Depan >> Opini >> Opini >>

Machasin Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Riau

Jika Karyawan Kehilangan Motivasi

19 Agustus 2017 - 10.12 WIB > Dibaca 732 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Motivasi adalah kekuatan yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu tindakan, secara internal dan ekternal keberhasilan program motivasi sangat tergantung pada ketangguhan pemimpin. Artinya seorang pemimpin dituntut menjadi motivator bagi karyawannya sehingga karyawan secara sadar memahami bahwa kemajuan suatu organisasi sangat tergantung pada kekuatan tim yang solid di bawah komando sang pemimpinnya. Pertanyaannya, mengapa banyak pemimpin yang tidak peduli terhadap karyawannya, tidak memahami apa yang menjadi harapan dan keinginannya, dan tidak mau tahu bahwa karyawan juga mempunyai perasaan yang sama dengan pemimpin. Semua orang apa pun levelnya memerlukan perhatian, penghargaan, kasih sayang, toleransi, pengembangan diri serta aktualisasi diri. Dalam praktiknya banyak pemimpin yang lupa diri dan dalam kesehariannya yang dibahas hanya persoalan target ke target tanpa peduli bagaimana target itu bisa terealisasi.

Banyak pemimpin mematok target produksi yang tidak realisitik bagi karyawannya, sehingga  menimbulkan stres kerja. Mereka bukan tidak mampu bekerja, namun perlakuan pemimpin yang tidak bersahabat akan menimbulkan rasa tidak nyaman dalam bekerja. Akibatnya justru terjadi demotivasi di kalangan karyawan, mereka tidak sepenuh hati dan sepenuh jiwa dalam menjalankan tugasnya sehari-hari. Bahkan efek lebih dahsyat akan terjadi di mana karyawan cenderung untuk melakukan perlawanan terhadap pimpinan dalam berbagai bentuk, misalnya sikap acuh tak acuh terhadap pekerjaan, cenderung membuat kesalahan, memperlambat pekerjaan dan bahkan ada yang sengaja membuat organisasi menjadi kacau. Karena itu seorang pemimpin dituntut untuk mampu merancang sistem pemberian motivasi yang tepat sasaran.

Seorang pemimpin dituntut untuk mengetahui apa yang diperlukan karyawan untuk pengembangan dirinya dan keluarganya, di samping itu juga diperlukan pemahaman tentang apa yang diperlukan oleh kelompok kerja dalam upaya memajukan perusahaan. Pemimpin yang tidak memahami ilmu motivasi bagi karyawan akan berdampak pada menurunnya semangat kerja, rendahnya loyalitas karyawan yang bisa berujung pada pengunduran diri karyawan.

Tanda Kehilangan Motivasi
Karyawan yang kehilangan motivasi sulit diarahkan dan dikembangkan, karena dalam dirinya sudah masuk virus sakit hati, mereka masih bertahan di perusahaan hanya karena alasan yang sangat sederhana yakni menunggu dapat pekerjaan baru; begitu pekerjaan baru sudah diperoleh maka secepat kilat mereka akan pergi meninggalkan perusahaan. Persoalannya untuk mendapat pekerjaan baru bukanlah mudah, sehingga makin lama karyawan yang kehilangan motivasi bertahan di perusahaan, maka keberadaan mereka sungguh sangat merugikan perusahaan. Karena  yang bersangkutan tidak mempunyai rasa ikatan moril dengan perusahaan,  bahkan keberadaan mereka cenderung mempengaruhi teman sekerja lainnya untuk menentang kebijakan organisasi.

Jika kasus seperti ini dialami perusahaan yang Anda pimpin, sebenarnya Anda termasuk pemimpin yang gagal, karena di samping produktivitas kerja karyawan turun perusahaan juga mengalami kerugian materil dan non materil karena perusahaan memelihara orang yang tidak memiliki komitmen dan integritas. Perusahaan telah kehilangan aset yang sangat berharga dengan memberikan ilmu pengetahuan kepada pegawai, namun setelah yang bersangkutan pandai, ia mengundurkan diri.

