Depan >> Opini >> Opini >>

Reza Indragiri Amril Mantan Ketua Delegasi Indonesia Program Pertukaran Pemuda Indonesia Australia, Penggemar Batik

Busana sang Presiden

21 Agustus 2017 - 11.04 WIB > Dibaca 425 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Presiden Joko Widodo (Jokowi) memeragakan kebiasaan baru. Silih berganti dengan jas, ia mengenakan busana tradisional pada acara-acara resmi kenegaraan. Unik, sah-sah saja. Kebiasaan Jokowi itu kontras dengan empat presiden pria pendahulunya. Di sesi-sesi formal serupa, kalau tidak jas, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, maupun Pak Yudhoyono memakai batik.

Gaya Jokowi yang berani tampil beda teristimewa mencolok mata jika dibandingkan dengan pilihan berbusana yang Presiden pertama Indonesia, Sukarno, peragakan. Catat: bicara tentang semangat cinta Tanah Air dan bangga akan keindonesiaan, tiada keraguan seujung kuku pun akan sukma Bung Karno itu.

Betapa pun nasionalis sejati, faktanya adalah tak pernah sekali pun Bung Karno tampil di forum-forum publik memakai kostum yang merepresentasikan suku-suku dari Sabang sampai Merauke. Bahkan, walau kita pada masa kini begitu bangga akan batik sebagai pakaian yang mewakili Nusantara, plus sudah dinyatakan UNESCO sebagai warisan budaya khas Indonesia, Bung Karno juga tidak pernah sekali pun mengenakan pakaian bermotif batik.

Aku menulis itu bukan hanya karena tidak ada bukti berupa foto tubuh Bung Karno terlapisi batik atau pakaian bermotif etnik nusantara. Juga bukan karena Bung Karno orang yang tidak memusingkan masalah tata busana. Boleh jadi justru Bung Karno, selaku pecinta seni kelas wahid, adalah orang nomor satu Republik Indonesia yang paling hirau pada urusan keserasian fesyen. Sekian banyak karangan dan perkataan, baik yang dikemukakan oleh orang lain maupun yang disampaikan Bung Karno sendiri, merekam hal itu.

Ambil misal, Bung Karno ingat betul momen ketika ia untuk pertama kalinya terpesona oleh penampilan lahiriah Inggit, perempuan yang kelak dinikahi sebagai isteri keduanya. Siluet indah berbalut kebaya rapi, ditambah sekuntum bunga di sanggulnya. Begitu pula kisah Heldy, perempuan belia yang disebut sebagai tambatan hati terakhir Bung Karno. Bung Karno-lah, kata Heldy, yang mengajarinya cara melipat kebaya serta mengatur tinggi rendahnya ujung kain yang jatuh di sekitar pinggul. Cita-cita mengikat persatuan bangsa juga dituangkan Bung Karno ke dalam rancangan batik yang memadukan motif khas Jogja dan Solo dengan warna-warna cerah yang mengacu pada batik khas pesisir.

Lain lagi cerita tokoh radio swasta nasional, Malik Sjafei Saleh. Mengaku bahwa Bung Karno acap berkunjung ke rumah orang tuanya yang duduk sebagai salah seorang menteri, Malik sempat melihat sepatu Bung Karno. Di dalam sepatu, tepatnya di bagian tumit, ada tonjolan menyerupai hak. Jadi, tutur Malik, sepatu Bung Karno memiliki dua hak: di bagian luar dan di bagian dalam.

Ada banyak lagi dongeng tentang kesenangan Bung Karno pada urusan berbusana.

Bung Karno sendiri yang suatu ketika utarakan alasan mengapa ia memilih untuk selalu mengenakan baju kaum revolusioner yang ia desain sendiri. Berpakaian parlente adalah perkara mutlak agar semesta rakyat bangga memiliki pemimpin seperti dirinya. Setelan baju dan celana plus dasi, bersama maklumat yang berapi-api, diyakini akan mendongkrak rasa percaya diri rakyat dari sebuah negara yang masih belia namun sudah berhasrat menjadi mercusuar dunia. Tak terlupakan adalah songkok hitam yang oleh Putra Sang Fajar juga dijadikan sebagai salah satu atribut yang memuat tujuan pragmatis dan makna simbolis sekaligus. Pragmatis, kopiah itu digunakan untuk mengompensasi rambut tipis yang terlanjur membuat kening Sang Pemimpin Besar Revolusi tampak lebar. Simbolis, kopiah adalah perlambang kaum pejuang yang menghapus sekat antara kaum elite dan kaum elite (Marhaen).

Apakah posisi peci yang sedikit miring ke kiri juga merefleksikan sikap politik Bung Karno yang dinilai banyak kalangan kekiri-kirian? Paling tidak, begitulah tafsiran datukku. Maaz namanya. Sebaliknya, orang-orang yang dekat pada agama, menurut Datuk Maaz, pasti memasang songkok dengan posisi agak oleng ke kanan. Ya, begitulah pandangan dan tindak-tanduk datukku yang notabene pengikut Masyumi.

Ada pula penjelasan lain mengenai posisi kopiah Bung Karno. Kopiah itu sengaja dipasang miring ke kiri untuk menutupi bekas luka di dahi Sang Penyambung Lidah Rakyat. Sesederhana itu.

Tentang seragam kebesarannya yang tak pernah tergantikan itu, Bung Karno, dikarenakan ia ingin terlihat di muka umum sebagai kepunyaan rakyat Indonesia. Seragam kaum revolusioner mantap menunjukkan bahwa Bung Karno tidak condong pada suku tertentu. Apalagi karena di negeri ini ada beratus-ratus suku, berarti ratusan busana adat, Bung Karno tidak ingin ada suku-suku tertentu yang kecewa dan merasa dianak-tirikan karena hingga akhir hayatnya Bung Karno tak sempat memakai kostum ala suku tersebut.

Hikayat tentang Bung Karno kentara menunjukkan betapa ia sendiri yang menentukan pakaian yang dikenakannya. Bagaimana dengan Jokowi? Siapa gerangan yang mendorongnya memakai kostum adat? Juga, adakah pertimbangan-pertimbangan khusus tentang busana etnik yang dipilihkan untuk Jokowi? Entahlah. Bagiku, asalkan tetap cocok di badan dan tak tabrak lari dengan tampang, pakaian adat mana pun yang dipakai Jokowi silakan saja.

Salah satu butir Tricakti adalah berkepribadian di lapangan kebudayaan. Dihubungkan ke etika berbusana di perhelatan resmi nasional, barangkali Bung Karno dan Jokowi punya cara yang berbeda satu sama lain untuk mewujudkan butir Tricakti tadi. Yang satu berpakaian necis nan gagah, yang lain berbusana tradisional nan hangat. Kekhasan itu pula yang agaknya menjadi siasat mereka masing-masing tentang bagaimana mempersatukan kebhinnekaan Indonesia. Allahu a’lam.***
KOMENTAR
Terbaru
Ini Alasan Sebagian Caleg Golkar Dukung Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 21:31 WIB

Buni Yani Bergabung di BPN Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 21:04 WIB

PDIP Apresiasi Tranparansi Laporan Awal Dana Kampanye

Senin, 24 September 2018 - 20:26 WIB

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:52 WIB

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh
Follow Us