Depan >> Opini >> Opini >>

Bagus Santoso - Anggota DPRD Provinsi Riau

Hikmah Heboh Bakso Mekar Viral di Medsos

4 September 2017 - 13.34 WIB > Dibaca 1011 kali | Komentar
 
Hikmah Heboh Bakso Mekar Viral di Medsos

Para pedagang bakso mengeluh atas anjloknya hasil jualan bakso sejak munculnya pemberitaan terkait publis BBPOM terhadap Bakso Mekar di Pekanbaru.

Seluruh pedagang bakso jadi susah dan sedih atas usaha yang digeluti beratahun- tahun tiba-tiba terjun bebas omset penjualannya.

Walaupun sudah ada surat dari Dinas Kesehatan Pekanbaru untuk membuka kembali usaha bakso mekar tetapi tidak semudah membalik tangan, perlu waktu panjang untuk memulihkannya.

Pedagang bakso Pekanbaru sangat terpukul dan menyatakan menderita kerugian besar. Setidaknya sudah 4 hari mereka dibuat kelimpungan. Sepi pengunjung dan menjadi pembicaraan bernada miring.

Semuanya berpunca dari bocornya surat  BPPOM Pekanbaru perihal rekomendasi penghentian sementara kegiatan warung bakso mekar yang dikeluarkan pada 23 Agustus 2017. Entah bagaimana ceritanya surat yang belum saatnya untuk dipublikasikan untuk kepentingan publik-viral di dunia maya media sosial (Medsos) seperti WA dan Facebook. Surat dari BPPOM yang baru pada proses pemberitahuan hasil uji laboratorium terhadap sampel pangan siap saji sebenarnya hanya ditujukan ke Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru untuk uji tindak lanjut.

Obyek uji laboratorium yang diambil sampelnya Bakso Mekar yang membuka usaha di Jalan Achmad Dahlan.  Hasil pengujian BPPOM menyatakan terdeteksi mengandung fragmen DNA spesific parcine (babi). Langkah BPPOM jadi hiruk pikuk, sebab tercatat belum sampai sebulan pemberitaan di media cetak dan elektronik BPPOM menutup usaha kedai kopi legendaris Kimteng dan akhirnya buka kembali.

Kontan saja viralnya bocoran surat BPPOM Tidak hanya menjadi bencana pemilik usaha Bakso Mekar tetapi berdampak fatal ke seluruh pedagang bakso di Pekanbaru. Data sementara yang di peroleh jumlah pedagang bakso diperkirakan sekitar 567 orang yang memiliki usaha bakso dan mie ayam.

Terang saja, meski hanya sepucuk surat membuat panik usaha yang terkait dengan warung bakso. Dampaknya begitu luar biasa, sebab mata rantai warung bakso saling terkait kelindan, tidak berdiri sendiri-sendiri. Dari mulai penjual daging, tepung, bumbu, penyedia jasa mesin gilingan terus pemilik warung bakso serta pelanggan kuliner bakso.

Dari 567 pedagang bakso rata-rata adalah pelaku usaha kecil menengah. Jelas belum mampu menyediakan daging segar memotong sapi sendiri. Hal yang sama mereka juga belum memiliki mesin gilingan sendiri. Itu perlu modal besar. Kendati demikian pelaku usaha ini tidak pernah merepotkan pemerintah seperti minta bantuan dana APBD. Mereka pelaku usaha yang mandiri malahan boleh disebut membantu tegaknya perekonomian pemerintah.

Secara logika pedagang bakso yang menggantungkan hidupnya dari jualan bakso tidak mungkin berani mencampur daging celeng, mereka beragama Islam dan tahu persis daging halal dan haram.

Terlepas dari semua yang sudah terjadi semua pihak dalam bertindak harus arif dan bijak setiap melakukan tindakan. Begitu juga para pedagang bakso dituntut lebih berhati-hati menjaga kualitas dan kehalalannya. Serta melengkapi syarat perizinan yang ditentukan oleh pemerintah.

Begitu juga pelaku usaha jasa penggilingan mesti juga menjaga komitmen, tidak mencampur atau menggunakan alat penggilingan untuk daging halal dan non halal. Dan cara ini bagian dari komitmen pelayanan.

Agar tidak berlarut-larut, paguyuban dan pedagang bakso mengambil langkah cepat mengadakan konsultasi dan pertemuan dengan semua pihak terkait. Hari kamis (31/8) lalu  para pedagang bakso mengadakan acara temu sedulur di Warung Bakso Mekar Jalan Ahmad Dahlan yang dibanjiri pengurus dan anggota Paguyuban Masyarakat Solo Riau ( PAMOR) berbaur dengan pelanggan yang setia Bakso Mekar.

Ternyata isu miring tentang usaha bakso sering terjadi. Tragisnya karena tidak ada pemberitaan yang seimbang, tidak ada pihak yang mengulurkan tangan pembinaan serta advokasi hukum mereka menanggung derita menutup usahanya.

Contoh tahun 90-an, diisukan bakso cacing. Bahwa ada pedagang bakso yang menuntut pesugihan menaruh cacing supaya kuahnya sedap.  Karena tidak ada pembelaan dan pemberitaan yang berimbang akhirnya pemilik warung bakso menutup usahanya dan menanggung beban moral hingga sakit. Padahal fakta yang terjadi akibat ulah pemerasan preman. Setiap hari tukang bakso diminta duit dan makan bakso gratis. Suatu hari karena tukang bakso tidak sanggup lagi sang preman sengaja memasukkan cacing ke baskom lalu difitnah di sebarkan bakso cacing.

Menanggapi persoalan pedagang bakso, penulis memberikan motivasi untuk tetap istikomah serta terus berikhtiar supaya usaha kembali pulih.Juga diagendakan pertemuan besar pedagang bakso akan dikemas menjadi iven yang menarik yaitu festival kuliner bakso.***


Bagus Santoso, Ketum Paguyuban Masyarakat Solo Riau (Pamor), yang juga Anggota DPRD Provinsi Riau



KOMENTAR
Terbaru
Kakek 60 Tahun Nikah dengan Remaja Cantik Pakai Mahar Rp300 Ribu Saja
Yang Dielus Gubernur Ganjar Pranowo Ini Bukan Hamil Biasa
Angin Reshuffle Kabinet Berhembus Lagi

Jumat, 24 November 2017 - 00:28 WIB

Pemerintah Bangun Ribuan Rumah Seharga Rp90 Juta, Silakan Pakai
Tahu Ga..., Setya Novanto Itu Pernah Jadi Sopir

Jumat, 24 November 2017 - 00:02 WIB

Follow Us