Depan >> Opini >> Opini >>

M Zaenal Muttaqin Dosen Bidang Studi Transportasi Universitas Islam Riau

Go-Jek, Solusi atau Ancaman?

22 Agustus 2017 - 11.30 WIB > Dibaca 1139 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - “Bang, ke mal dari sini kira-kira berapa ya..?” Itulah kata-kata yang sering kita dengar ketika seseorang akan naik ojek sehari-hari.Namun, perubahan kini semakin dirasa ketika masyarakat hanya memencet beberapa tombol di handphone android-nya dan beberapa saat kemudian telepon selulernya (ponsel) berdering dan tak lama setelah itu, aktivitas ojek pun terjadi. Seperti itulah kemajuan teknologi yang tak terasa telah mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Sebagai pendatang baru dalam usaha pelayanan jasa, Go-Jek mampu melompat jauh lebih tinggi sebagai salah satu pelayanan primadona oleh masyarakat. Ketika mendengar kata Go-Jek, saya telah terbayang bahwa begitu mudahnya kini orang melakulan transportasi. Cukup mempunyai ponsel bersistem android, kemudian melakukan proses penginstalan aplikasi dan segala bisa terjadi. Mulai mengantar orang, makanan, bahkan belanja di pasar pun sekarang mampu dilakulan tanpa perlu pergi secara fisik. Serasa tergelitik perasaan saya ketika melihat perkembangan valuasi (nilai) perusahaan Go-Jek dibandingkan dengan perusahaan jasa transportasi lainnya. Dilansir pada wallstreet journal, nilai (value) perusahaan yang tergolong baru di Indonesia itu bahkan telah mampu mengalahkan perusahaan sekaliber Garuda Indonesia yang merupakan pemain lama dalam usaha transportasi di Indonesia. Perkembangan yang sangat cepat dari layanan Go-Jek bahkan memancing jasa layanan transportasi lainnya mau tidak mau harus mengikuti proses adaptasi teknologi yang selama ini menjadi dasar utama dan kebanggaan dari layanan Go-Jek agar tidak ketinggalan jauh. Mungkin pada zaman dahulu tidak ada yang mampu mengira bahwa dengan aplikasi sekecil itu ternyata akan mempengaruhi sebagian besar rakyat Indonesia dalam memandang angkutan umum yang baik.Tidak hanya terkait dengan kualitas secara internal namun seberapa dekat layanan tersebut kepada para konsumennya.

Salah satu penyebab Go-Jek banyak digandrungi masyarakat adalah keberhasilan penyedia jasa ini menangkap permasalahan aksesibilitas yang berada sangat dekat dengan masyarakat. Tata kota dan lokasi tempat tinggal masyarakat yang cenderung semakin lama menuju wilayah pinggiran kota, sedangkan tempat kerja yang cenderung masih berpusat di tengah kota, menjadi alasan yang cukup logis bahwa aktivitas mobilitas masyarakat semakin lama semakin meningkat. Perihal ini tidak diimbangi dengan fasilitas akses yang disediakan oleh pemerintah. Jalan raya yang dibangun oleh pemerintah seakan hanya mampu mengakomodasi wilayah dari pusat kota saja. Selain itu, fasilitas angkutan umum yang seharusnya menjadi jawaban akan keterbatasan akses justru masih berkutat terhadap masalah internal yang dihadapi. Jangankan untuk berkembang, untuk bertahan dalam kondisi persaingan yang terjadi dengan angkutan pribadi saja masih sangat sulit. Hal ini membuat masyarakat yang terlanjur memiliki tempat tinggal yang jauh berada di pinggiran kota atau berada di lokasi yang memiliki akses yang sulit untuk dipenuhi oleh angkutan umum “dipaksa” harus memenuhi keperluan akan mobilitas itu sendiri. Oleh karena itu, kemunculan Go-Jek sebagai jawaban akan masalah tersebut lebih disukai masyarakat ketimbang menanti janji manis angkutan umum yang justru semakin menurun kualitasnya.

Kehadiran Go-Jek sebagai fasilitas dari kegiatan mobilitas yang tinggi dari masyarakat disambut antusias dan mampu menarik masyarakat mulai dari status pegawai bahkan rumah tangga. Menurut mereka, kehadiran Go-Jek mampu dikatakan solusi dari problematika transportasi yang dirasakan penggunaan aplikasi yang cukup mudah dan pelayanan yang cepat dan kekinian menjadi sebuah jawaban terhadap permasalahan mobilitas yang kerap kali menjadi penghambat dalam aktivitas sehari-hari. Bahkan, kehadiran Go-Jek akan mampu mengubah pemikiran masyarakat terkait pelayanan transportasi publik yang bersifat door to door. Masyarakat akan merasa angkutan umum yang baik harus dimulai dari depan pintu rumah mereka masing-masing. Suatu hal yang saya pikir mustahil untuk dilakukan oleh angkutan umum.