Tanda-tanda pegawai kehilangan motivasi terlihat dari sikap dan perilaku sebagai berikut.

Pertama, mereka melakukan perkerjaan hanya ketika diawasi. Tipe pekerja seperti ini sangat merugikan organisasi, ia melupakan tanggung jawab terhadap job yang telah ditugaskan kepada mereka. Jika pengawasan lemah maka organisasi akan kehilangan jam kerja produktif. Untuk itu idealnya organisasi harus mampu mendoktrin pegawainya agar mampu bekerja profesional sesuai dengan tugas pokok dan fungsi yang telah ditetapkan organisasi. Konsep pengawasan yang dimaksud di sini bukanlah sekadar pengawasan oleh atasan dalam konteks pekerjaan, namun seharusnya diberikan pemahaman tentang pengawasan pada diri sendiri sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada pemberi kerja dan kepada yang maha kuasa. Doktrin pengawasan pada diri sendiri akan tercipta pada diri pegawai manakala perusahaan mampu memahami dan menerapkan konsep memberdayakan karyawan melalui berbagai program yang benar-benar menyentuh hati dan pemikiran pegawai.  

Kedua, karyawan yang kehilangan motivasi terlihat dari perilakunya yakni melakukan pekerjaan tetapi tidak sepenuh kemampuan. Tipe karyawan seperti ini terlihat dari tindakan dan perilakunya yang tidak antusias dan cenderung memperlambat pekerjaan, bahkan sering dengan sengaja membuat kesalahan. Potensi yang ada pada dirinya tidak tercurahkan untuk pekerjaannya dan justru dengan sengaja menciptakan suasana kerja yang tidak menyenangkan. Mereka selalu melakukan pembiaran terhadap proses pekerjaan, meskipun sebenarnya yang bersangkutan telah memahami bahwa proses pekerjaan tidak berjalan secara efektif dan efisien.

Ketiga, karyawan melakukan pekerjaan tetapi tidak mau meneliti kualitas pekerjaannya. Karyawan seperti ini akan bekerja sesuka hatinya dan tidak mau tahu dengan instruksi dan prosedur kerja yang telah ditetapkan perusahaan. Mereka bekerja tanpa berpedoman pada SOP (Standar Operasional Prosedur). Jika terjadi kesalahan dalam proses pekerjaan, cenderung mengelak dan mencari kesalahan orang lain. Jika organisasi yang anda pimpin memiliki karyawan bertipe seperti ini, maka hati-hatilah karena sejatinya yang bersangkutan tidak memiliki tanggung jawab dalam bekerja.

 Keempat, karyawan melakukan pekerjaan sekadar untuk memenuhi kewajiban. Mereka bekerja hanya sekadar memenuhi kewajiban yang tertuang dalam peraturan  perusahaan. Misalnya karyawan wajib masuk pukul 07.30 pagi, maka yang bersangkutan tetap memenuhi kewajiban tersebut, namun mereka tak sedikitpun mempunyai pemikiran untuk memajukan perusahaan. Bahkan mereka cenderung untuk mencari kesibukan sendiri di luar pekerjaan. Tidak jarang di antara mereka setelah memenuhi kewajiban absensi misalnya, mereka meninggalkan kantor dan meninggalkan pekerjaan untuk urusan pribadi meskipun tidak terlalu penting. Saat kewajiban untuk absensi pulang telah tiba waktunya, maka yang bersangkutanpun akan datang untuk memenuhi kewajiban absensi pulang. Sangat ironis tipe karyawan seperti ini? Apa yang akan Anda lakukan jika memiliki karyawan dengan perilaku seperti ini? Siapa yang salah.

Pemimpin Dituntut Ahli Motivasi
Banyak pemimpin yang bersifat arogan dan memberlakukan karyawan secara tidak manusiawi, padahal semua orang tidak terkecuali bawahan terendah pun memerlukan penghargaan dan pengakuan. Karena itu seorang pemimpin dituntut menjadi seorang yang ahli motivasi, yang bisa memahami apa yang menjadi keperluan dan keinginan dari anggota organisasi baik secara individu maupun secara kelompok. Tugas pemimpin adalah membangkit motivasi pegawainya dengan berbagai langkah strategis. Pemimpin harus mengupayakan agar pegawai senang dalam bekerja dan menyenangi pekerjaannya dan mereka mendapatkan kepuasan dalam bekerja.

