Degradasi Nasionalisme di Perbatasan

19 Agustus 2017 - 10.11 WIB > Dibaca 313 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - PERSOALAN perbatasan di Indonesia cukup pelik. Termasuk perbatasan yang masuk wilayah Provinsi Riau. Di pesisir yaitu Kabupaten Rohil, Kota Dumai, Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Kepulauan Meranti, Kabupaten Pelalawan hingga Kabupaten Indragiri Hilir, masyarakat sudah ‘’membaur’’ dengan negara tetangga. Sudah menjadi hal lumrah bagi masyarakat pesisir untuk mengadu nasib atau sekadar menjual barang dagangan ke luar negeri. Lazimnya ke Malaysia. Di mana letak persoalannya?

Secara langsung tidak ada persoalan. Tidak ada konflik fisik. Belum pernah terdengar adanya pertikaian antar-manusia yang masuk bagian Indonesia maupun manusia Malaysia. Belum pernah juga terjadi sampai akan perang antar-negara akibat adanya perdagangan atau pembauran manusia di perbatasan tersebut. Malah karena relatif memiliki kebudayaan yang mirip, pembauran ini semenjak dahulu kala aman dan tenteram saja. Hanya saja karena peraturan antar-negara, pada kadarnya memang terjadi penertiban.

Tapi persoalannya adalah gesekan ideologi. Yang paling membahayakan itu masyarakat pesisir bisa lebih memahami negara asing ketimbang negaranya sendiri. Dalam benak anak-anak pesisir, ditakutkan bukan lebih memahami ideologi sampai tahu pemimpin bangsa sendiri. Tapi lebih mengenal lagu kebangsaan atau perdana menteri Malaysia. Dampak jangka panjangnya adalah persoalan nasionalisme. Jika bicara nasionalisme adalah kedaulatan. Pengakuan. Dan jika suatu saat negara memerlukan anak bangsa untuk membela, hal seperti ini bisa menjadi masalah.

Di pesisir Riau, sebagian masyarakatnya banyak ketergantungan kepada negara tetangga. Mulai dari berdagang sampai keperluan dapur diperoleh dari Malaysia. Yang lebih miris, pikiran dan imajinasi masyarakat pesisir dipenuhi oleh tayangan televisi dan radio dari negara tetangga. Sinetron, lagu, hingga kegiatan pemerintahan ditayangkan oleh televisi asing tersebut. Selama 24 jam. Semenjak masyarakat menghidupkan televisi. Karena siaran Indonesia tidak bisa didapat. Kalaupun ada siaran TVRI, itupun tidak jernih. Tercatat 16 Tv dan 53 radio Malaysia yang dinikmati dengan mudah di Bengkalis. 53 radio dan 13 Tv Malaysia di Dumai. Ironis, bukan.

Masyarakat tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Dan siaran asing tersebut juga tidak mungkin dibendung. Karena frekuensi melalui udara. Menggunakan antena, siaran terdekat bisa dinikmati. Tanpa bayar atau menggunakan parabola. Siaran Indonesia yang tidak bisa dinikmati harus menjadi pembahasan penting bagi pemerintah. Bagaimana pembangunan di perbatasan selama ini. Pemerintah harus menyadari bahwa persoalan perbatasan Indonesia di Riau adalah kompleks. Selain tidak memadainya pertahanan keamanan, masyarakat pesisir juga mengalami degradasi nasionalisme. Perlahan tapi pasti. Melalui siaran Tv, radio bahkan pembauran perdagangan.***
KOMENTAR
Terbaru
Olahraga Bangun Peradaban Positif

Kamis, 20 September 2018 - 19:00 WIB

TGB Blak-blakan Bicara Tudingan Gratifikasi

Kamis, 20 September 2018 - 18:43 WIB

AS Potong Bantuan Dana bagi Palestina

Kamis, 20 September 2018 - 18:38 WIB

Polres Gelar Apel Pasukan Operasi Mantap Brata

Kamis, 20 September 2018 - 18:30 WIB

Ketua Ombudsman RI Gelar Kuliah Umum di Unri

Kamis, 20 September 2018 - 18:24 WIB

Follow Us