Dinamika Internal yang Membahayakan KPK

31 Agustus 2017 - 10.25 WIB > Dibaca 546 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Pansus angket KPK di DPR RI menghadirkan sesuatu yang cukup menyentak publik. Kehadiran Direktur Penyidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Brigadir Jenderal Aris Budiman di rapat Panitia Khusus Hak Angket DPR terhadap KPK, menimbulkan pro kontra. Ternyata selama ini, di KPK memang ada dinamika internal, bahkan friksi yang sangat kuat. Aris memaparkan “dapur” KPK dengan gamblang, bahkan “menelanjangi” institusi antirasuah, tempat ia kini bernaung itu.

Aris “dibawa” mantan Plt Ketua KPK Taufikurraman Ruki dari Mabes Polri sejak tahun 2015. Ruki sendiri saat itu kerap dituding tak lagi seideal saat pertama kali jadi ketua KPK. Apalagi, saat dia jadi Plt Ketua KPK, sedang ada kasus antara Polri dan KPK dalam kasus “cicak vs buaya” jilid II karena ada jenderal polisi yang sedang ditersangkakan KPK. Ruki dinilai tak berada di pihak KPK, tapi malah membela polisi. Ruki sendiri merupakan pensiunan polisi.

Kasus Aris yang “memihak” DPR dalam kasus ini kembali mengindikasikan keberpihakan yang berbeda itu. Aris memang datang tanpa seizin pimpinan KPK. Para pimpinan KPK tak mengakui pansus dan masih memperkarakan kasusnya di Mahkamah Konstitusi (MK). Kehadiran Aris di DPR, lalu menyampaikan hal-hal yang sangat sensitif di internal KPK tentu saja merupakan langkah kontroversial.

Entah berapa banyak yang seperti ini di internal KPK. Aris diduga tak sendirian. Kendati demikian, yang berada di pihak berseberangan dengannya jauh lebih banyak.

Yang jelas, friksi itu memang ada. Kali ini, dua kubu itu makin jelas. Kendati tak menyebut nama, namun indikasi jelas mengarah pada Novel Baswedan sebagai lawan internal Aris. Sebagai penyidik senior yang juga ketua wadah karyawan KPK, Novel memang beberapa kali bertentangan dengan Aris. Di masa Ruki, Novel disalahkan karena berani menentang atasannya. Tapi di masa pimpinan KPK saat ini, Novel mendapat pembelaan. Lalu Aris pun curhat ke DPR, yang kemudian menambah amunisi Pansus DPR untuk “menghajar” KPK.

Peneliti Indonesia Corruption Watch Donal Fariz bahkan dengan tegas menyebut bahwa di KPK kini banyak “kuda troya”. Ini adalah istilah lain untuk musuh dalam selimut. Mereka sengaja disusupkan ke KPK untuk menggerogoti KPK dari dalam. Boleh jadi bukan merujuk pada satu dua orang, tapi malah banyak dan terstruktur. Inilah yang kini sedang dihadapi KPK.

Dinamika internal ini tentunya akan membahayakan KPK. Banyak sekali rahasia dalam penyidikan dan penyelidikan yang bisa bocor ke publik jika ada “kuda troya” di dalamnya. KPK bisa digembosi dari dalam, bahkan bisa dihancurkan dari dalam. Koruptor pun tepuk tangan. Tapi KPK sudah banyak menghadapi dinamika internal ini dan mudah-mudahan tetap eksis memberantas korupsi. Tidak mudah goyah. Adanya operasi tangkap tangan (OTT) di Tegal membuktikan KPK masih eksis. Semoga saja eksistensi itu tetap berjalan selama koruptor masih banyak di negeri ini.***
KOMENTAR
Terbaru
Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 20:47 WIB

Stan Lee Wafat, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 WIB

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah
Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 WIB

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 WIB

Follow Us