Depan >> Opini >> Opini >>

Samsul Nizar Guru Besar Filsafat Pendidikan, Ketua STAIN Bengkalis

Era Menghujat dan Akhlak Kita

11 Agustus 2017 - 11.32 WIB > Dibaca 337 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Tak dapat disanggah, bahwa saat ini merupakan era tanpa batas dan tingginya rasa kemerdekaan manusia untuk mengekspresikan semua yang dipikirkan dan diinginkan. Berkembangnya ilmu dan teknologi (IT) menambah kesempurnan bagi manusia menjadikannya sebagai media tanpa batas dan mudak diakses. Namun, media yang menjadi wadah mengekpresikan semua rasa tanpa batas tersebut acapkali melampaui batas-batas hak-hak manusia lain, apatahlagi ajaran agama. Pengguna dunia IT seakan tak peduli lagi atas hak-hak orang lain yang sepatutnya perlu dihargai.

Dalam pendekatan epistemologis, era IT sesungguhnya memberikan banyak kebermanfaatan bagi membangun peradaban manusia yang lebih baik, namun kebermanfaatan ini akan dapat tercapai tatkala manusia era IT memiliki “peradaban tinggi” yang meliputi intelektual, moral, budaya ketimuran yang terjaga, akal dan hati yang beriringan, dan terutama agama sebagai way of life setiap manusia.     

Bagi manusia yang memiliki “peradaban tinggi”, eksistensi IT era modern memberikan proses pencerdasan yang bijaksana, kehati-hatian dalam memberikan pernyataan, mendidik dengan kesatunan, mengkritik dengan kata yang menyejukkan. Media IT dijadikan sebagai upaya menyebar kebajikan bukan kebencian. Media IT dijadikan sebagai sarana mendekatkan diri pada Khalik secara vertikal dan membangun komunikasi keumatan secara horizontal.

Namun, manusia yang “berperadaban rendah” akan memanfaatkan IT sebagai media mencari keburukan sesama, memutarbalikkan fakta yang sebenarnya berbeda dengan apa yang disampaikan, kritiknya pedas dan menyakitkan yang berujung pada fitnah yang paling kejam, memanfaatkan IT untuk keuntungan sendiri dengan menghalalkan segala cara. Manusia era IT yang memiliki “peradaban rendah” dapat dilihat pada beberapa kelompok, antara lain: Pertama, kelompok yang tak tahu atas apakah yang dilakukan benar atau salah, akan tetapi sok tahu dan sok paling benar tanpa melakukan cross check atas apa yang terjadi. Kedua, kelompok yang tahu bahwa apa yang dilakukan di media IT telah melampui batas, namun tak tahu dan tak mau tahu akan batasan yang dilampaui tersebut. Ketiga, kelompok yang hanya tahu batasannya hak dirinya yang tak boleh dilanggar oleh orang lain, namun tak mau tahu dengan batasan hak orang lain yang dilanggarnya.

Fenomena di atas seakan mengusik nilai positif era IT meski dilakukan oleh segelintir manusia berperadaban rendah. Hal ini terjadi karena disebabkan beberapa alasan, antara lain: Pertama, akibat pongah atas posisi yang diemban sebagai topeng menutup bopeng diri dan kedekatan dengan penguasa yang dijadikan senjata ampuh padahal dengan kekuatan yang hanya terbatas oleh waktu. Kedua, rusaknya hati karena tak mampu menyentuh hidayah Allah sebagai obat tertinggi bagi penyembuhan diri. Akibatnya, penyakit hati menjadi kronis dengan pupuk fitnah dan iri yang semakin menyemarakkan aroma bunga permusuhan. Ketiga, tertutupnya nurani mengakui kesalahan dan mengokohkan lentera yang menganggap diri sebagai makhluk sempurna. Kelu rasa lidah untuk menyatakan maaf atas kesalahan diri. Namun lidah menjadi lincah dan tajam tatkala mengarah untuk menyalahkan dan menghujat orang lain.

Meski kebiasaan menghujat bukan persoalan baru dan sejak dulu menjadi perilaku manusia “berperadaban rendah” namun gaung dan ruang lingkupnya sangat terbatas. Berbeda dengan era IT. Perilaku yang mencerminkan “peradaban rendah” tersebut akan sangat cepat dan mampu menjangkau wilayah yang sangat luas dan bahkan mendunia. Tatkala saling menghujat dilakukan secara personal, mungkin dampaknya tak akan meluas karena penyakit oknum berperadaban rendah tersebut hanya terbatas personal. Namun tatkala perilaku yang mencerminkan “peradaban rendah” tersebut dilakukan oleh kelompok orang, organisasi, kelembagaan, bahkan mungkin mendunia yang dianggap sebagai sebuah tradisi modern, maka dampaknya akan sangat fatal dan menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan. Apatahlagi tatkala yang melakukan merupakan kelompok cerdas dan mengerti agama, maka dampaknya akan semakin menghancurkan sendi-sendi agama dan peradaban.        

