Depan >> Opini >> Opini >>

Fakhrunnas MA Jabbar Budayawan, kandidat Doktor Komunikasi Politik di Universiti Selangor, Malaysia.

Edy Natar Pulang Membangun Negeri

26 Agustus 2017 - 11.56 WIB > Dibaca 864 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - BEGITU mendengar bahwa Brigjen TNI Edy Afrizal Natar Nasution –akrab dipanggil Edy Natar- bakal dilantik sebagai Danrem 031/Wirabima,  saya pun berupaya mencari nomor kontaknya. Bukan apa-apa, sudah lebih empat puluh tahun, saya tak berkomunikasi dengan sahabat masa belia dan masa sekolah di Kota Bengkalis dulu. Meskipun sebenarnya saya satu tahun lebih awal saat duduk di bangku SMP dibanding Edy dan usia kami pun terpaut dua tahun. Edy Natar lahir  di Bengkalis pada tanggal 29 Mei 1961.

Ketika saling bertelepon, saya masih merasakan aksen Melayu poghen (baca: medok) Edy, padahal dia sudah melanglangbuana ke mana-mana menjadi prajurit TNI. Pastilah Edy dan keluarganya selama berada di perantauan tak akan pernah luput berbicara dalam logat Melayu setidak-tidaknya saat di rumah. Apalagi, istrinya, Hj Suti Mulyati memang orang Melayu Bengkalis pula. Keluarga Edy dikaruniau tiga anak masing-masing Dyan Getmi Andhiny, M Tangguh dan Surya Rizal Perkasa.

Tiba-tiba kenangan masa belia di Bengkalis muncul dengan lembut. Kebetulan saja, dulu di tahun 1970-an, ayah saya Buya Mansur Abdul Jabbar (Alm)  dan ayah Edy, H Achmad Natar Nasution (Alm)  berteman baik. Ayah saya waktu menjabat sebagai Kepala Kantor Deppen dan ayah Edy sebagai Kepala Kantor Departemen Perdagangan Kabupaten Bengkalis.

Sering saya mengantar ayah dengan sepeda motor berkunjung dan bertamu di rumah Pak Natar, kami pun menggunakan kesempatan berbual atau bermain di usia belia itu. Begitulah keakraban terjalin secara alamiah dan tentu menyisakan kenangan yang selalu ada pada saat-saat tak terduga.

Oleh sebab itu, saya sebagaimana anak-anak belia di Bengkalis waktu itu mengenal juga keluarga Edy yang lain. Dari sebelas orang bersaudara di mana Edy merupakan anak nomor  tujuh, tak semuanya yang saya tahu namanya. Beberapa di antaranya Tarmizi Natar (birokrat Pemprov Riau), Neng Natar, Sri Emmy Natar (istri Asral Rachman), Emilia Natar, Yan Natar dan masih ada yang lain lagi.

Kedua orangtua Edy masing-masing H Natar dan emaknya, Hj Chairani Jadin memang berasal dari Rokan Hulu. Hj Chairani ini bersaudara dengan ibunda dari Septina Primawati (Ketua DPRD Riau sekarang). Biasalah, para birokrat masa itu sering berpindah tugas sesuai penugasan oleh atasannya. Seperti ayahku, Buya Mansur sebelumnya menjadi anggota BPH di Pekanbaru dan pernah menjadi Ketua Umum Partai Islam PERTI Provinsi Riau.  

Namun, disebabkan dinilai agak ‘membangkang’ dalam soal politik oleh  Gubernur Riau –masa itu- Brigjen TNI Arifin Achmad maka ayah pun ‘dibuang’ ke Pulau Bengkalis. Jadi Bengkalis boleh dipandang sebagai ‘tempat buangan’ bagi birokrat yang tak sehaluan dengan petinggi daerah.

Situasi kota Bengkalis masa itu begitu sunyi dan terpencil. Kendaraan roda empat hanya ada tiga buah saja masing-masing mobil dinas Bupati Bengkalis H Zalik Aris (Alm), mobil dinas Kejaksaan Negeri dan mobil unit penerangan Kantor Deppen yang biasa difungsikan untuk mengumumkan pesan-pesan dan informasi keliling bagi masyarakat dan pemutaran film malam hari di Lapangan Tugu- satu-satunya pusat keramaian- kala itu.

Ruas-ruas jalan di Kota Bengkalis lebih banyak dilintasi pengendara sepeda dan beca roda tiga yang mengantarkan penumpang ke mana-mana. Pelabuhan Bengkalis hanya berupa pelabuhan kayu. Lalu lintas perairan Sungai Siak dilayani oleh kapal-kapal berukuran baik kapal kayu maupun kapal besi. Lintasan Pekanbaru- Bengkalis bisa menelan waktu sampai 10-12 jam karena kecepatan kapal begitu pelan.

Edy begitu menamatkan bangku SMP tahun 1977, kemudian melanjutkan pendidikan SMA  di Kota Pekanbaru. Rumah orangtua Edy di Pekanbaru, kebetulan saja di Jalan Gatot Subroto, persis depan rumah dinas Danrem 031/Wirabima. Tentu rumah dinas itu pula yang bakal ditempati Edy Natar selama masa tugasnya.

