Fenomena Panjat Pinang

21 Agustus 2017 - 11.04 WIB > Dibaca 373 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Sampai Ahad (20/8) kemarin, beragam acara perlombaan sempena HUT ke-72 Republik Indonesia masih digelar, mungkin panitia memanfaatkan waktu libur, Sabtu dan Ahad. Ada lari goni, lomba makan kerupuk, lomba mengambil uang yang diselipkan di buah jeruk, memasukkan paku ke botol, memindahkan belut dan lainnya, tapi yang paling populer lomba panjat pinang.

Panjat pinang unik, dan sangat identik dengan acara tujuhbelasan, yakni setiap memperingati HUT RI pasti digelar. Entah sejak kapan munculnya tradisi panjat pinang ini. Namun bagi siapa pun yang menyaksikan, semua dibuat tertawa. Susunan orangnya, yang di bawah, tubuhnya besar dan kekar, biasanya raut wajah lucu seperti orang mengedan (menahan sakit perut saat mau buang air besar). Belum lagi pemandangan celana yang melorot, membuat penonton tertawa terpingkal-pingkal.

Bagaimana mereka yang sedang memanjat pinang, apakah dirinya merasa diejek? Tidak. Mereka tetap sportif. Mereka tetap berusaha untuk mendapatkan hadiah. Saat mereka jatuh, dan gagal mencapai puncak hadiah, mereka juga kecewa. Siapa pun pesertanya, mereka benar-benar menikmati permainan ini. Padahal pesertanya ada orang bagak, mereka tidak mau menebang pohon pinang itu.

Mereka menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas. Walau hadiah yang akan diraih itu tidak banyak, tetapi mereka menikmati permainan ini. Celana, baju, muka, badan kotor kena oli, keringat bercucuran tetapi semua mereka nikmati.

Memang ada sebagian yang menilai permainan ini tak layak, sebab yang di bawah dipijat, dan yang paling atas menikmati.  Namun kenyataannya, yang di bawah itu adalah badan yang kekar, dan yang paling kurus mereka gilirannya di atas, agar mudah naik ke atas. Kalau yang gemuk di atas tentulah yang kecil penyet di bawah.

Apa pun analisa tentang lomba panjat pinang ini, yang jelas telah membuat warga yang menyaksikan terhibur. Minimal meringankan stres karena himpitan ekonomi yang terus menekan dada kita.

Negeri ini perlu hiburan. Tidak harus kerja, kerja, kerja terus, sehingga menumpulkan rasa nurani,  bahkan bisa menumpulkan naluri untuk berkarya. Bukankah kapak atau parang juga harus diasah, tidak terus menerus digunakan untuk memotong. Artinya perlu jeda untuk mengasah hati, pikiran dan naluri kita. Ya, bangsa ini perlu jeda, hiburan, agar hidup tidak gersang, karena didesak oleh teknologi.

Teknologi membuat sebuah keluarga tidak mau berkunjung ke tetangga, karena semuanya cukup dengan SMS atau WA, atau face book. Budaya gotong-royong mulai redup di negeri ini. Panjang pinang memecah kebekuan itu. Mulai dari pembentukkan panitia, pengumpulan dana, mencari hadiah, mendirikan pohon pinang, memanjat pinang dan yang menyaksikan pun beragam usia, dari anak-anak sampai orang tua, semua keluar dari rumah memecah ego pribadi. Warga kumpul bersama menikmatinya. Semua boleh menyaksikan, tanpa kecuali.***
KOMENTAR
Terbaru
Berlari 15 Menit untuk Daya Ingat yang Baik

Minggu, 18 November 2018 - 20:28 WIB

Jadi Pemilik Akun Penyebar Hoax, Istri Gubernur Diselidiki Polisi
IDI Riau Gembira PN Pekanbaru Menangkan Gugatan Anggotanya
Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:45 WIB

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil
Follow Us