Berkurban tapi Ingin Harga Murah

11 Agustus 2017 - 11.31 WIB > Dibaca 308 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Menjelang Hari Raya Idul Adha, umat Islam mulai menyiapkan hewan kurban. Ada yang dikoornidanasi dengan pengurus masjid, ada pula di sekolah atau yayasan lembaga pendidikan atau organisasi kemasyarakatan (Ormas) Islam. Artinya antusiasme umat Islam melaksanakan kurban perlu mendapat perhatian banyak pihak, karena terkait dengan kesehatan hewan kurban dan kesehatan manusia yang memakannya.

Untuk itu, dinas peternakan, baik di provinsi atau kabupaten/ kota tidak boleh diam. Pastikan betul bahwa hewan yang dijual itu sehat dan layak untuk dijadikan hewan kurban.

Bagi pembeli, terutama pengurus masjid atau pihak tangan kedua, mereka akan mempertimbangkan harga. Kita saksikan, harga berkurban untuk satu orang di beberapa masjid terjadi perbedaan. Ada yang hanya Rp1.800.000, ada Rp2 juta, namun ada yang lebih dari itu. Ini terjadi karena tidak ada penyeragaman aturan. Jika zakat fitrah ditetapkan oleh Kementerian Agama di kabupaten/kota, namun soal berkurban, agaknya tidak diatur.

Fenomena yang muncul di sebagian umat Islam adalah menghendaki harga hewan kurban (sapi, kerbau, kambing) yang murah. Sudah kodratnya manusia memang suka menghitung-hitung untung rugi, termasuk dalam hal beribadah. Mereka mempetimbangkan untung rugi, walau pun hanya beberapa rupiah. Padahal kalau menelisik pada asal usul sejarah kurban, Nabi Ibrahim harus rela menyembelih anak kesayangan untuk dikurbankan, walau akhirnya Allah SWT mengganti Nabi Ismail dengan kibas (domba). Artinya berkurbanlah dengan hewan yang sehat, sebagaimana kreteria yang diriwayatkan Hadis.

Fenomena di lapangan (ingin harga murah, tanpa mempedulikan bentuk hewan) kontras dengan anjuran untuk berkuban, yakni mengurbankan hewan yang sehat dengan beragam kriterianya.

Maka jangan heran, jika saat penyembelihan hewan kurban, banyak ditemukan  hewan kurban, seperti sapi yang bentuknya kecil, kurus dan bentuknya memprihatinkan. Demikian juga bentuk kambing yang akan disembelih, ada yang kurus, kecil, bentuk tanduknya pun belum nampak. Fenomena ini dampak ingin berkurban, tetapi ingin harga murah.

Selain itu, pihak penjual pun perlu diawasi, mereka jangan memanfatkan momen Idul Adha ini untuk mendapatkan untung. Bagaimana mungkin sapi yang kecil, kurus dan bentuknya seperti sakit-sakitan, entah karena tersiksa atau karena kelelahan setelah melewati jalan jauh dengan menggunakan truk, sapi-sapi itu dijual dengan harga sama dengan sapi sehat. Yakni Rp13 jutaan. Padahal sapi dengan harga seperti itu seharusnya sapi jantan sehat dan bentuknya gemuk.

Di sinilah perlunya pengawasan dari Disperindag, YLKI dan lembaga pemantau pasar, sehingga umat Islam sebagai konsumen tidak dirugikan. Layakkah harga sapi-sapi itu? Di sinilah perlunya peran pemerintah menetralisir  (menstabilkan) harga hewan kurban. Jika selama ini pemerintah hanya sibuk menstabilkan harga semabako saat Hari Raya Idul Fitri, ke depan pemerintah juga perlu ikut campur tangan menjaga harga hewan kurban, agar umat tidak dirugikan.***
KOMENTAR
Terbaru
Gaji Guru Bantu Kembali Tersendat

Kamis, 20 September 2018 - 11:34 WIB

Berantas Narkoba,  Warga Berharap Negara Bertindak Lebih Ekstrem
Rehab Command Centre Diselidiki

Kamis, 20 September 2018 - 10:51 WIB

Targetkan Seluruh IKM Jalin Kerja Sama

Kamis, 20 September 2018 - 10:50 WIB

PDAM Harus Ditata Ulang

Kamis, 20 September 2018 - 10:38 WIB

Follow Us