Kurban dan Rohingya

4 September 2017 - 13.30 WIB > Dibaca 447 kali | Komentar
 

Melalui ibadah kurban  terutama bagi yang melaksanakan ibadah kurban– kita diajarkan agar memperhatikan masyarakat yang tidak mampu, yang sedang berada dalam kesulitan serta hidup serba kekurangan.

Ibadah kurban menumbuhkan dan menanamkan semangat kebersamaan (solidaritas) dan rasa simpati terhadap orang-orang yang kurang beruntung. Dengan ibadah ini, diharapkan orang-orang yang mampu rela dan ikhlas mengorban sebagian dari kekayaan yang ia miliki untuk membantu saudara-saudaranya yang tidak berpunya. Dengan terbangunnya kesadaran dan semangat kebersamaan (solidaritas sosial) tentu saja kesenjangan sosial yang terdapat di tengah masyarakat dapat dikurangi.

Dampak yang lebih jauh dari tumbuhnya semangat ini adalah akan berkurangnya kriminalitas sebagai akibat dari sebuah kemiskinan dalam kehidupan. Islam sangat menganjurkan kita untuk rela berkorban dalam bentuk apa saja untuk membantu saudara-saudara kita.

Ibadah kurban hanyalah salah satu bentuk ibadah sosial dan simbol yang diajarkan oleh Islam bagaimana seharusnya kita mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah. Dengan kekayaan, bukan seharusnya kita menjauhkan diri dari orang-orang miskin, tetapi dengan kekayaan kita diharapkan dekat dengan mereka. Pada saat sekarang ini, sebagian dari orang-orang yang berpunya telah lupa tanggung jawab mereka terhadap orang-orang miskin, dan tidak jarang sikap mereka dapat menimbulkan iri hati dan kecemburuan sosial. Ibadah kurban mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya kita berbagi kenikmatan dengan orang-orang yang tidak mampu, serta rela mengorban sesuatu yang kita miliki untuk orang lain.  

Ibadah kurban adalah ibadah yang sarat dengan nilai yang harus direnungkan oleh kaum muslimin. Meskipun ibadah ini bukan merupakan ibadah yang diwajibkan oleh Allah bagi umat-Nya, tetapi bagi orang-orang yang mampu melaksanakannya, maka hendaklah menunaikannya.

Dengan demikian, berkurban bukan memamerkan kemampuan kepada orang lain, melainkan menunjukkan sikap yang rela dan ikhlas berbagi dengan orang lain.

Umat Islam bagaikan satu tubuh, jika satu bagiannya sakit, maka bagian lainnya akan merasakan.

Saat ini, umat Islam di Rohingya mengalami penyiksaan. Mereka diusir dari kampung halamannya, yang sudah ratusan tahun mereka huni. Bahkan sebagian dari mereka, ada yang dibunuh secara massal. Aksi kebiadaban terhadap umat Islam di Rohingya, Myanmar, membuat umat Islam di belahan dunia lain pun merasakan. Umat Islam bagaikan satu tubu, jika satu bagian tubuh sakit, maka bagian lainnya akan merasakan.

Turki langsung merespon aksi biadab yang dialami umat Islam di Myanmar ini. Demikian juga Pemerintah Indonesia, merespon dengan cara Menteri Luar Negeri, Retno Lestari Priansari Marsudi, langsung meninjau ke lokasi.

Namun semua respon hanya sebatas doa. Padagal doalah selemah-lemah iman. Tak ada yang berani membantu mereka. Ibadah kurban kita baru sebatas menggugah doa, belum aplikatif, bergerak membantu.***


KOMENTAR
Terbaru
Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:30 WIB

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 WIB

Lima Keuntungan Menggunakan  Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 WIB

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 WIB

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 WIB

Follow Us