwa Cryptocurrency memiliki teknologi yang berbeda dibanding alat pembayaran online seperti Paypal, kartu kredit, atau Western Union. Alasan munculnya Cryptocurrency itu sebenarnya tak lepas dari ketidakpercayaan pegiat teknologi terhadap sistem sentralisasi server yang diterapkan e-money.

Dalam metode dan sistem pada Cryptocurrency, tidak lagi diperlukan negara atau bank sentral sebagai perantara transkasi. Tugas tersebut didelegasikan kepada jaringan peer-to-peer yang berada dalam teknologi blockchain atau Bitcoin wallet. Makanya tidaklah mengherankan bilamana oleh banyak pihak menyebut bahwa Bitcoin disebut-sebut sebagai keajaiban baru di abad millenium ini . Menggunakan metode  sebuah kode program matematika perangkat sistem komputer, Bitcoin kemudian berhasil menjadikan diri sebagai mata uang universal di dunia.

Dari sisi lain bila ditinjau dari syarat untuk menjadi uang maka sebenarnya Bitcoin pun memenuhi syarat-syarat sebagai uang karena bersifat lama, langka, bisa dibagi, dan bisa dikenali. Adalah merupakan yang paling penting untuk menjadi sebuah mata uang universal pada sebuah komoditas agar memperoleh pengakuan sebagai uang adalah kepercayaan dan penerimaan masyarakat, kesemuanya itu dimiliki oleh Bitcoin. Tentunya sebagai mata uang, maka Bitcoin pun dapat digunakan sebagai alat tukar, alat satuan hitung, alat bayar, alat pembentukan dan pemindahan modal serta juga sebagai alat penimbun kekayaan.

Memang secara kasat mata, ada beberapa hal mendasar mengapa kita nantinya akan beralih kepada Bitcoin. Bila ditinjau dari segi  volume transaksi Bitcoin yang semakin bertambah tiap harinya, jumlah suplai Bitcoin yang terbatas, dan semakin berkurangnya jumlah Bitcoin yang dicetak oleh sistem tiap sepuluh menit harga Bitcoin dipastikan akan terus menanjak pada masa depan.

Dengan demikian Bitcoin, didesain untuk mengalami deflasi. Secara aturannya karena terbatas jumlah suplainya maka suplai Bitcoin berkurang setiap empat tahun sekali, yang dikenal dengan nama Bitcoin Halvings, di mana jumlah Bitcoin yang diproduksi oleh sistem setiap sepuluh menit akan berkurang hingga setengahnya. Bandingkan dengan mata uang dolar AS, di mana dolar AS tidak memiliki batasan dalam jumlah produksinya sehingga suplainya bisa bertambah dan akan muncul inflasi karena ada kebijakan dari pemerintah atau bank sentral.

Beberapa kelebihan lain dari Bitcoin adalah adanya kemudahan internet yang bisa diakses secara global dan banyaknya kasus keruntuhan mata uang kertas di berbagai negara (seperti Yunani, Cyprus, Venezuela, Argentina, Zimbabwe dan yang lainnya). Bahkan saat ini  sudah ada semakin banyak orang yang menginginkan adanya sistem ekonomi yang lebih baik yang tentunya tidak rentan dengan kegagalan-kegagalan yang menimpa mata uang kertas yang pernah terjadi pada banyak kasus.

Alasan lain Bitcoin semakin digemari oleh banyak negara, adanya peralihan kepada pembayaran ala digital dan jawabannya adalah Bitcoin. Sejumlah negara di seluruh dunia sudah mulai mengikuti aliran mainstream yang semakin menggunakan sistem pembayaran digital dan semakin menjauh dari mata uang kertas. Ya banyak kemudahan bila menggunakan Bitcoin dan bisa saja alasan memberlakukan Bitcoin antara lain untuk mengontrol semua transaksi ekonomi dan juga untuk mencatat dan mengaplikasikan pajak pada setiap transaksi di masa depan, namun para konsumen secara perlahan akan semakin menyadari bahwa Bitcoin bisa menjadi pilihan mata uang digital yang terbaik untuk mereka.