Sejak kepindahan Edy ke Pekanbaru dan melanjutkan pendidikan di Akabri (1984) dan Seskoad (1998) pertemuan dan komunikasi kami pun semakin jarang. Saya hanya mendengar kabar jauh sebagian aktivitas Edy yang sepenuhnya berkarir sebagai prajurit TNI. Begitu saya menda­patkan biodata Edy dari adiknya, Yan Natar, tentulah membuat banyak orang menjadi bangga dan berdecak kagum akan aktivitas dan prestasi yang diraihnya. Edy sempat juga menamatkan kuliah di bidang ilmu politik tahun 1996.

Karir militer Edy diawalinya setelah menamatkan Akabri mulai posisi terendah sebagai Komandan Peleton tahun 1985 .Kemudian meningkat menjadi Komandan Kompi tahun 1991. Keduanya diembannya saat dalam perjuangan di Timor Timur. Aktivitas di medan perang pun dilakukannya pula tahun 2000 di perbatasan Papua-PNG.

Bakat kepemimpinan Edy semakin terang saat dia dipercaya menjadi Komandan Batalyon 515/Kostrad tahun 1998. Prestasi dan kepangkatan Edy pun mengantarkannya menjadi Komandan Distrik Militer (Dandim) di OKI tahun 2001.

Selanjutnya Edy Natar lebih banyak mendapat kepercayaan bertugas di markas komando. Tugas-tugas yang diembannya semakin mengarah pada urusan pengawasan atau inspektorat. Secara berturut-turut, Edy memangku tugas sebagai Inspektur Madya Itjen TNI (2003), Sespri Irjen TNI (2005), dan Kabag Anev Itjen TNI (2007)

Prestasi Edy makin mengantarkannya ke posisi Inspektur Utama Itjen TNI  tahun 2010 dan Sekretaris Itjen TNI (2012), serta  Inspektur Kodiklat TNI (2015). Posisi terakhir Edy sebelum ditugaskan sebagai Danrem 031 Wirabima adalah  Inspektur Umum Itjenad sejak 2015.

Tampak jiwa kepemimpinan Edy semakin menonjol. Hal ini di buktikannya lagi saat dia ditugas Pembinaan Atase Pertahan (India, Iran, Pakistan) pada tahun 2007, Wasrik Atase Pertahanan (Jerman, Prancis, Inggris, Spanyol) tahun 2010 serta Wasrik Atase Pertahanan ( Washington DC, New York, Brazilia)  pada tahun  2014.

Hampir sepanjang karirnya dalam kemi­literan dihabiskan Edy di luar kampung halamannya. Itulah sebabnya, menjelang masa akhir pengabdiannya sesuai batas usia yang ditetapkan dalam karir TNI, Edy sangat berbangga hati ditugaskan sebagai orang nomor satu di bidang kemiliteran. Kesempatan yang tak begitu lama ini makin menyemangatinya untuk menjelajah seluk-beluk Negeri Lancang Kuning yang pernah dinikmatinya semasa kecil dulu hingga masa-masa belia.

“Pastilah senang ditugaskan di Riau.  Selama ini kita bertugas di daerah orang memberikan yang terbaik, tentu di daerah sendiri kita pasti berusaha sebaik mungkin,” ungkap Edy Natar kepada sejumlah wartawan saat disambut petinggi Riau di VIP Lancang Kuning Bandara SSK II Pekanbaru, Rabu (16/8) lalu.

“Saya ditugaskan di Riau sebelum masa pensiun. Tentu alhamdulillah, dan saya akan berusaha dengan baik untuk daerah tempat lahir saya, sebagaimana yang sudah pernah saya lakukan di daerah orang,” ungkapnya.

Mengenai prioritas tugas yang bakal diembannya, Edy menyatakan akan memberikan perhatian terhadap masalah kebakaran hutan dan lahan di daerah ini. Tentu dirinya sebagai Dansatgas Karhutla segera mempelajari persoalan Karhutla di Riau.

“Bagaimanapun itu tanggungjawab kita. Dengan mempelajari masalah karhutla, ke depan bisa dicari formasi seperti apa untuk penanganan karhutla Riau. Saya kira apa yang sudah dilakukan Danrem lama tinggal mempelajarinya,” katanya.

Kepiawaian Edy dalam melakukan berbagai pendekatan sosial atau kemasyarakatan, tanpa basa-basi diperlihatkannya saat didaulat menjadi khatib Jumat di Masjid Korem, Jumat (18/8). Edy yang pernah mengenyam pendidikan agama Islam di madrasah sewaktu masa kecilnya di Bengkalis dulu, benar-benar membuktikan bahwa kehidupun religius selama ini memang tak pernah jauh dari dirinya. Kabarnya, Edy sudah terbiasa melakukan Salat Subuh berjamaah di mana pun dia ditugaskan.

Boleh jadi, sosok pemimpin yang religius seperti Edy Natar ini sangat dinantikan masyaraat Riau suatu ketika nanti. Sebab, Tanah Melayu Riau memang begitu dekat Islam sebagaimana menjadi prasyarat utama untuk dapat menjadi Melayu sejati.***
KOMENTAR
Terbaru
Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 20:47 WIB

Stan Lee Wafat, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 WIB

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah
Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 WIB

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 WIB

Follow Us