HUT Riau dan Agenda Melawan Karhutla

9 Agustus 2017 - 11.53 WIB > Dibaca 318 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Ada bencana rutin yang menimpa Indonesia setiap tahun. Khususnya Provinsi Riau dan Pulau Sumatera, umumnya. Yaitu, serangan kabut asap.

Sejatinya, kabut asap bukanlah bencana alam. Tapi bencana yang ”sengaja’’ diciptakan orang-orang tertentu demi mendapatkan keuntungan. Membuka lahan pertanian dan perkebunan dengan cara instan dan biaya murah. Tanpa menghiraukan akibat yang ditimbulkan.

Sudah banyak undang-undang yang dibuat pemerintah untuk menghentikan pembakaran hutan dan lahan di tanah air. Semuanya memuat sanksi yang jelas bagi pelaku. Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan misalnya. Pada pasal 50 ayat 3 haruf d, menyebutkan Setiap orang dilarang membakar hutan. Bagi yang melakukan, pada pasal 78 ayat 3 dijelaskan, Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf d, diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000 (lima miliar rupiah).

Bukan hanya yang sengaja. Bagi yang tidak sengaja pun diancam hukuman dan denda. Seperti yang tertera di pasal Pasal 78 ayat 4 udang udang yang sama.

Banyak lagi undang undang yang mengatur pelanggaran pembakaran hutan dan lahan. Ada Undang Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Undang Undang Nomor 39 Tahun 2014 Tentang Perkebunan, dan undang  undang lainnya.

Acaman hukum yang tidak main-main. Ternyata tidak membuat kejahatan pembakan hutan dan lahan hilang dari bumi pertiwi. Setiap tahun kejadian yang mengancam kehidupan makhluk di muka bumi ini terus terjadi. Bahkan beberapa perusahaan yang diduga terlibat dalam pembakaran hutan masih bisa bebas berkeliaran. Berbeda dengan rakyat kecil yang kedapatan membakar lahan untuk keperluan pertanian, langsung ditangkap dan dipenjarakan.

Akibat lemahnya pengawasan dan penegakan hukum, peristiwa pembakaran hutan dan lahan akan terus terjadi. Terutama saat memasuki musim kemarau, seperti sekarang. Lahan kosong di sejumlah daerah mulai terbakar. Seperti di Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar. Hal yang sama juga terjadi di kawasan lain, baik Riau dan provinsi tetangga.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru telah merilis data terbaru tentang titik panas yang berada di Sumatera. Satelit Terra Aqua Nasa menangkap ada titik panas yang tersebar di beberapa provinsi. Mengagetkan jumlah terbesar berada di Provinsi Riau. Di Bumi Lancang Kuning, ada 12 titik panas. Enam di antaranya sudah dipastikan titik api atau kebakaran hutan dan lahan. Makanya, jangan heran jika kita warga Riau sudah bisa mencium bau asap pada pagi dan malam hari.

Sempena HUT Provinsi Riau, hendaknya masalah karhutla ini menjadi prioritas perhatian. Mari bersatu kita melawan pembakaran lahan akan membuat bumi yang kita cintai ini bebas dari polusi asap.***
KOMENTAR
Terbaru
Telkomsel Hadirkan Kerja Sama Non-Tunai dengan Adhya Tirta Batam
Ingin Bahasa Indonesia jadi Bahasa Internasional, APPBIPA Riau Terbentuk
Lagi Berenang, Bocah Tewas Diterkam Buaya

Kamis, 15 November 2018 - 17:59 WIB

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 17:00 WIB

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 WIB

Follow Us