Depan >> Opini >> Opini >>

Nizar Manarul - Mahasiswa STMKG

Deforestasi dan Gangguan Iklim

7 Agustus 2017 - 10.31 WIB > Dibaca 5618 kali | Komentar
 
Deforestasi dan Gangguan Iklim

Indonesia menempati peringkat ke-14 negara-negara penghasil emisi karbon (gas rumah kaca/GRK) tertinggi di dunia berdasarkan sebuah laporan dari United Nations Development Programme (UNDP) di tahun 2008. Laporan tersebut juga menyatakan bahwa di sektor kehutanan, emisi karbon yang dilepaskan sebagai akibat deforestasi mencapai 80 persen, sedangkan 20 persen sisanya diakibatkan oleh degradasi hutan.
Iklim Terganggu


Atmosfer bumi terdiri dari beberapa jenis dan lapisan gas. Salah satu gas yang penting adalah karbondioksida.  Kegiatan manusia seperti manufaktur, transportasi dan penebangan hutan menyebabkan terjadinya pelepasan karbondioksida ke atmosfer. Peningkatan konsentrasi karbondioksida dan gas lainnya, yang dikenal sebagai gas rumah kaca, membuat atmosfer menahan lebih banyak panas dari matahari, sehingga meningkatkan suhu di bumi yang mengakibatkan pemanasan global. Kondisi ini juga dikenal sebagai efek gas rumah kaca. Karbon dioksida memiliki pengaruh lebih besar pada pemanasan global dibandingkan gas lainnya, karena proporsi yang lebih banyak di antara gas rumah kaca lainnya di atmosfer.

Temperatur di atmosfer akan sangat menentukan cuaca dan pola iklim.  Sehingga perubahan tingkat kandungan karbon dioksida di atmosfer dapat memicu perubahan yang tak terduga dalam sistem cuaca dan kemudian pada pola iklim bumi. Semakin tinggi suhu atmosfer maka akan memperparah kondisi cuaca.

Hutan yang ada di seluruh dunia saat ini diperkirakan menyimpan lebih dari satu triliun ton karbon. Jumlah ini dua kali jumlah karbon yang ada di atmosfer atau setara dengan berat sekitar 2,000 kali berat total dari 7 miliar manusia yang hidup di dunia, dengan perkiraan berat rata-rata 70 kg per orang. Ketika hutan mengalami peningkatan kepadatan maupun luas, hutan akan berperan sebagai “penyerap karbon”, karena mereka mengambil karbon yang ada di atmosfer dan menyimpannya. Sebaliknya, hutan juga dapat menjadi “sumber emisi karbon” dan penyebab perubahan iklim, jika semua hutan ditebangi, diubah peruntukannya dan hilang. Kita dapat membayangkan berapa besar karbon dioksida yang akan dilepaskan kembali ke atmosfer dalam kondisi yang demikian. Hal ini akan menyebabkan perubahan yang besar pada cuaca dan sistem iklim. Mempertahankan hutan secara utuh akan membantu mengurangi emisi karbon dioksida di atmosfer dan juga memperlambat efek perubahan iklim.

Deforestasi di berbagai belahan dunia memberikan kontribusi 12-17 persen emisi karbon dioksida secara global setiap tahun. Sehingga, jika kita kehilangan hutan, kita tidak hanya akan kehilangan fungsi penyerapan hutan, tetapi juga karbon yang telah disimpan di dalam tanah dan tumbuhan dilepaskan ke atmosfer lagi, kemudian selanjutnya memperparah perubahan iklim. Hutan lebih dirasakan fungsinya dalam mengatasi perubahan iklim dari pada sekadar menyerap gas rumah kaca yang ada di atmosfer. Hutan berperan menjaga tutupan awan, memantulkan sinar matahari kembali keluar dari atmosfer, mendorong transformasi dari air menjadi uap dan meningkatkan kelembaban di atmosfer, yang akan mendinginkan udara. Lebih dari 1,6 miliar orang di seluruh dunia mata pencahariannya bergantung pada sumber daya hutan, yang akan menjadi sumber teramat penting bagi pemenuhan gizi dan pendapatan pada saat terjadi tekanan iklim dan kegagalan panen.

Iklim juga dipengaruhi oleh keadaan cuaca setiap harinya. Hal ini menjadi perhatian penting karena menjurus ke dampak yang cukup panjang. Hutan adalah salah satu penyeimbang ekosistem yang ada saat ini. Alih fungsi kawasan hutan di Indonesia menyebabkan gangguan sistem iklim yang ada di dalamnya dapat bermasalah. Persoalan utamanya yaitu semakin hari semakin banyaknya keperluan akan lahan sehingga menyebabkan penambahan kawasan untuk menjadi kawasan penduduk. Potret ini menjadi pemicu penebangan liar secara massal. Kebijakan alih fungsi kawasan hutan menjadi salah satu faktor pendorong deforestasi di Indoneisa, terutama jenis alih fungsi yang mengizinkan kegiatan pembukaan hutan untuk budidaya tanaman dan pembangunan fisik. Pertambahan jumah dan aktivitas penduduk berlangsung dengan cepat sehingga lahan menjadi sumber daya yang langka. Seiring waktu, lahan menjadi semakin langka. Ketersediaan lahan juga semakin berkurang dengan meningkatnya jumlah dan luas areal konsensi untuk kegiatan-kegiatan ekonomi yang berskala besar.

Selain itu peningkatan suhu dan perubahan pola hujan, seperti kemarau panjang, dapat menyebabkan peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan serta mengancam ketersediaan air. Perubahan lain yang terjadi adalah berkurangnya biodiversitas akibat curah hujan akibat iklim ekstrem.

Masalah kehutanan semakin kompleks dengan kondisi minimnya kapasitas kelembagaan di tingkat tapak, termasuk masih lemahnya hubungan pemerintah pusat-daerah. Berbagai masalah kehutanan tidak dapat segera dipecahkan, karena pemerintah tidak memberikan prioritas melalui upaya-upaya penyelesaian akar masalah di sektor kehutanan.***

Nizar Manarul, Mahasiswa Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika  (STMKG)
KOMENTAR
Terbaru
Prabowo Tunjuk Neno Warisman Jadi Wakil Ketua TKN

Kamis, 20 September 2018 - 01:22 WIB

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:21 WIB

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 WIB

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 WIB

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 WIB

Follow Us