Depan >> Opini >> Opini >>

Ilyas Husti, Direktur Program Pascasrajana UIN Suska Riau dan Ketua MUI Pekanbaru

Bercemin di HUT Provinsi Riau

8 Agustus 2017 - 11.50 WIB > Dibaca 283 kali | Komentar
 
Bercemin di HUT Provinsi Riau

Besok, Rabu (9/8), Provinsi Riau genap 60 tahun. Usia yang melebihi setengah abad, bagi suatu daulah (pemerintahan), masa ini  seharusnya sudah menunjukkan hasil. Bukan lagi masa perintisan, atau pemancangan dasar-dasar pembangunan, tetapi seharusnya di masa tahapan pembangunan yang lebih lanjut. Jika menggunakan teori pembangunan Rostow, bahwa tahapan I yakni prekondisi tinggal landas, tahap II tinggal landas, dan tahap III kemandirian ekonomi, namun kenyataannya, sampai hari ini (60 tahun), kita masih di tahap prekondisi. Ibaratpesawat terbang, masih tahap akan berangkat, belum lagi take of, apalagi landing (sudah sampai di tujuan pembangunan itu sendiri), masih jauh dari harapan.

Lalu apa masalahnya? Mengapa kita masih tertinggal dari wilayah lain? Agaknya masalah kita soal prioritas, yakni perlu memilah-milah mana yang utama dan mana yang kemudian (tambahan). Kita selalu terjebak di dalam kepanikan atau kenyamanan, yang membuat kita tidak bisa berpikir fokus. Kita sering terjebak di suasana, karena emosi (tensi) politik, baik itu tensi politik nasional maupun politik lokal, sehingga  larut dalam ritme pusat atau orang lain, dan berdampak pada gagal pahamnya tentang arti pentingnya pembangunan bagi daerah kita sendiri.

Kita saksikan sendiri, bagaimana jalur kereta api Muaro-Pekanbaru (menghubungkan jalur kereta api se-Pulau Sumatera), yang petanya sudah ada di masa penjajahan Belanda, bahkan sudah mulai dibangun ­—walau masih alakadarnya oleh penjajah Jepang—, setelah itu, tidak kita proritaskan dalam kelanjutan pembangunannya. Mengapa kita abai selama berpuluh-puluh tahun, tentang jaringan kereta api ini? Tidak lain, kita belum melakukan prioritas, kita terlena dalam sistem kekuasaan pusat, sehingga anggota DPR RI utusan dari daerah pun tak mampu menyuarakannya (memperjuangkannya) selama bertahun-tahun. Nasib baik, muncul semangat membuat jaringan kereta api se-Pulau Sumatera di masa Presiden Jokowi, kalau tidak, entah kapan dimulainya lagi.

Jalur kereta api di Provinsi Sumatera Utara yang menghubungkan Rantauprapat, Kisaran, Tebingtingi, Siantar, Medan dan bermuara di Pelabuhan Belawan, bahkan Tanjungpura menghubungkan ke Aceh, jalur ini dibangun 1890. Lebih satu abad yang lalu. Hasil pertanian, perkebunan (minyak sawit, karet, kakau dan hasil perkebunan lainnya), minyak bumi, diangkut menggunakan kereta api menuju pelabuhan Belawan. Itu lebih satu abad yang lalu. Sehingga perkebunan di Sumut berkembang pesat, dan jalan lintas pun tidak diganggu oleh truk-truk besar, dan jalan pun tidak bergelombang atau mengelupas. Demikian pentingnya infrastruktur itu bagi pembangunan daerah.

Demikian juga pembangunan di Sumatera Barat, mereka jauh lebih awal. Sudah, tidak usah membandingkan dengan provinsi tetangga, kembali ke kondisi wilayah kita, ketertinggalan ini harus kita kejar. Semua lini dari kita harus bersinergi memperjuangkannya. Jangan pandang perbedaan partai, pemikiran, dan wilayah, perbedaan suku, tetapi mari bersama-sama dengan beragam perbedaan itu, kita berjuang membangun Provinsi Riau ke depan yang lebih baik. Bahkan dengan perbedaan itu, ibarat pemain sepakbola, ada kiper, bek, wing kiri dan kanan, penyerang depan dan kapten, membuat serangan lebih cepat mencapai sasaran. Keragaman suku, pekerjaan, jabatan, partai politik dan lainnya, membuat kita lebih kaya dan memiliki kekuatan yang mumpuni. Ini realitasnya, Riau memiliki kekuatan yang beragam. Tidak bisa dianggap sebelah mata. Rapatkan barisan di pusat. Bangunan kerja sama di daerah, dan kurangi konflik yang tidak produktif, bahkan bisa melemahkan pembangunan itu sendiri, sehingga pengesahan APBD pun sering berlarut-larut dan pembangunan selalu mepet di akhir tahun dengan kualitas apa adanya, yang penting tunai.

Di hari ulang tahun Provinsi Riau ini sebaiknya kita bercermin pada diri kita sendiri, apakah selama ini kita sudah memberikan yang terbaik untuk negeri ini, atau ego kita yang selalu kita kedepankan. Sehingga rakyat biasa hanya menyaksikan kemewahan pribadi yang dimiliki pejabat dan elite politik, menyaksikan pertikaian yang diperjuangkan atas nama partai, atau kepentingan kelompok atau kepentingan yang lebih rendah lainnya.

Namun apa pun kondisi kita saat ini, merupakan kondisi yang terbaik diberikan Allah pada negeri ini. Dengan menyukuri apa yang diberikan Allah pada kita, insya Allah nantinya akan ditambahkan nikmat yang lebih baik. Tetapi bila kita tidak mau menyukuri (kufur nikmat), ingat azab Allah itu sangat pedih. Demikian janji Allah, bukan janji manusia atau janji-janji menjelang Pilkada. Untuk itu, mari bersama-sama bersyukur di Hari Ulang Tahun Provinsi Riau ke-60 ini, apa pun posisi kita, baik sebagai petani, nelayan, petani kebun, wartawan, LSM, pegawai, guru, ustaz, atau profesi lainnya. Semuanya memiliki peran yang tidak bisa dianggap remeh. Bahkan petugas kebersihan yang tangan dan kakinya kotor, jangan-jangan mereka lebih mulia dari mereka yang duduk di kantor dengan pakaian bersih, sebab mereka jelas-jelas bekerja membersihkan jalan, parit. Jangankan membersihkan parit, membuang ranting di jalan saja dalam ajaran Islam, mereka sudah mendapatkan pahala. Mari kita bersama-sama bekerja membangun Riau dengan niat ibadah.***


Ilyas Husti, Direktur Program Pascasrajana UIN Suska Riau dan Ketua MUI
Pekanbaru
KOMENTAR
Terbaru
Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 WIB

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 WIB

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 WIB

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 WIB

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 WIB

Follow Us