Depan >> Opini >> Opini >>

Masrizal Al-Husaini Dosen LB Universitas Abdurrab, Ketua Divisi Kajian LPIP Riau

Makna Kurban bagi Kehidupan

31 Agustus 2017 - 10.26 WIB > Dibaca 1988 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Ibadah kurban yang pelaksanaannya dilakukan mulai 10, 11, 12, 13 di bulan Zulhijjah, hal ini disebut juga dengan ayyam at tasrik. Perkara ini merupakan ibadah yang menuntut syiar-syiar agama Allah SWT, yang akarnya merujuk terhadap pola kehidupan risalah yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS yang diformulasikan sebagai bentuk ubudiyah kepada Allah SWT.

Secara etimologis kurban berarti sebutan bagi hewan yang dikurbankan atau sebutan bagi hewan yang disembelih pada Hari Raya Idul Adha, maka tidak dibenarkan jika seseorang berpendapat menggantikan hewan kurban dengan mengumpulkan uang dibagikan kepada fakir miskin, dengan dalil untuk mengangkat ekonomi fakir miskin dengan mengumpulkan uang kurban kemudian diberikan kepada fakir miskin tersebut untuk mengangkat ekonomi dari kemiskinan. Sebab illat hukum dari kurban adalah harus ada hewan yang disembelih, maka tidak sah jika kurban tersebut jika diganti dengan uang tampa menyembelih hewan kurban.

Adapun defenisi secara fiqih, kurban adalah perbuatan menyembelih hewan tertentu dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT dan dilakukan pada hari yang telah ditentukan. Atau bisa juga didefenisikan dengan hewan hewan yang disembelih pada Hari Raya Idul Adha dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ibadah kurban disyariatkan pada tahun ketiga Hijrah, sama halnya dengan perintah zakat, dan Salat Hari Raya, landasan pensyariatannya dapat ditemukan dalam Alquran, Sunnah Nabi SAW dan Ijmak landasanya adalah hadis Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda: “Tidak ada satu amal pun yang dilakukan anak cucu Adam pada hari raya kurban yang lebih dicintai Allah SWT dibandingkan amalan menumpahkan darah hewan. Sesungguhnya ia (hewan hewan yang dikurbankan itu) pada hari kiamat kelak akan datang dengan diiringi tanduk, kuku, dan bulu bulunya. Sesungguhnya darah yang ditumpahkan (dari hewan tersebut), telah diletakkan Allah SWT di tempat yang khusus sebelum ia jatuh ke permukaan tanah. Oleh karena itu doronglah diri kalian untuk suka berkurban.” (HR. Muslim, at Tarmizi, Ibnu Majah dan Hakim).

Dalam riwayat lain Nabi Muhammad SAW bersabda: “Perbesarlah hewan kurban kalian karena sesungguhnya ia akan menjadi kendaraan kalian melintas di jembatan (shiratath al mustaqim) kelak.” (HR Ibnu Majah).

Adapun hikmah disyariatkanya berkurban adalah untuk mengekspresikan rasa syukur kepada Allah SWT terhadap nikmat nikmat-Nya yang beraneka ragam. Demikian juga rasa syukur masih diberi kesempatan hidup dari tahun ke tahun, serta rasa syukur telah diampuni dosa-dosa yang dilakukan, baik dosa yang disebabkan pelanggaran terhadap perintah-Nya maupun ketidak optimalan dalam menjalankan perintah-Nya. Di samping itu, berkurban juga disyariatkan dalam rangka melapangkan kondisi keluarga yang berkurban dan pihak pihak lainnya.

Mencermati kilas balik dari perjalanan historis Nabi Ibrahim AS setidaknya dalam tulisan ini terdapat empat aspek penting yang perlu diteladani dalam memahami Alquran dalam setiap aktivis gerak kehidupan.

Pertama, aspek falsafah hidup, yaitu falsafah hidup Nabi Ibrahim AS yang berpegang teguh pada prinsip tauhid kepada Allah SWT serta menempatkan sistem nilai yang tertinggi melebihi bulan, bintang, matahari, alam jagat raya bahkan keluarganya sendiri. Bertauhid berarti tunduk hanya kepada Allah SWT serta menerima konsekwensi pesan amal atau aturan hidup dari Allah SWT secara kaffah (sempurna) serta ikhlas, sikap sedemikian telah ditunjukan oleh Nabi Ibrahim As dan keluarganya, khususnya pada kejadian yang sangat monumental ketika melaksanakan perintah penyembelihan buah hatinya sendiri yakni Nabi Ismail AS.

Kedua, hukum pelaksanaan kurban, para ulama fiqih (fuqaha) berbeda pendapat tentang hukum penyembelihan hewan kurban. Perbedaan ini berasal dari perbedaan cara mereka memahami nash nas Alquran yang ada. Perbedaan ini berasal dari perbedaan cara mereka memahami nas nas yang ada, apakah hukum penyembelihan itu wajib atau sunnah. Sebagian berpendapat hukum berkurban wajib dengan alasan perintah berqurban dalam Alquran Allah SWT berfirman: “Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berqurbanlah” (QS al-Kautsar: 2), kemudian dalil menjadi kewajiban menjadi rujukan Mazhab Hanafiyah bahwa; “berkurban hukumnya wajib satu kali setiap tahun bagi seluruh orang yang menetap di negerinya.” Menurut mazhab tersebut hukum berkurban adalah wajib, sementara menurut dua orang muridnya yaitu Abu Yusuf dan Muhammad Ibnu Hasan asy Syaibani hukumnya sunnah muakkad.