Go-Ride dan Permasalahannya
Go-Ride merupakan salah satu produk Go-Jek yang bertujuan mengantarkan orang dari tempat asal menuju tempat tujuan dengan moda angkutan sepeda motor. Permasalahan muncul ketika sepeda motor justru menjadi suatu angkutan umum “baru“ yang selama ini dipegang oleh ojek pengkolan. Dahulu, ojek hanya digunakan masyarakat dalam perjalanan jarak dekat saja namun kini, dengan adanya Go-Ride, masyarakat mampu melakukan mobilitas pada jarak menengah hingga jauh dengan cepat tanpa berganti ganti moda. Hal ini menurut saya menjadi salah satu penghambat dalam kemajuan sistem transportasi perkotaan terutama angkutan orang. Kita mengetahui bahwa fungsi utama angkutan umum adalah untuk mengakomodasi perjalanan di dalam sebuah kota mulai dari pinggiran hingga ke tengah kota dengan jumlah penumpang tertentu di dalam sebuah moda transportasi. Adanya produk Go-Jek, seperti Go-Ride akan menjadikan peningkatan status sebagai pengganti moda angkutan ojek sepeda motor yang selama ini kerap digunakan masyarakat terutama pada akses yang terbatas, secara tidak langsung menggeser moda sepeda motor sebagai angkutan pribadi menjadi sebuah angkutan umum yang bersifat khusus, yakni hanya mampu mengangkut satu orang saja. Sontak, hal ini akan menimbulkan masalah yang cukup mendasar terkait berapa orang yang disyaratkan sebagai moda angkutan umum.

Selain itu, kehadiran Go-Jek dengan produk andalannya Go-Ride tersebut ternyata telah mampu membius masyarakat sebagai solusi terkait mobilitasnya. Berdasar teori yang berkembang terkait sistem perencanaan transportasi wilayah perkotaan, pengembangan angkutan umum berupa bus maupun angkutan kereta perkotaan masih merupakan solusi yang berkelanjutan (sustainable) dan mampu bertahan jangka panjang dalam mengatasi persoalan mobilitas. Perbandingan yang cukup signifikan di mana 100 mobil dengan asumsi satu mobil dua orang ternyata sama dengan kapasitas dua bus dengan ukuran besar, cukup efektif bukan? Prinsip “memindahkan orang, bukan kendaraan’’ menjadi salah satu mindset utama bagaimana angkutan umum mampu melayani mobilitas masyarakat. Oleh karena itu, munculnya Go-Ride sebagai salah satu produk Go-Jek akan menjadi hambatan dalam penyelesaian mobilitas yang semakin lama semakin kompleks. Go-Ride akan dianggap sebagai solusi, padahal jika dibandingkan, Go-Ride cenderung sama seperti kita naik sepeda motor pribadi bukan?

Dari sisi yang lain moda sepeda motor yang menjadi fasilitas utama dari layanan Go-Ride, sewajarnya juga tidak layak untuk dimasukkan dalam jenis angkutan umum nontrayek. Bahkan dalam PM No. 32/2016 terkait permasalahan Go-Jek beberapa waktu lalu tidak sama sekali menyebut sepeda motor. Faktor keselamatan dan keamanan memang masih menjadi penyebab utama hal tersebut. Alangkah wajar jika kita menyebut karakteristik sepeda motor yang ada pada saat ini memang tidak didesain pada keselamatan pengendaranya. Ketidakstabilan pada sumbu roda, desain kecepatan yang tidak diimbangi fasilitas keselamatan yang memadai mengakibatkan faktor kecelakaan menjadi semakin tinggi.

