Menguji Manajemen Haji

14 Agustus 2017 - 11.22 WIB > Dibaca 309 kali | Komentar
 


RIAUPOS.CO - JAMAAH calon haji (JCH) Indonesia kini sebagian sudah berada di Tanah Suci dan mereka yang awal-awal berangkat saat ini sudah mulai memasuki kota suci Makkah  setelah sepekan lebih berada di Madinah. Suhu di Madinah kabarnya sangat tinggi, sekitar 44 derajat celcius, ini tentunya menjadi hambatan dalam melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji sebagai ibadah fisik (banyak memerlukan tenaga) memang sangat berat. Dikabarnya sudah 17 JCH yang wafat saat ini. Kemarin, satu JCH dari Inhil, Riau, meninggal dunia.

 Melihat sulitnya perjalanan haji maka sangat tepat jika dikatakan yang berhak memberangkatkan seseorang sampai ke Baitullah itu hanya Allah. Ada saja rintangannya, misalnya ada bus rombongan  haji yang tabrakan, seperti di Brebes, ada pula yang harus menunggu lama, karena pesawat delay dan masih banyak hambatan lainnya, terutama saat di Tanah Suci.

Bahkan, untuk mengumpulkan uang untuk melaksanakan haji pun sulit. Walau kita punya uang yang cukup, bahkan harta berlimpah, belum tentu Allah memberikan jalan ke rumah-Nya. Namun, ada pula yang merasa tidak mampu berangkat (seperti pemulung, pedagang sayur kecil-kecilan, tukang parkir dan pekerjaan rendah lainnya), namun karena izin Allah, dia diberangkatkan menuju pintu rumah-Nya.

Itulah rahasia ibadah haji, kekuasaan Allah terlihat pada diri JCH. Makanya JCH tidak boleh sombong, atau takabur, bisa-bisa sesat di Masjidil Haram atau di wilayah lainnya di Tanah Suci.

Demikian juga bagi petugas haji, hendaknya menjalankan tugasnya dengan ikhlas. Tidak sedikit pejabat di Kementerian Agama yang terseret kasus dana haji atau terkait pelaksaan haji. Mulai dari menteri sampai staf biasa pun pernah terseret kasus haji. Bahkan pengelola haji plus, walau mereka bukan pemerintah, tidak sedikit yang terseret ke jeruji penjara, gara-gara mengakali uang haji (milik JCH). Artinya uang haji ini memang tidak boleh diutak-atik, lantaran sudah diniatkan oleh JCH untuk ibadah haji.

Belakangan ini pemerintah tergiur akan menggunakan dana haji yang jumlahnya Rp95 triliun lebih, untuk diinvestasikan ke sektor infrastruktur pembangunan, secara logika memang menguntungkan, baik bagi JCH maupun pemerintah dan bermanfaat bagi umat, namun kita khawatir penggunaan dana haji ini akan menemukan masalah. Kita tidak bisa hanya belajar dari Malaysia yang sukses menggunakan dana haji, sebab SDM dan kultur kita berbeda. Untuk itu, perlu pertimbangan matang, soal dana haji itu digunakan untuk infrastruktur. Jangan tergesa-gesa.

Agaknya kita perlu meninjau kembali manajemen ikhlas beramal sebagaimana jadi label Kemeterian Agama. Ikhlas dalam arti jangan tergiur menggunakan untuk  mendapat keuntungan yang lebih. Sebab tidak sedikit, awalnya ikhlas, di tengah jalan, keikhlasan itu hilang. Namun, apa pun masalahnya, semoga Allah memberikan jalan yang mudah bagi JCH asal Indonesia, khususnya JCH Riau, dalam melaksanakan ibadah haji tahun ini.***
KOMENTAR
Terbaru
Telkomsel Hadirkan Kerja Sama Non-Tunai dengan Adhya Tirta Batam
Ingin Bahasa Indonesia jadi Bahasa Internasional, APPBIPA Riau Terbentuk
Lagi Berenang, Bocah Tewas Diterkam Buaya

Kamis, 15 November 2018 - 17:59 WIB

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 17:00 WIB

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 WIB

Follow Us