Dalil yang dikemukakan dalam Mazhab Hanafi dalam mewajibkan kurban adalah sabda Nabi Muhammad SAW: “Siapa yang dalam kondisi mampu lalu tidak berkurban, maka janganlah mendekati tempat solat kami.” (HR.Ahmad dan at Tarmizi). Dan dalam dalil yang terdapat dalam Alquran Surah al-kautsar. Menurut  mereka pendapat (qaul) seperti ini adalah ancaman yang seperti ini tidak akan diucapkan Nabi Muhammad SAW, terhadap orang yang meninggalkan suatu perbuatan yang tidak wajib (Ibnu Humam, Fathul Qhadir Li Ibnu Humam Jilid III Beirut: Dar al Fikri, 2007. h. 223). Kecuali pendapat Imam as Syafi’i hukum berkurban menjadi sunnah muakkad tidak sampai mewajibkan dengan dalil dari hadis riwayat Imam at Tarmizdi, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya kurban adalah wajib bagiku dan sunnah bagi kamu.” (HR. Muslim). (Abi Ishak as-Syirazi, al-Muhazzab Fi Fiqh Imam asy Syafi’i Jilid I Beirut Dar al Fikr, 2001. h. 230).

Ketiga, dalam Alquran Surah al-Kausar (108) ayat: 1-2 ditegaskan setelah disebutkan kenikmatan yang besar, Allah SWT memerintahkan kepada hambanya untuk mendirikan salat dan berkurban sebagai bukti raya syukur kepada Allah SWT atas nikmat-nikmat tersebut. Kurban pada hakikatnya adalah tidak sekadar mengalirkan darah binatang sembelihan, tidak sekadar memotong hewan kurban. Namun  lebih dari itu, berkurban berarti sebuah ketundukan seorang hamba secara total terhadap perintah Allah SWT dan sikap menghindar dari hal yang dilarangnya. Setiap helai bulu hewan kurban akan dibalas satu kebaikan. Nabi Muhammad SAW bersabda: Setiap helai rambut hewan kurabn adalah satu kebajikan. Lalu sahabat bertanya: kalau bulu bulunya. Beliau menjawab: setiap helai bulunya juga satu kebaikan (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

Di samping itu berkurban adalah satu bentuk ibadah yang ditentukan waktunya secara khusus yaitu pada Hari Raya Kurban. Itulah sebabnya ibadah kurban yang dimaknai secara harfiah adalah taqarub ilallah, pada hakikatnya dilakukan dalam rangka merealisir nilai nilai ketauhidan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bahkan hal tersebut menjadi motivasi utama dalam berkurban. Secara simbolik kurban dengan menyembelih hewan dengan mengalirkan darah dari tubuh hewan sembelihan dapat bermakna sebagai isyarat agar manusia menyucikan dirinya dari sifat sifat hewani yang menyelinap di balik jasadnya.

Sifat sifat tamak, serakah, iri hati, dengki, hasad, egois, dan perkelahian adalah sifat sifat hewani yang menodai citra kemulian manusia sebagai khalifah Tuhan di muka bumi, sifat sifat yang demikian itu bukan hanya merugikan diri sendiri tetapi juga akan merusak tatanan kehidupan bermasyarakat secara umum. Karena itu pelaksanaan kurban dewasa ini seharusnya dapat memberikan hikmah di tengah fenomena hidup hewanisme yang berjangkit di sekitar masyarakat kita.

Uraian di atas menunjukan bahwa meskipun menyembelih hewan kurban hukumnya sunnah, namun hikmahnya sangat besar sebagai pendidikan kepedulian sosial dan media ukhwah persaudaraan antara golongan kaya dan miskin. Sudah sepantasnya golongan orang orang yang memiliki kemampuan selalu memperhatikan orang yang tidak memiliki kemampuan selalu memperhatikan orang yang tidak mampu bukan hanya dalam batas keperluan pokok, tetapi juga dalam memenuhi keperluan penyempurnaan baik makanan, minuman, kesehatan dan pendidikan, hikmah berbagai daging kurban hendaknya menjadi teladan dalam kehidupan selanjutnya, tidak hanya di Zulhijjah akan tetapi di luar bulan tersebut.

Karena kurban bukan untuk mengikuti acara seremonial, upacara dogma, spiritual, di masyarakat atau pelaksanaan penyembelihan hewan belaka untuk dibagi-bagikan kepada fakir miskin, namun yang lebih penting lagi menyembelih karakter sifat dari hewan tersebut yang bercokol dalam diri kita, agar lebih arif dan bijaksana, dengan demikian kurban yang kita lakukan benar benar menjadi sarana (wasilah) untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan tentunya juga dalam lingkungan sosial kemasyarakatan. Semoga.***
KOMENTAR
Terbaru
Gali Informasi Kantibmas, Kapolres Gelar Silaturahmi

Kamis, 22 November 2018 - 17:30 WIB

Sekda Hadiri Paripurna Pengesahan KUA-PPAS

Kamis, 22 November 2018 - 17:00 WIB

Ratusan Guru Upgrade Pengetahuan tentang Generasi Z

Kamis, 22 November 2018 - 16:30 WIB

Bupati Minta Imigrasi Tingkatkan Pengawasan Orang Asing

Kamis, 22 November 2018 - 16:00 WIB

Grand Ballroom Novotel Bisa Tampung 2 Ribu Tamu

Kamis, 22 November 2018 - 15:37 WIB

Follow Us