Sisi positif Layanan Go-Jek
Sebagai layanan jasa mobilitas, Go-Jek tidak selamanya menjadi penghambat dari perkembangan angkutan umum. Layanan antar barang (delivery) saat ini justru banyak digandrungi, terutama oleh orang tua yang tidak bisa pergi, atau pegawai yang terpaksa harus berada di kantor tanpa bisa keluar mencari kebutuhannya. Sebagai layanan angkutan barang, layanan Go-Jek mampu menjadi solusi efektif guna mengurangi kebutuhan permintaan akan suatu perjalanan. Produk Go-Jek seperti Go-Food, Go-send,Go-box,Go-mart bahkan Go-shop akan mampu mendukung dalam mengurangi aktivitas masyarakat di jalan yang menyebabkan keperluan akan transportasi menjadi tinggi. Aktivitas transportasi sebagai aktivitas turunan dari kebutuhan masyarakat memang menggantungkan aktivitasnya terhadap bagaimana masyarakat melakukan pemenuhan kebutuhannya sendiri. Berkat layanan yang ditawarkan Go-Jek, masyarakat yang merencanakan bepergian untuk keperluan utama mereka, seperti makan, berbelanja kebutuhan sehari-hari dan lainnya akan terkurangi dengan adanya layanan seperti ini. Hasilnya, beban dari jalan rayayang selama ini semakin berat karena pertumbuhan kendaraan yang dipakai masyarakat untuk beraktivitas, sedikit demi sedikit akan terkurangi.

Pemerintah Belum Tegas
Pada akhirnya, kehadiran Go-Jek dalam sistem transportasi di Indonesia memang masih menjadi sebuah dilematika yang cukup serius. Masyarakat sebagai pengguna layanan tersebut amat merasakan Go-Jek sebagai solusi atas problematika transportasi. Masyarakat cenderung tidak menyadari bahwa solusi yang ditawarkan oleh layanan Go-Jek terutama pada layanan Go-Ride hanyalah solusi “singkat“ dan lambat laun permasalahan akan kembali dengan intensitas yang justru lebih sulit untuk diselesaikan. Di sisi yang lain, kehadiran Go-Jek sebagai moda yang ”naik tingkat” dari angkutan ojek konvensional juga menjadi polemik tersendiri. Sehingga tidaklah heran jika kita melihat gesekan yang cukup serius antara pengemudi Go-Jek dengan ojek konvensional. Para tukang ojek konvensional merasa wilayahnya terganggu dengan adanya layanan teraebut. Pangsa pasar yang ditujukan pada keperluan akan jarak pendek, seluruhnya diambil alih dengan layanan Go-Ride yang mampu beroperasi hingga jarak jauh (maksimal 25 km). Sayangnya, pemerintah sendiri ternyata belum begitu tegas menyikapi perihal tersebut. Adanya keraguan cukup jelas terlihat ketika batasan penggunaan Go-Jek untuk angkutan orang tidak ditindaklanjuti dengan eksekusi di lapangan, sehingga pengguna maupun penyedia jasa masih leluasa menggunakan jasa layanan angkutan orang tersebut.

Satu hal yang dapat disarankan pada pemerintah adalah terkait percepatan perkembangan angkutan umum yang direncanakan sebagai tulang punggung transportasi sebuah kota harus segera dikebut dan dijadikan prioritas utama dalam sebuah perencanaan transportasi di wilayah perkotaan. Selain itu, proses pembatasan akan layanan seperti Go-Ride yang menggunakan motor sebagai moda transportasi utama juga harus berjalan secara konsisten dan simultan. Komunikasi yang dibangun oleh kedua belah pihak harus menelurkan suatu kerja sama yang saling menguntungkan. Masyarakat sebagai penikmat jasa layanan tersebut tentunya juga harus semakin dewasa dalam menyikapi perkembangan teknologi yang semakin lama semakin melekat pada kebiasaan hidup masyarakat.

Saya jadi teringat akan perkataan dosen saat saya belajar S2 dulu bahwa “jika larangan tidak diimbangi dengan penawaran solusi, maka masyarakat akan mencari solusi sendiri tanpa peduli aturan yang seharusnya mereka patuhi “.  Akhir kata, semoga pelayanan seperti Go-Jek akan mampu membantu dan menjadi solusi pendukung dan ancaman yang selama ini menghantui akan semakin kecil dengan komunikasi yang efektif antara pemerintah sebagai regulator dan pihak Go-Jek sebagai penyedia jasa layanan transportasi online di Indonesia.***
KOMENTAR
Terbaru
Wali Murid Protes, SMAN 12 Pekanbaru Pungut Biaya Terlalu Besar
Setubuhi Anak Tiri, Warga  Tembilahan Dikerangkeng

Rabu, 21 November 2018 - 17:00 WIB

Prabowo Pasti Tepati Janji Tuntaskan Masalah Honorer K2
Tim Kampanye Jokowi Manfaatkan Popularitas Djarot

Rabu, 21 November 2018 - 15:50 WIB

Dewan Rekomendasikan Cabut Izin PT MAS

Rabu, 21 November 2018 - 15:45 WIB

Follow Us