Perilaku saling menghujat dan membuka kelemahan sesama sesungguhnya pernah dinukilkan Allah dalam Alquran agar tetap menjaga kesatunan dan kebenaran dengan kata-kata yang bijak (ahsan) (QS. an-Nahl : 125). Bahkan dalam hadis qudsi Allah SWT mengingatkan bahwa “dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat” (HR Imam at-Tirmizi).

Membuka aib yang jelas dilakukan saja sebaiknya dihindari dan dilarang oleh Allah, apatahlagi bila yang dibuka aib tersebut juteru tidak pernah dilakukan oleh individu yang dihujat. Bila tradisi saling menghujat dan berupaya menampilkan aib sesama yang terkadang bermuara pada fitnah menjadi kebiasaan dan kepribadian, maka dapat dibayangkan bagaimana tatkala ke depan diri mereka menjadi sosok yang didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting. Jawabannya bisa dibayangkan bagaimana dampak yang akan terjadi.

Apa yang diprediksi leluhur melalui pepatah “kemarau setahun hilang tak berbekas gara-gara hujan setengah hari” seakan mendapatkan momentum di era modern. Padahal, nenek moyang bangsa ini hidup dengan kesederhanaan, namun hatinya yang bersih mampu melampui filosofi pemikiran manusia modern. Kata bijak tersebut seakan terjawab pada perilaku manusia modern dalam menilai sesama. Meski dalam kehidupan seorang manusia telah memberikan manfaat dan bahkan menyelamatkan banyak hajat hidup manusia, namun karena kesilapan kecil justru kebaikannya akan sirna. Anehnya para penghujat adalah mereka-mereka yang pernah mendapatkan kesenangan dan pernah diselamatkan oleh orang yang dihujat. Begitukah yang diharapkan Allah pada manusia sebagai pemikul amanah-Nya?  

Janji Allah adalah pasti. Setiap hujatan dilakukan dengan tujuan untuk menaikkan pamor diri, maka Allah akan memberikannya popularitas yang diinginkan. Namun, kepopuleran yang diperoleh dengan jalan yang batil, maka akan jatuh dengan cara yang batil pula. Sebuah hukum kausalitas sunnatullah. Sudah saatnya setiap diri yang ditakdirkan hidup di era IT untuk menjadi insan yang sempurna dan bijak dalam mempergunakan media IT secara bijak dan benar.

Ada beberapa alternatif untuk menghadapi era memanfaatkan IT sebagai media menghujat diminimalkan, bahkan dihentikan, antara lain: Pertama, sudah saatnya kebiasaan saling menghujat yang “mengotori” nilai-nilai positif yang ingin disampaikan media IT ditinggalkan. Sebab, bila dipertahankan maka akan menjadikan anak bangsa disibukkan untuk membalas hujatan. Akibatnya, waktu untuk memberikan pencerdasan pada umat akan hilang. Kedua, penerima informasi atas hujatan dan fitnah baik melalui media sosial maupun personal, maka jadilah manusia bijak nan berperadaban tinggi dengan melakukan cross check pada sumber data yang valid atas informasi yang diterima. Jangan seperti ular sawah (ular piton) yang makan mangsanya dan tatkala dikeluarkan dalam bentuk yang sama. Informasi yang tak dicerna melalui penyaringan atas kebenarannya, maka akan membuat sama rendahnya kualitas diri dengan para pelaku penghujat. Ketiga, hiduplah seperti kedua tangan yang saling melengkapi. Meski tugas dan fasilitas yang diperoleh berbeda, namun kedua tangan tak pernah saling menyakiti, akan tetapi saling melengkapi. Demikian ayat kauniyah yang Allah berikan pada diri manusia.

Ada kata bijak yang patut dijadikan pegangan, bahwa “memang tak ada manusia yang sempurna, namun jadilah manusia untuk saling menyempurnakan”. Semua terserah bagaimana manusia modern sebagai pengguna IT dalam menyikapi kehidupan modern, apakah masuk pada manusia berperadaban tinggi atau justeru masuk kategori manusia berperadaban rendah? Wa Allahu’alam bi al-shawwab.***
KOMENTAR
Terbaru
Polisi Terus Kembangkan Kasus Pencurian Motor

Senin, 24 September 2018 - 08:17 WIB

Ratusan Mahasiswa Belajar Persatuan dan Kesatuan di Riau Kompleks
Pembakar Lahan TNTN Ditangkap

Minggu, 23 September 2018 - 19:52 WIB

Kembalinya sang  Primadona

Minggu, 23 September 2018 - 19:48 WIB

Disdik Tempati Gedung Eks SMK Teknologi

Minggu, 23 September 2018 - 19:47 WIB

Follow Us