Depan >> Opini >> Opini >>

Jondri Akmal TKHI Riau 2005, Kasie PKP Diskes Siak

Remeh-temeh saat Berhaji

14 Agustus 2017 - 11.23 WIB > Dibaca 367 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Ada beberapa hal yang menjadi perhatian waktu proses di imigrasi agar berjalan lancar. Di antaranya adalah semua obatan yang ada dalam tas tentengan harus mendapat legalisasi atau cap dari  Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) di embarkasi. Karena apa? Sebab pihak imigrasi Arab Saudi sangat ketat dengan hal yang berhubungan dengan obat obatan. Selain harus dicap atau tercatat di KKP, jumlah obat yang dibawa jangan terlalu banyak atau mencolok karena akan menjadi masalah karena dianggap untuk berjualan. Bawalah obat-obatan sesuai keperluan dan jenis penyakitnya untuk selama perjalanan dari embarkasi sampai ke pemondokan.

Hal lainnya, ingatkan semua jamaah calon haji (JCH) untuk melakukan latihan gerakan ringan selama berada dalam pesawat, karena apa? Sebab banyak kasus kram pada betis atau tungkai bawah terjadi akibat dingin. Atau banyak kekambuhan sakit reumatik akibat dinginnya AC pesawat, oleh karenanya mesti diantisipasi dengan gerakan senam ringan di tempat duduk. Itulah dua pesan yang disampaikan oleh seorang sahabat lama saya dr Nirwan Satria melalui cuitannya yang sedang mengabdi menjadi pelayan tamu Allah di tanah Suci. Bagi saya cuitannya adalah “remeh temeh” dalam berhaji. Remeh temeh yang sangat menentukan.

Hal-hal Kecil
Hal-hal kecil yang dicontohkan di atas adalah remeh temeh dalam berhaji. Remeh temeh yang menentukan perjalanan haji berikutnya. Sayangnya remeh temeh dalam berhaji itu memang tidak pernah ada dalam “manasik haji” yang menjadi isi perut cara mempelajari tata cara berhaji itu. Sungguh, teringat saya akan remeh temeh lainnya ketika menjadi Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) dua belas tahun yang silam.

Ketika JCH bergerak dari pondokan ke Masjidil Haram untuk melaksanakan salat wajib misalnya, semua JCH tentu memakai alas kaki seperti sandal, tetapi sering JCH tidak membawa kantong plastik untuk membungkus sendalnya itu untuk dibawa masuk ke Masjidil Haram. Oleh karena itu JCH sering meletakkan sandal itu di pelataran batas pintu masuk Masjidil Haram yang sangat banyak dan hampir serupa. Nah biasanya JCH sering  lupa di mana sendal tersebut diletakan, akibatnya banyak JCH yang pulang tanpa sandal dan terpaksa berjalan dengan kaki tanpa alas kaki pulang ke pondokan. Kondisi ini tanpa disadari oleh JCH sering menyebabkan telapak kakinya melepuh. Melepuhnya telapak kaki JCH tentu akan menimbulkan rasa sakit atau tak nyaman. Dan rasa sakit itu tentu akan menghambat atau paling tidak menurunkan kekhusyukannya melaksanakan ibadah haji atau ibadah wajib lainnya.

Hal lainya, kesepakatan titik kumpul, ini remeh temeh yang cukup membantu bila memasuki tempat yang ramai. Contoh, biasanya JCH pergi ke Masjidil Haram untuk menunaikan umrah wajib misalnya dalam kelompok-kelompok kecil atau besar, kelompok kecil itu di pandu oleh ketua regu dan kelompok besar itu disebut ketua rombongan atau Karom. Dalam pelaksanaannya ketika menunaikan umrah wajib tadi sering tercerai berai dari kelompoknya. Kalau misalnya si JCH biasa menggunakan alat komunikasi pada JCH lainnya itu sangat baik tetapi kalau tidak ada. Hal inilah yang sangat repot. Banyak JCH yang tercerai berai dari kelompoknya yang tersesat. Sebenarnya hal itu dapat diantisipasi bahwa disepakati oleh kelompok tersebut harus ada titik kumpul bila kelompoknya tercerai berai sewaktu akan balik ke pondokan. Bila hal remeh itu dilakukan maka pelaksanaan ibadah haji makin lancar.

Hal lain , soal penggunaan pelembab bibir atau wajah atau pelembab kaki.Rata-rata suhu di Arab Saudi itu panas dan kering. Jadi kelembaban udara itu rendah. Bila kelembaban udara itu rendah maka yang kita rasakan adalah kering. Bibir menjadi kering, kulit menjadi kering, telapak kaki menjadi kering. Akibat keringnya kulit akan menjadi pecah-pecah. Kalau sudah sampai bibir pecah-pecah maka makan menjadi sulit. Bila telapak kaki pecah-pecah maka berjalan menjadi sulit. Hal remeh ini sangat jarang menjadi perhatian JCH, sehingga kekhusyukan beribadah haji menjadi turun. Sungguh hal itu sebenarnya dapat diantisipasi dengan banyak minum air atau menggunakan pelembab bibir atau pelembab kulit lainnya.

Musim haji tahun ini Kementerian Kesehatan RI membuat sebuah inovasi dengan memakaikan gelang tiga warna untuk JCH. Ada gelang berwarna hijau menunjukan JCH yang tak berisiko, ada gelang berwarna kuning untuk JCH yang risiko ringan dan ada JCH yang bergelang merah untuk Jemaah beresiko tinggi (resti). Menurut saya ini remeh temeh yang sangat inovatif sekaligus sangat bermanfaat tinggi. Selama ini kita mengetahui JCH risiko tinggi dari daftar list JCH resti yang diberikan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota saat serah terima JCH di embarkasi. Atau kita harus melihatnya dulu dari Buku Jamaah Haji (BKJH) yang ada pada JCH, tetapi sekarang hanya dengan melihat warna pada gelang JCH kita sudah tahu tingkat risiko JCH tersebut.

Semoga dengan mengetahui remeh temeh saat berhaji itu JCH dapat menyiapkan mental, ilmu dan alat-alat kecil yang sering dianggap tak penting, sehingga dengan itu perjalanan haji menjadi lancar, pelaksanaan haji menjadi mulus dan tiba gilirannya semoga haji mabrur. Sehat pergi, sehat kembali ke tanah air. Amin.***
KOMENTAR
Terbaru
PDIP Apresiasi Tranparansi Laporan Awal Dana Kampanye

Senin, 24 September 2018 - 20:26 WIB

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:52 WIB

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh
Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:48 WIB

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:43 WIB

Follow Us