Jangan Ada Zoya-Zoya Lainnya

10 Agustus 2017 - 11.01 WIB > Dibaca 384 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Tragedi MA atau Zoya, warga Bekasi yang dibakar hidup-hidup sungguh memilukan. Terlepas dia memang benar-benar telah mencuri atau tidak, hukuman massa berupa pembakaran hidup-hidup tetaplah tak bisa diterima. Kasus ini menunjukkan, massa telah berubah menjadi hakim, bahkan menjadi Tuhan yang memberikan nerakanya di dunia. Tak ada sidang, pembelaan, atau penyangkalan.

Kejadian memilukan ini bermula saat Zoya berada di Masjid Al-Hidayah Bekasi. Dia membawa amplifier di dalam tasnya. Profesinya memang sebagai tukang reparasi alat-alat elektronik. Tiba-tiba dia diteriaki maling. Tak sempat berkilah dan berargumen, dia pun langsung dikeroyok. Batu menghunjam kepalanya, badannya, dan seluruh anggota tubuhnya. Pukulan pun mendarat. Lalu ada yang menyiramkan dengan bensin. Api pun disulut. Lalu neraka dunia pun dirasakan pria ini. Dia tewas di tempat.

Kasus Zoya mengundang perhatian karena ada yang bersimpati kepadanya. Postingan soal tragedi Zoya ini memang mengundang simpati. Apalagi bahasa yang digunakan pemosting di media sosial sangat memilukan. Seakan Zoya memang tak bersalah sama sekali. Dia hanya korban salah tuduh. Dia difitnah. Apalagi dia punya anak kecil, istrinya sedang hamil, dan memang berprofesi sehari-hari sebagai tukang reparasi alat elektronik. Sangat beralasan ketika dia membawa barang-barang elektronik di tasnya. Apalagi ada alibi bahwa Zoya sudah membeli amplifier itu, dengan adanya kuitansi pembelian itu.

Tapi pihak-pihak lain menyampaikan fakta sebaliknya. Pihak masjid, orang-orang yang mengeroyok, pembakar, penyulut api, bahkan polisi menduga memang Zoya pelaku pencurian. Namun demikian, tentu massa tidak berhak menghakimi terduga pelaku ini, apalagi memberikan “neraka” dunia kepadanya. Tidak ada hak di sana. Segeram apa pun massa, provokatornya, tidak boleh ada aksi main hakim sendiri yang sedemikian sadis. Polisi pun menyampaikan hal itu.

Massa memang sangat sulit dikendalikan. Kegeraman massa yang terakumulasi bisa memunculkan kesumat yang sampai ke ubun-ubun. Mungkin memang ada banyak kasus, di mana rumah Allah ini sering kemalingan. Banyak yang bisa diuangkan di sana. Ada kotak amal, pelantang suara, hingga amplifier. Lalu Zoya muncul dengan amplifier di tasnya. Meledaklah emosi.

Sudah lama tak terdengar aksi pembakaran orang yang melakukan aksi kriminal. Beberapa tahun lalu, terduga pencopet pernah dibakar massa di Terminal Kampung Rambutan Jakarta. Alasan massa ketika itu, mereka sudah sangat geram dengan aksi pencopetan di terminal yang tak berkesudahan. Jaringannya kuat, rapi, dan cepat. Sulit sekali ditangkap. Aparat tak berdaya. Korban terus menderita. Kejadian demi kejadian tak bisa dihentikan. Sampai ketika pelakunya akhirnya tertangkap massa. Tanpa ampun, bensin pun dinyalakan.

Dalam kasus Bekasi, kita tak tahu apa yang terjadi sesungguhnya. Bisa jadi Zoya tak mencuri, hanya membawa amplifier yang baru dibelinya dan ingin istirahat di masjid. Bisa jadi juga, terjadi aksi pencurian. Satu yang pasti, aksi main hakim sendiri, apalagi dengan membakar manusia seharusnya tak terjadi. Kita ini bangsa beradab, bukan bangsa biadab. Jangan ada lagi Zoya-Zoya yang lain.***
KOMENTAR
Terbaru
Ini Alasan Sebagian Caleg Golkar Dukung Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 21:31 WIB

Buni Yani Bergabung di BPN Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 21:04 WIB

PDIP Apresiasi Tranparansi Laporan Awal Dana Kampanye

Senin, 24 September 2018 - 20:26 WIB

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:52 WIB

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh
Follow Us