Saat ini secara pendistribusian Bitcoin memang belum maksimal penyebarannya dan saat ini memang masih mengembangkan berbagai macam aplikasi dan protokol baru untuk digunakan di masa depan, sehingga potensi yang belum muncul masih sangat besar. Saat ini harga Bitcoin bergerak hampir mencapai angka 670 dolar AS per Bitcoin, atau setidaknya di masa depan akan menembus angka itu. Padahal lima tahun lalu, harga Bitcoin hanya 0,30 dolar AS saja.

Secara hitungan nilai maka kita sama sama memahami bahwa Cadangan Mata Uang Global (The Global Reserve Currency) semakin kehilangan nilainya. Di sisi lain dolar AS semakin bertambah tingkat inflasinya, di mana jumlah suplainya meningkat dan nilainya semakin berkurang untuk  tiap tahunnya, permintaan dunia global terhadap mata uang ini semakin menyusut, dan harga Bitcoin akan semakin mahal untuk dibeli dengan harga dolar yang semakin melemah. Tidaklah heran bila Cina bahkan kini sudah mulai mencari cadangan mata uang global yang baru dan sudah mengintip kehebatan dari Bitcoin.

Saat ini dolar AS kehilangan nilai sebesar 5-10 persen per tahunnya, dan sebaliknya nilai Bitcoin terhadap dolar akan semakin meningkat. Dan ketika, bukan bila, dolar AS kehilangan statusnya sebagai “Global Reserve Currency”, sudah pasti banyak pihak nantinya akan membanjiri pasar Bitcoin untuk mendapatkan coin ini. Karena  Bitcoin tidak terikat oleh negara atau paradigma ekonomi apapun yang dijalankan oleh sistem perbankan, Bitcoin bisa berdiri tegap sambil melihat nilainya naik, seperti halnya emas dan perak, sementara sistem finansial yang kita kenal secara turun-temurun ini semakin menurun seiring berjalannya waktu. Ya sama-sama kita akui bahwa tidak dapat dipungkiri bahwa ”emas digital” ini sudah menghasilkan profit yang sangat besar kepada para pemilik Bitcoin dalam enam-tujuh tahun terakhir ini.

Alasan lain kita harus beralih kepada Bitcoin adalah Bitcoin akan membuat biaya transaksi keuangan menjadi jauh lebih murah. Dari  laporan dari McKinsey & Company menyatakan bahwa perbankan membayar 1,7 triliun dolar per tahun kepada perusahaan jasa pembayaran internasional. Di Eropa saja, menurut Bank Sentral Eropa, perbankan harus membayar 130 miliar dolar AS pertahun atau sebesar 1 persen dari produk domestik bruto negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa. Timbullah keringanan yang diberikan oleh Bitcoin yang akan memberi peran signifikan dalam mengurangi biaya tersebut, sehingga pada akhirnya pengguna jasa keuangan akan diuntungkan.

Ya tentunya sesuai hukum alam, ada kelebihan dan ada kelemahan, termasuk pula terkait dengan Bitcoin. Sejalan dan seiring berjalannya waktu, hal ini tentunya ada beberapa kelemahan mata uang yang ditemukan pada 2009 ini.

Mengutip dari artikel di Business Insider, Bitcoin menjadi sangat berguna bagi para pelaku kejahatan yang ingin menyembunyikan uang hasil kejahatannya. Karena jika mereka menyimpan uang di bank, uang hasil kejahatannya dapat dengan mudah terlacak. Lebih lanjut bahwa Bitcoin juga dapat disalahgunakan oleh orang-orang yang ingin menyembunyikan pendapatannya dari pemerintah, dan menghindari kewajiban membayar pajak. Lantas, pendapatan negara dari pajak itu akan hilang karena uang yang tidak terlacak. Yang paling perlu dicermati dan selalu menjadi kekuatiran para pihak yaitu tentunya tidak hanya pada tindakan kriminal semata, kekurangan Bitcoin paling mendasar juga terjadi karena bentuknya yang tidak ril.

