Menangguk di Air Keruh

25 Agustus 2017 - 09.56 WIB > Dibaca 424 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Dalam sebuah konflik selalu saja ada oknum yang menangguk di air keruh. Peribahasa ini menjelaskan sikap seorang yang mencari keuntungan dan sebagainya ketika ada kekacauan (perselisihan dan sebagainya). Mulai dari kasus First Travel yang menggelapkan dana nasabah untuk keuntungan pribadi hingga terungkapnya sindikat pengumbar kebencian di dunia maya. Ini sungguh luar biasa manusianya. Mencari untung dari pertikaian orang lain.

Sebagaimana diberitakan bahwa biang memanasnya media sosial mulai terungkap. Rabu (23/8), Direktorat Tindak Pidana Siber (Diitipid Siber) Bareskrim mengungkap penangkapan sindikat produsen ujaran kebencian dan SARA bernama Saracen. Kelompok tersebut bermain dua kaki dalam polemik kasus Ahok alias Basuki Tjahata Purnama. Kasubdit I Dittipid Siber Bareskrim Kombespol Irwan Anwar menjelaskan, sindikat Saracen ini beroperasi sesuai dengan pesanan kliennya. Siapa yang ingin ditendang, siapa yang ingin dipukul menggunakan isu.

Harga untuk jasa sindikat ini bila dilihat dari berbagai proposal kisaran Rp75 juta hingga Rp100 juta. Modusnya pelaku memiliki 10 ribu akun dalam bekerja. Dia mengerahkan akun-akun tersebut untuk membuat arus pembicaraan sesuai keinginannya. Dalam polemik kasus Ahok, ternyata sindikat ini bermain dua kaki. Dia saat sudah mendapatkan klien pada kelompok kontra Ahok, bila ada klien yang pro Ahok kemudian menghubungi rekannya.

Bayangkan saja  jumlah ujaran kebencian yang diproduksi sindikat tersebut sudah luar biasa banyaknya. Apalagi kelompok ini sudah beroperasi sejak akhir 2015. Sehingga, jumlah ujaran kebenciannya juga begitu banyak. Terutama ujaran soal SARA, Inilah puncak banjir atau lebih tepatnya air bah informasi. Anda mungkin mendapatkan informasi semudah telapak tangan dari mana saja. Informasi mungkin di genggaman Anda lewat gawai yang Anda punya. Namun waspadalah karena belum tentu informasi yang Anda baca itu benar.

Informasi yang salah bisa membuat kesimpulang yang salah. Kesimpulan yang salah bisa berujung pada tindakan yang juga salah. Tindakan yang salah akhirnya bisa merugikan diri sendiri atau orang lain. Oleh karena itu di era banjir informasi ini setiap orang harus ekstra hati-hati karena berita bohong (hoax) begitu mudah menyebar. Beritanya mungkin mengasyikkan, panas, seru dan lebih tajam dari media massa cetak misalnya. Namun tanpa kewaspadaan masyarakat pembaca bisa disesatkan dengan informasi yang salah.

Untunglah masih ada media cetak. Media yang walaupun tidak secepat online dalam memberitakan sesuatu tetapi mampu lebih lengkap, lebih akurat, bisa dipertanggungjawabkan dan para jurnalisnya terikat kode etik jurnalistik. Artinya jika Anda ingin informasi yangt lebih valid, bukan berita bohong (hoax) maka media massa apalagi yang cetak itu merupakan garda terdepan dalam mengawal informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sebab orang bisa menangguk di air keruh di media sosial karena tidak ada prinsip-prinsip jurnalisme maupun kode etik jurnalistik yang jadi pembatas dalam memproduksi berita ataupun artikel. Makanya di era air bah informasi ini media massa harusnya menjadi benteng terakhir dalam mencari informasi yang lebih akurat dan tidak sekadar sensasi seperti ujaran kebencian. Selain itu operasi polisi yang berhasil menangkap para tersangka pengujar kebencian memang harus diuji di pengadilan nantinya benarkah demikian.

Jika benar tentu apresiasi layak diberikan kepada lembaga penegak hukum terdepan republik ini. Jika tidak maka tentu polisi harus menjelaskan kepada publik mengapa bisa terjadi salah tangkap misalnya. Soalnya di medsos juga berkembang bahwa bisa jadi polisi saat ini menjadi alat kekuasaan untuk menghentikan suara berbeda dari pemerintah dengan berbagai tuduhan kepada pihak yang oposisi misalnya. Jadi semua harus transparan agar produksi informasi tidak satu arah (dari polisi saja) sehingga berpeluang munculnya bias informasi. Semoga.***
KOMENTAR
Terbaru
Harimau Mangsa Ternak Warga

Jumat, 21 September 2018 - 13:30 WIB

Kantor UPTD Dukcapil Mandau Penuh Sesak

Jumat, 21 September 2018 - 12:53 WIB

Kesbangpol Gelar Penyuluhan Narkoba di Rupat

Jumat, 21 September 2018 - 12:30 WIB

ASN Tersangkut Narkoba Terancam Dipecat

Jumat, 21 September 2018 - 12:00 WIB

Bupati Hadiri Rakornas APKP

Jumat, 21 September 2018 - 11:40 WIB

Follow Us