Pemimpin juga dituntut untuk mampu menciptakan suasana agar pekerja mempunyai semangat yang tinggi dalam bekerja dan selalu berusaha untuk mencapai hasil yang terbaik serta terus-menerus melakukan perbaikan. Lebih lanjut pemimpin dituntut untuk mampu memberikan inspirasi pada bawahannya sehingga menciptakan inovasi dan cara-cara baru yang lebih efektif dalam pekerjaannya. Karena itu tugas pemimpin adalah mencari, mengembangkan, memanfaatkan dan menghargai human capital secara manusiawi sesuai dengan tuntutan jiwa. Wujud nyata dari pengembangan human capital adalah terbentuknya kepemimpinan yang berbasis karakter.

 Pemimpin harus mampu  membangun human capital yang  merupakan keperluan mutlak, mendesak dan urgen; bukan saja disebabkan human capital sebagai faktor utama dalam pengembangan sumber daya manusia, akan tetapi juga merupakan human investment yang harus terus menerus dibina dan dikembangkan secara berkesinambungan. Para teoritis human capital menyatakan satu pemahaman bahwa sumber daya manusia, adalah penentu bagi perkembangan ekonomi maupun sosial suatu bangsa, dan bukan sumber daya alam maupun modal fisik.

Pertanyaannya mengapa peran penting Sumber Daya Manusia (SDM) masih sebatas wacana, yang sangat mudah dikonstruksikan tetapi sangat sulit direalisasikan. Di sinilah pentingnya figur seorang pemimpin yang bertugas mengembangkan human capital dalam organisasi. Pemimpin yang dicari bawahan, adalah pemimpin yang memiliki tiga elemen dasar yaitu: Pertama, pemimpin yang memiliki kemampuan. Kedua, pemimpin yang mempunyai karakter kuat, dan ketiga pemimpin yang peduli kepada bawahannya. Tipe pemimpin seperti inilah yang dianggap mampu mengembangkan modal manusia (human capital), sehingga karyawan secara sukarela memiliki keterikatan dengan organisasi. Pemimpin diharapkan dapat memberikan inspirasi kepada bawahannya, sehingga karyawan merasakan adanya sinergi antara pikiran, hati dan tubuh secara seimbang.

Permasalahan yang mengemuka hingga kini di mana kebijakan bisnis lebih mengarah pada pencapaian laba, tetapi soal pengembangan human capital agar menjadi prima dan kompetitif kurang mendapatkan perhatian. Bahkan ada beberapa perusahaan dan institusi yang belum memiliki road map pengembangan human capital yang komprehensif. Akibatnya, seringkali muncul penerbitan dan penunjukan SK pengangkatan pejabat yang tidak responsif terhadap tuntutan keperluan organisasi. Akibatnya lahirlah istilah pejabat karbitan, pejabat orderan, pejabat hasil rekayasa dan pejabat yang lahir dari hubungan gelap yang tidak profesional, pejabat asal bapak senang, dan sebagainya.

Fakta ini terjadi karena model pengembangan human capital tidak menjadi bagian penting dalam menyusun peta regenerasi kepemimpinan. Padahal pengembangan human capital yang sesuai dengan road map pengembangan organisasi akan mampu meningkatkan daya saing organisasi. Semoga.***
KOMENTAR
Terbaru
Menteri Keamanan Siber Jepang Ternyata Tak Mengerti Komputer
Dua Kecamatan  Masih Terendam

Jumat, 16 November 2018 - 17:30 WIB

Lutut Istri  Disenggol, Nelayan Bacok Tetangga

Jumat, 16 November 2018 - 17:00 WIB

Miliki 30 Kg Ganja, Petani Ditangkap

Jumat, 16 November 2018 - 16:15 WIB

BRK Ikut MoU e-Samsat Nasional

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 WIB

Follow Us