Kendati bentuknya tidak ril, bukan berarti Bitcoin bebas dari pencurian. Dapat diambil satu contoh pencurian dialami oleh Sheep Marketplace, sebuah situs web ilegal jual beli obat terlarang, yang kehilangan 220 dolar AS dalam Bitcoin akibat ulah para peretas sistem komputer. Kelemahan lain adalah adanya  ketidakstabilan nilai mata uang Bitcoin jika dikonversi ke mata uang konvensional lainnya yang sangat fluktuatif. Hari ini, boleh jadi pemilik bisa sangat kaya dengan memiliki Bitcoin senilai 1.000 dolar AS. Namun, tentunya tidak yang tahu jika di kemudian hari nilai uang tersebut hanya tersisa 50 dolar AS.

Business Insider mencatat beberapa peristiwa kecil yang menyebabkan kerugian besar bagi para pemilik Bitcoin. Seorang pria pernah kehilangan sekitar 600 dolar AS karena melakukan reset pada ponsel pintarnya dan ternyata, ia tak sengaja secara permanen menghapus dompet digital Bitcoin. Sejumlah platform online memang sedang menguji pembayaran dengan mata uang Bitcoin, antara lain Wordpress, Reddit, Namecheap, Mega, dan Zynga. Namun, sejumlah negara malah melarang transaksi dengan Bitcoin. Contoh negara yang melarang adalah Pemerintah Cina di mana melarang semua lembaga keuangan menerima transaksi Bitcoin. Sementara Uni Eropa menilai Bitcoin lebih mudah dicuri. Dari sisi investasi juga buruk karena nilai mata uang hanya ditentukan berdasarkan permintaan pasar serta memiliki tingkat fluktuasi tinggi.

Ada yang perlu dijadikan  pertimbangan pula, yaitu hal yang menjadi kerugian dari pemakaian Bitcoin adalah karena bentuknya yang hanya berupa file, memungkinkan Bitcoin menjadi rusak/ hilang/ terhapus jika terjadi sesuatu dengan perangkat tempat kita menyimpan Bitcoin tersebut. Dan kelemahan terbesarnya adalah karena Bitcoin merupakan sebuah alat transaksi yang hadir karena ada kemauan dan kepercayaan dari para penggunanya. Hal ini memungkinkan suatu saat Bitcoin bisa benar-benar tidak bernilai karena sudah tidak ada yang mau menggunakan mata uang tersebut.

Dari penjelasan di atas, inilah sebenarnya merupakan keniscayaan dari suatu perkembangan teknologi. Pada sisi lain perkembangan tekonologi bisa memajukan dan meningkatkan peradaban manusia dalam kehidupannya, dan sebaliknya ketika teknologi itu semakin maju dan menjadi di luar kendali manusia pembuatnya, acapkali justru si teknologi itu menjadi pembasmi peradaban dari manusia itu sendiri.

Memang untuk beralih menggunakan mata uang Bitcoin adalah merupakan keharusan dari perkembangan pasar akibat kemajuan teknologi, namun yang paling penting lagi adalah  perkembangan teknologi itu jangan menjadikan manusia justru dikuasai oleh teknologi hasil buatan dari manusia itu sendiri.***
KOMENTAR
Terbaru
Terima 278 Formasi CPNS

Jumat, 21 September 2018 - 11:20 WIB

Tim Yustisi Amankan 58 Warga Tanpa Identitas

Jumat, 21 September 2018 - 10:52 WIB

UAS Jadi Perhatian Peneliti

Jumat, 21 September 2018 - 10:11 WIB

Curi Besi Alat Berat, Dua Sekawan Dibekuk Polisi

Jumat, 21 September 2018 - 10:05 WIB

Polisi Wajib Ikuti Tes Dapatkan SIM

Jumat, 21 September 2018 - 09:55 WIB

Follow Us